Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tangerang berhasil mengumpulkan donasi sebesar Rp1 miliar dari jajaran Aparatur Sipil Negara (ASN) di wilayahnya untuk membantu korban gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Dana tersebut bersumber dari pemotongan Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP) yang disumbangkan secara sukarela oleh para pegawai di lingkungan Pemkab Tangerang.
Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kabupaten Tangerang Muhamad Hidayat mengungkapkan, pengumpulan donasi tersebut dilakukan bersamaan dengan pembayaran gaji dan TPP bulan ini. Hasil penggalangan dana dari sumbangan sukarela seluruh ASN diperkirakan mencapai angka Rp1 miliar.
“Kita sudah mulai pembayaran gaji dan TPP bulan ini kan. Sumbangan sukarela para pegawai yang kita kumpulkan bulan ini jumlahnya mungkin akan mencapai Rp1 miliar,” ujar Hidayat pada Rabu (9/9/2026).
Bantuan yang terkumpul berupa uang tunai dan rencananya akan disalurkan melalui Palang Merah Indonesia (PMI) pada September 2026 ini. Pengalihan melalui PMI dipilih mengingat jarak geografis yang cukup jauh antara Kabupaten Tangerang dengan lokasi bencana di NTT, sehingga distribusi akan lebih efektif melalui lembaga kemanusiaan yang sudah memiliki jaringan di lapangan.
Selain bantuan dari pemotongan TPP ASN, Pemkab Tangerang juga berencana menyalurkan bantuan tambahan bersumber dari Belanja Tidak Terduga (BTT) pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Perubahan (APBD-P) 2026. Namun, jumlah pasti donasi melalui jalur BTT belum dapat dipastikan karena masih menunggu pengesahan APBD-P 2026 pada November mendatang.
“Sama, dengan uang tunai juga. Namun jumlahnya, kata Pak Bupati melihat kemampuan keuangan daerah. Jadi belum ditetapkan,” tambah Hidayat.
Gempa Flores: Bencana Terparah di NTT dalam Dekade Terakhir
Gempa bumi bermagnitudo Mw7,8 mengguncang wilayah lepas pantai Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, pada 15 Agustus 2026 pukul 05.58 WITA. Gempa yang terjadi pada kedalaman 10 kilometer tersebut memicu tsunami dengan ketinggian mencapai 1,61 meter di beberapa wilayah pesisir.
Berdasarkan data Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), gempa tersebut menelan korban jiwa sebanyak 135 orang meninggal dunia dan lebih dari 1.700 orang mengalami luka-luka. Kerusakan yang ditimbulkan juga sangat masif, dengan lebih dari 98.000 rumah mengalami kerusakan, termasuk lebih dari 26.000 rumah yang rusak berat.
Lebih dari 179.000 orang terpaksa mengungsi akibat gempa dan gempa susulan yang terus berlanjut. BMKG mencatat lebih dari 10.000 kali gempa susulan, dengan yang terbesar berkekuatan Mw6,1. Banyak rumah sakit di wilayah terdampak juga mengalami kerusakan, sehingga pasien harus dirawat di luar ruangan.
Keadaan darurat selama 14 hari ditetapkan di Nusa Tenggara Timur seiring dimulainya upaya penyelamatan dan distribusi bantuan. Gempa ini merupakan yang terkuat di wilayah NTT sejak gempa bumi dan tsunami Flores tahun 1992.
Dampak Sosial dan Ekonomi
Dampak gempa Flores tidak hanya terasa dari sisi korban jiwa dan kerusakan fisik, tetapi juga menghantam sendi-sendi kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat NTT. Ribuan usaha kecil dan menengah di wilayah terdampak mengalami kerusakan, sementara sektor pertanian dan perikanan yang menjadi tulang punggung perekonomian masyarakat setempat juga terganggu akibat kerusakan infrastruktur dan perubahan bentang alam.
Pusat perbelanjaan, pasar tradisional, dan ruko di beberapa kecamatan mengalami kerusakan parah. Aktivitas ekonomi lumpuh total dalam beberapa minggu pertama pasca-gempa, memperparah kondisi warga yang sudah kehilangan tempat tinggal dan mata pencaharian.
Di sektor pendidikan, ratusan sekolah di Flores dan Sumba mengalami kerusakan, memaksa proses belajar mengajar dilakukan di tenda pengungsian atau ruang terbuka. Kondisi ini menambah beban bagi anak-anak korban gempa yang harus beradaptasi dengan situasi darurat sambil tetap melanjutkan pendidikan.
Solidaritas Nasional
Gelaran aksi solidaritas dari berbagai daerah di Indonesia terus berdatangan untuk membantu para korban. Kabupaten Tangerang menjadi salah satu daerah yang turut bergerak cepat dalam menggalang bantuan kemanusiaan.
Keputusan Pemkab Tangerang untuk menghimpun donasi dari TPP ASN bukan yang pertama kali. Sebelumnya, pemerintah daerah juga pernah melakukan penggalangan dana serupa untuk korban bencana di berbagai wilayah Indonesia, termasuk gempa di Cianjur.
Dari sisi pemerintah pusat, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengerahkan ribuan personel gabungan yang terdiri dari TNI, Polri, Basarnas, PMI, dan relawan untuk membantu operasi pencarian dan pertolongan. Evakuasi dilakukan secara intensif, meskipun dihadapkan pada tantangan geografis dan ribuan gempa susulan yang terus mengguncang wilayah tersebut.
Dengan terkumpulnya dana Rp1 miliar dari ASN ditambah rencana bantuan dari APBD-P, diharapkan dapat meringankan beban masyarakat NTT yang terdampak bencana. Bantuan ini menjadi bagian dari solidaritas nasional yang menunjukkan kepedulian masyarakat di berbagai daerah terhadap sesama yang tertimpa musibah.
Sementara itu, proses rehabilitasi dan rekonstruksi di NTT masih berlangsung hingga kini. Pemerintah tengah menyusun rencana pembangunan kembali rumah hunian tahan gempa bagi ribuan warga yang kehilangan tempat tinggal. Proses ini diperkirakan membutuhkan waktu bertahun-tahun dan dukungan pendanaan yang besar dari berbagai sumber.
Sumber: TangerangNews.com | Wikipedia — Gempa bumi Flores 2026
