Delapan puluh gerobak dagang baru berjajar di halaman kantor Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Tangerang, Kamis (22/10/2026). Gerobak-gerobak itu bukan untuk dipamerkan, melainkan diserahkan kepada warga yang selama ini berjualan dengan peralatan seadanya. Setiap penerima tidak hanya membawa pulang gerobak, tetapi juga tambahan modal usaha Rp1 juta.
Penyerahan itu menjadi bagian dari rangkaian Hari Jadi ke-394 Kabupaten Tangerang sekaligus peringatan Hari Santri Nasional 2026. Bupati Tangerang Moch. Maesyal Rasyid menyebut bantuan tersebut sebagai bagian dari pendistribusian program BAZNAS di daerah itu, yang tahun ini diarahkan tidak hanya untuk kebutuhan konsumtif, tetapi juga untuk menumbuhkan usaha kecil warga.
Bukan sekadar gerobak kosong
Dalam keterangannya, Maesyal menjelaskan bahwa puluhan gerobak diserahkan kepada masyarakat yang membutuhkan, dengan tambahan modal Rp1 juta per orang. Jenis usaha yang akan dijalani penerima beragam, mulai dari berjualan es teh, gorengan, bakso, cilok, hingga dagangan lain yang sesuai dengan keseharian warga.
“Alhamdulillah, hari ini bersama BAZNAS kita menyerahkan 80 gerobak usaha. Selain gerobak, masing-masing juga mendapatkan modal Rp1 juta. Ada yang akan jualan es teh, gorengan, bakso, cilok dan usaha lainnya,” kata Maesyal, dikutip dari Lensametro.com.
Kombinasi gerobak dan modal tunai itu penting. Gerobak menyelesaikan persoalan alat produksi, sementara modal Rp1 juta memberi ruang bagi penerima untuk membeli bahan baku pertama, gas, atau perlengkapan kecil lain yang sering menjadi penghambat saat seseorang baru memulai usaha. Tanpa keduanya, bantuan alat sering berhenti sebagai barang yang tidak terpakai.
Maesyal berharap bantuan tersebut membuat penerima mampu memulai usaha dan lebih mandiri secara ekonomi, sekaligus meningkatkan kesejahteraan keluarga mereka. “Mudah-mudahan mereka bisa maju, sukses dan sejahtera sehingga dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari,” ujarnya.
Santunan untuk 394 anak yatim dan dhuafa
Pada kegiatan yang sama, BAZNAS Kabupaten Tangerang juga menyalurkan santunan kepada sekitar 394 anak yatim dan kaum dhuafa. Bantuan diberikan dalam bentuk paket sembako serta uang tunai. Angka 394 sendiri dipilih mengikuti usia Kabupaten Tangerang yang tahun ini memasuki 394 tahun.
Bagi warga penerima, pola bantuan seperti ini terasa berbeda karena menyentuh dua lapis kebutuhan sekaligus: kebutuhan dasar bagi kelompok rentan, dan alat kerja bagi warga usia produktif yang ingin membuka usaha. Pemerintah daerah menilai dua pendekatan itu tidak bisa dipisahkan jika tujuannya adalah menurunkan beban sosial secara bertahap.
Zakat yang diputar menjadi alat kerja
Ketua BAZNAS Kabupaten Tangerang H. Achmad Nawawi menjelaskan, penyaluran bantuan merupakan bagian dari upaya lembaganya mengoptimalkan dana zakat. Prinsipnya, dana yang dihimpun tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan dasar mustahik, tetapi juga membuka peluang usaha dan meningkatkan taraf hidup penerima manfaat.
“Penyaluran bantuan tersebut merupakan bagian dari upaya BAZNAS mengoptimalkan dana zakat. Tujuannya agar tidak hanya membantu masyarakat memenuhi kebutuhan dasar, tetapi juga membuka peluang usaha dan meningkatkan taraf hidup penerima manfaat,” kata Nawawi.
Nawawi juga menyampaikan apresiasi kepada para muzaki yang telah mempercayakan zakat, infak, dan sedekahnya melalui BAZNAS Kabupaten Tangerang. Menurutnya, dukungan muzaki memiliki peran penting dalam menghadirkan manfaat bagi para mustahik, terutama ketika dana tersebut diarahkan menjadi modal produktif.
Dalam skema zakat produktif, dana tidak habis sekali pakai. Gerobak dan modal awal diharapkan menghasilkan pendapatan harian yang berputar, sehingga penerima bisa kembali memenuhi kebutuhan sendiri tanpa bergantung pada bantuan berikutnya. Namun skema ini juga menuntut pendampingan, karena usaha kecil rentan berhenti pada bulan-bulan pertama jika penjualan belum stabil.
Momentum Hari Jadi ke-394
Rangkaian kegiatan tersebut mengusung tema “Terus Bergerak, Semakin Dampak” — semangat yang diterjemahkan BAZNAS dan Pemkab Tangerang menjadi penyaluran bantuan usaha serta santunan bagi kelompok rentan. Bagi pemerintah daerah, momen hari jadi dipakai sebagai titik untuk mengevaluasi sejauh mana program sosial menyentuh warga di tingkat bawah.
Kabupaten Tangerang sendiri memiliki lanskap ekonomi yang lebar: kawasan industri besar berdampingan dengan permukiman padat dan sentra-sentra usaha kecil di kecamatan. Di banyak titik, warung, gerobak, dan pedagang keliling menjadi lapisan ekonomi yang paling dekat dengan warga, sekaligus yang paling mudah terguncang ketika harga bahan baku naik atau lokasi berjualan ditertibkan.
Karena itu, bantuan berbentuk gerobak punya nilai praktis. Alat dagang yang layak memungkinkan pedagang beroperasi lebih lama, menjaga kebersihan dagangan, dan menampung lebih banyak barang. Bagi penerima yang sebelumnya berjualan di atas meja lipat atau meminjam peralatan orang lain, gerobak baru berarti penghematan biaya harian yang bisa dialihkan ke modal.
Pekerjaan rumah setelah gerobak diserahkan
Meski demikian, penyerahan gerobak bukan akhir dari persoalan. Ada sejumlah hal yang menentukan apakah bantuan ini berlanjut menjadi usaha yang bertahan. Pertama, lokasi berjualan. Pedagang kecil di Kabupaten Tangerang kerap menghadapi persoalan penertiban, sehingga kepastian tempat usaha menjadi penentu. Kedua, pencatatan keuangan sederhana, agar modal Rp1 juta tidak habis untuk kebutuhan konsumsi di tengah jalan.
Ketiga, akses pasar dan kemitraan. Beberapa program pemberdayaan di daerah lain menunjukkan hasil lebih baik ketika penerima dihubungkan dengan pembeli tetap, misalnya kantin instansi, pasar desa, atau acara-acara warga. Tanpa jaringan itu, pedagang baru harus membangun pelanggan dari nol di tengah persaingan yang sudah rapat.
Karena itu, warga berharap program semacam ini tidak berhenti pada seremonial penyerahan. Pendampingan ringan, misalnya pelatihan higienitas dagangan dan cara menghitung untung, dinilai lebih bermanfaat dibanding bantuan tambahan yang sifatnya sesaat. Harapan itu sejalan dengan tema hari jadi yang menekankan dampak berkelanjutan.
Harapan warga
Bagi penerima, nilai bantuan ini kerap diukur dengan ukuran sederhana: apakah besok mereka bisa mulai berjualan tanpa bingung memikirkan alat dan modal. Seorang penerima mengaku sebelumnya hanya menumpang gerobak milik tetangga dan harus berbagi hasil. Dengan gerobak sendiri, jam berjualan bisa diperpanjang dan keuntungan tidak lagi terbagi.
Pemerintah Kabupaten Tangerang menyatakan kegiatan serupa akan terus dilakukan bersama BAZNAS, dengan sasaran warga yang benar-benar membutuhkan. Bagi masyarakat yang ingin ikut serta, penyaluran zakat melalui BAZNAS Kabupaten Tangerang disebut menjadi salah satu jalur yang dikelola lembaga resmi daerah.
Sementara itu, bagi warga yang hendak mengajukan bantuan usaha, disarankan memantau informasi resmi dari BAZNAS Kabupaten Tangerang dan pemerintah kecamatan setempat, agar tidak tertipu pihak yang mengatasnamakan program bantuan. Pendataan penerima umumnya dilakukan melalui usulan kelurahan dan desa, bukan melalui pendaftaran perorangan di media sosial.
Dengan 80 gerobak yang kini berpindah tangan, ujian sesungguhnya baru dimulai setelah acara selesai: apakah gerobak-gerobak itu benar-benar berputar setiap hari, atau hanya menjadi kenangan seremoni di halaman kantor.
Sumber: Lensametro.com
