Featured image of post BRIN dan KIST Korea Kembangkan Smart Greenhouse Tropis, Laboratorium Hidupnya Ada di Serpong

Foto hanya ilustrasi

BRIN dan KIST Korea Kembangkan Smart Greenhouse Tropis, Laboratorium Hidupnya Ada di Serpong

Pertanian cerdas berbasis teknologi kembali jadi sorotan di Tangerang Raya. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Korea Institute of Science and Technology (KIST) mempererat kerja sama riset smart greenhouse atau rumah kaca pintar yang dirancang khusus untuk wilayah beriklim tropis. Forumnya digelar di Kawasan Sains dan Teknologi (KST) B.J. Habibie, Serpong, Tangerang Selatan, melalui Seminar Internasional BRIN-KIST ODA bertema “International Joint Cooperation and Future Partnership: Strengthening Indonesia-Korea Collaboration in Smart Greenhouse Technology, Research, and Innovation”.

Bagi warga Serpong dan sekitarnya, agenda ini bukan sekadar pertemuan akademik. Kawasan Puspiptek di Serpong memang sejak lama jadi salah satu pusat riset nasional, dan kini kawasan itu kembali menjadi ruang pertemuan peneliti dua negara yang membahas cara menanam pangan dengan bantuan sensor, kecerdasan buatan, dan pengendalian iklim.

Bukan Sekadar Bangun Fasilitas

Kepala Pusat Riset Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan (PRSIMB) BRIN, Nugroho Adi Sasongko, menegaskan bahwa kerja sama lewat skema Official Development Assistance (ODA) tidak berhenti pada pembangunan fisik fasilitas smart greenhouse. Menurutnya, program ini justru menjadi instrumen untuk memperkuat kapasitas sumber daya manusia, alih pengetahuan, dan pengembangan teknologi yang selaras dengan karakteristik iklim Indonesia.

“Kerja sama ini bukan sekadar transfer hardware, tetapi yang lebih penting adalah transfer kapabilitas,” ujar Nugroho dalam keterangan resminya.

Ia menyebut peresmian fasilitas BRIN-KIST Smart Greenhouse di Cibinong sebagai tonggak penting dalam kemitraan kedua negara. Namun, ia menekankan bahwa keberhasilan kolaborasi semacam ini tidak diukur dari megahnya bangunan, melainkan dari kemampuan membangun kapabilitas riset secara menyeluruh. Logikanya sederhana: rumah kaca bisa dibeli, tetapi kemampuan merawat, membaca data, dan menyesuaikan sistem dengan cuaca tropis harus dipelajari dan diwariskan ke periset dalam negeri.

Pandangan itu masuk akal untuk konteks Indonesia. Teknologi pertanian presisi yang dikembangkan di negara beriklim subtropis tidak otomatis bekerja baik di sini. Kelembapan tinggi, hujan lebat, radiasi matahari yang kuat sepanjang tahun, serta tekanan hama dan penyakit yang berbeda menuntut penyesuaian pada hampir semua variabel, mulai dari ventilasi, pendinginan, sampai pola irigasi.

Sensor, IoT, dan AI di Dalam Rumah Kaca

Kepala Organisasi Riset Energi dan Manufaktur (OREM) BRIN, Cuk Supriyadi Ali Nandar, memaparkan bahwa fasilitas smart greenhouse di Cibinong telah dilengkapi berbagai teknologi mutakhir. Sistemnya mengintegrasikan sensor lingkungan, Internet of Things (IoT), kecerdasan artifisial atau AI, fertigasi otomatis, teknologi pengendalian iklim mikro, hingga manajemen budidaya berbasis data atau data-driven farming.

Dalam praktiknya, rangkaian teknologi itu bekerja seperti satu sistem saraf. Sensor membaca suhu, kelembapan udara, kelembapan media tanam, intensitas cahaya, dan konsentrasi nutrisi. Data itu dikirim ke sistem yang kemudian memutuskan kapan pompa nutrisi menyala, kapan ventilasi dibuka, atau kapan naungan dipasang untuk menahan terik. Pendekatan ini membuat pemakaian air dan pupuk lebih terukur dibanding cara konvensional yang mengandalkan perkiraan.

Kendati berbasis teknologi tinggi, Cuk menegaskan tantangan utamanya bukan sekadar mengadopsi perangkat asal Korea. Persoalan yang lebih rumit adalah proses adaptasi dan lokalisasi agar sistem tersebut bekerja optimal di iklim tropis. Fasilitas itu diproyeksikan menjadi living laboratory, ruang kolaborasi aktif bagi periset kedua negara, bukan instalasi yang selesai dibangun lalu ditinggalkan.

Serpong sebagai Titik Temu Riset

Direktur Jenderal KIST Gangneung, Kim Joosun, menyambut baik kemitraan strategis tersebut. Ia menilai Korean Smart Greenhouse telah berkembang menjadi laboratorium hidup yang ideal bagi periset Indonesia dan Korea untuk mengumpulkan data, menguji performa tanaman, dan merancang solusi pertanian cerdas yang ramah iklim tropis.

Kim memaparkan bahwa kolaborasi ini menggabungkan keunggulan masing-masing pihak. BRIN memiliki kekuatan di bidang riset pertanian tropis, jaringan luas, serta pemahaman mendalam atas kebutuhan lokal, sementara KIST unggul dalam pengembangan smart farming, sistem budidaya berefisiensi tinggi, dan riset terapan.

“Dengan menggabungkan kekuatan tersebut, kita memiliki peluang besar untuk menghasilkan solusi yang tidak hanya maju secara teknologi, tetapi juga relevan dengan kebutuhan lokal dan dapat dikembangkan dalam skala yang lebih luas,” kata Kim Joosun.

Pilihan Serpong sebagai lokasi seminar bukan kebetulan. KST B.J. Habibie di kawasan Puspiptek sudah lama menjadi tempat bertemunya laboratorium, perguruan tinggi, dan industri di sisi selatan Tangerang Raya. Kehadiran forum internasional di kawasan ini memberi dampak lanjutan yang sering luput: perputaran pengetahuan, jaringan peneliti, dan peluang mahasiswa lokal untuk terlibat dalam proyek riset yang berskala internasional.

Apa Artinya bagi Petani dan Warga Tangerang Raya?

Hasil riset smart greenhouse memang tidak langsung terasa di sawah atau kebun warga. Namun arah teknologinya menyentuh persoalan yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari: harga pangan yang naik turun mengikuti musim, kelangkaan air irigasi, dan produktivitas lahan yang makin terbatas karena alih fungsi.

Rumah kaca pintar menawarkan model budidaya yang lebih tahan terhadap cuaca ekstrem. Jika sistem pengendalian iklim mikro bisa diadaptasi untuk kondisi tropis, penanaman tidak lagi sepenuhnya bergantung pada musim. Panen bisa diatur, pasokan lebih stabil, dan fluktuasi harga di pasar tradisional berpotensi diredam. Untuk komoditas bernilai tinggi seperti hortikultura, sayuran daun, dan bibit, pola ini bisa jadi jalan untuk menaikkan pendapatan petani kecil dan kelompok tani.

Ada pula sisi hilir yang menarik. Kabupaten Tangerang dan Kota Tangerang Selatan punya basis UMKM kuliner dan agribisnis yang besar. Kalau produksi hortikultura lokal bisa lebih konsisten, pasokan bahan baku untuk UMKM tidak perlu mendatangkan dari luar daerah. Rantai pasok memendek, ongkos angkut turun, dan kesegaran bahan terjaga.

Tentu ada catatan penting. Teknologi rumah kaca menuntut investasi awal, listrik yang stabil, dan perawatan rutin. Tanpa skema pembiayaan yang masuk akal serta pendampingan teknis, fasilitas semacam ini berisiko berhenti di level percontohan. Di sinilah peran “transfer kapabilitas” yang ditekankan BRIN menjadi kunci: pelatihan periset, teknisi, hingga penyuluh pertanian harus berjalan seiring pembangunan instalasi.

Langkah Berikutnya

Kolaborasi BRIN-KIST menempatkan Indonesia, khususnya kawasan Serpong, sebagai salah satu titik uji teknologi pertanian tropis. Yang kini ditunggu adalah keluaran yang bisa diukur: varietas dan protokol budidaya yang cocok untuk iklim lokal, data performa sistem yang terbuka bagi periset dalam negeri, serta model bisnis yang bisa direplikasi kelompok tani.

Kalau tahap itu berhasil, smart greenhouse tidak lagi berhenti sebagai pemandangan futuristik di kawasan riset, tetapi menjadi rujukan nyata bagi pertanian di Tangerang Raya yang menghadapi tekanan lahan, air, dan perubahan cuaca.

Sumber: TVRI News - BRIN-KIST Perkuat Kolaborasi Teknologi Smart Greenhouse Berbasis Tropis

Portal Berita Cikayasa & Tangerang Raya
Dibangun dengan Hugo
Tema Stack dirancang oleh Jimmy