Featured image of post Catatan Rapat Otomatis Buatan Anak Bangsa, Startup AI Indonesia Ini Gaet Pengguna Empat Negara

Foto hanya ilustrasi

Catatan Rapat Otomatis Buatan Anak Bangsa, Startup AI Indonesia Ini Gaet Pengguna Empat Negara

Meeting.ai, asisten AI pencatat rapat asal Jakarta, meraup 60 persen pendapatan dari luar negeri tanpa pendanaan ventura. Kisah lengkapnya.

Di tengah maraknya startup kecerdasan buatan (AI) yang bertumpu pada modal miliaran dolar, ada satu perusahaan Indonesia yang memilih jalan berbeda. Meeting.ai, asisten AI pencatat rapat asal Jakarta, membuktikan bahwa produk buatan anak bangsa bisa bersaing di pasar global tanpa satupun rupiah pendanaan ventura asing. Perusahaan rintisan ini bahkan disebut-sebut sudah mencapai EBITDA positif pada September 2026.

Meeting.ai bukan nama baru di dunia teknologi Indonesia. Perusahaan ini awalnya berdiri pada 2017 dengan nama Bahasa.ai, didirikan tiga sahabat alumni matematika Universitas Indonesia: Hokiman Kurniawan, Fathur Rachman Widhiantoko, dan Samsul Rahmadani. Mereka sempat membangun salah satu model bahasa besar (large language model) pertama untuk Bahasa Indonesia, mengingat ada lebih dari 700 bahasa daerah dan ratusan aksen yang membuat pemrosesan bahasa Indonesia menjadi tantangan tersendiri.

Pada Juli 2023, Hokiman yang menjabat sebagai CEO memilih memutar haluan. Pendapatan berulang dari Bahasa.ai yang mencapai kisaran “beberapa juta dolar” dipakai untuk meluncurkan produk baru: Meeting.ai, asisten rapat berbasis AI yang merekam, mentranskrip, dan meringkas pertemuan secara otomatis. Pengguna tinggal bicara, catatan rapat jadi sendiri.

Paham Bahasa Sehari-hari, Bukan Hanya Bahasa Baku

Keunggulan utama Meeting.ai terletak pada kemampuannya memahami bahasa Indonesia sehari-hari. Dalam uji internal yang dilakukan Tech in Asia, akurasi transkrip untuk percakapan berbahasa Indonesia mencapai 97 persen. Alat ini bahkan mengenali slang yang lazim dipakai sehari-hari, seperti “gue”, “lu”, “kayak”, “pede”, dan “gede”.

“Pelanggan sering kaget saat menyadari mereka bisa bicara santai, dan AI tetap memahami mereka meski pakai bahasa gaul,” ujar Hokiman.

Kemampuan itu lahir dari data yang dikumpulkan sejak 2017. Meeting.ai mengombinasikan model khusus Bahasa Indonesia miliknya dengan model lain saat mentranskrip percakapan. Selain integrasi dengan Google Meet, Zoom, dan Microsoft Teams, alat ini juga bisa dipakai untuk rapat tatap muka. Bahkan lebih dari 50 persen pemakaian produk justru datang dari pertemuan luring, bukan rapat daring.

Viral di Instagram, Server Nyaris Lumpuh

Titik balik Meeting.ai terjadi pada Februari 2026. Sebuah video Reel Instagram buatan founder-nya mendadak viral dan ditonton lebih dari 10 juta kali. Dalam hitungan jam, pendaftaran pengguna melonjak 100 kali lipat, dari sekitar 100-200 pendaftar per hari menjadi lebih dari 10.000 pendaftar dalam semalam.

Kapasitas server tidak siap menghadapi lonjakan itu. Kurniawan mengestimasi sekitar 3.000 pengguna sempat mendaftar namun gagal menggunakan layanan karena daya komputasi tidak mencukupi.

Kejadian itu justru menjadi pelajaran berharga. Sejak itu, perusahaan mengatur strategi infrastruktur lintas negara. Kini Meeting.ai membelanjakan sekitar US$20.000 per bulan untuk infrastruktur, dengan pusat data tersebar di Amerika Serikat, Johor (Malaysia), dan Singapura, dipilih berdasarkan biaya dan ketersediaan kapasitas di masing-masing wilayah.

Pengguna dari Indonesia, Amerika, Malaysia, dan Korea

Hasilnya membanggakan. Pasar Meeting.ai kini mencakup empat negara utama, berurutan dari yang terbesar: Indonesia, Amerika Serikat, Malaysia, dan Korea Selatan. Sekitar 60 persen pendapatan perusahaan berasal dari luar negeri, sementara 40 persen dari dalam negeri. Pengguna Korea Selatan bahkan disebut empat kali lebih rela membayar dibanding pengguna Indonesia, dengan retensi yang tergolong kuat.

Prestasi ini diraih tanpa pendanaan eksternal sama sekali. Sementara itu, kompetitor global mereka bermain dengan anggaran raksasa. Otter.ai, salah satu pemain besar di Amerika, mengklaim telah melayani lebih dari 35 juta pengguna dan memproses lebih dari 1 miliar rapat sampai akhir 2025. Granola, asisten rapat AI lainnya, meraih pendanaan US$125 juta pada Maret lalu. Di medan yang timpang itu, Meeting.ai justru melihat celah: bertumbuh lewat produk, bukan lewat belanja pemasaran besar.

Fitur anyar mereka memperkuat strategi itu. Catatan visual berbentuk mind map dan fitur presentasi instan yang baru diluncurkan disebut mampu menggandakan tingkat konversi pengguna dalam semalam.

Tim Sembilan Orang dengan Bantuan AI

Salah satu rahasia efisiensi Meeting.ai adalah ukuran tim. Kurniawan menyebut perusahaan kini hanya beranggotakan sembilan orang: dua di bidang pemasaran, satu di keuangan, dan sisanya teknik. Jauh dari catatan sebelumnya yang mencapai hampir 40 karyawan.

Penyebabnya: AI dikerjakan bukan hanya untuk produk, tapi juga untuk operasional internal. Tim menjalankan sebagian besar pekerjaan lewat agen AI, dengan beberapa agen pemrograman berjalan paralel di banyak layar monitor sekaligus. “Kami punya keunggulan biaya dari sisi talent,” ujar Kurniawan.

Gaji seorang engineer di perusahaan ini, meski kompetitif menurut standar Indonesia, masih jauh di bawah garis dasar tahunan US$100.000 yang umum dibayar perusahaan teknologi Amerika. Dengan selisih itu, startup kecil ini bisa melayani pelanggan di empat negara sekaligus tanpa membuka kantor di luar Indonesia.

Peluang untuk Pekerja dan UMKM Lokal

Kisah Meeting.ai memberi gambaran nyata tentang bentuk persaingan teknologi Indonesia di era AI. Bukan lagi soal mengejar pendanaan sebesar mungkin, melainkan soal kecepatan membangun produk yang tepat dan efisiensi operasional.

Bagi pekerja kantoran dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah di Tangerang Raya, hadirnya asisten rapat AI berbahasa Indonesia berarti akses ke alat bantu produktivitas yang murah dan mudah dipakai. Tidak perlu fasih bahasa Inggris, tidak perlu koneksi rapat daring, catatan penting bisa dihasilkan hanya dengan merekam percakapan.

Perjalanan Meeting.ai masih panjang. Perusahaan menargetkan merilis kemampuan pencatatan waktu nyata, sehingga rapat luring bisa ditranskrip dan diringkas tanpa perlu direkam lebih dulu. Visi jangka panjang mereka bahkan lebih ambisius: suatu hari pengguna bisa “beradu argumentasi” langsung dengan AI dalam rapat.

Satu hal yang pasti, kini dunia mulai tahu bahwa alat bantu kerja sehari-hari bisa lahir dari ruang kerja kecil di Jakarta.

Sumber: Tech in Asia, AWS Startups, East Ventures

Portal Berita Cikayasa & Tangerang Raya
Dibangun dengan Hugo
Tema Stack dirancang oleh Jimmy