Seorang developer asal Tangerang Selatan, Tri Purnomo Aji, membuat layanan berbasis web yang dapat membantu masyarakat memantau pergerakan abu vulkanik secara online. Situs tersebut dapat diakses gratis melalui alamat abu.cikoytew.my.id tanpa perlu mengunduh aplikasi atau membuat akun.
Layanan ini hadir ketika perhatian masyarakat terhadap sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau meningkat. Dalam unggahan akun Kabar Tangerang, situs buatan Tri disebut memungkinkan pengguna melihat gunung api yang sedang berstatus siaga, arah pergerakan abu, serta perkiraan wilayah yang berpotensi dilewati abu sampai 18 jam ke depan.
Bagi warga Tangerang Selatan dan daerah sekitarnya, informasi semacam ini bisa menjadi rujukan awal untuk menentukan aktivitas di luar rumah. Pengguna cukup membuka situs melalui peramban di ponsel, kemudian memasukkan nama kota yang ingin dipantau. Situs juga menyediakan pilihan untuk menggunakan lokasi perangkat, sehingga pengguna dapat melihat kondisi yang diperkirakan terjadi di sekitar tempat tinggalnya.
Menggunakan data VAAC Darwin
Data utama yang ditampilkan situs tersebut mengacu pada informasi Volcanic Ash Advisory Center (VAAC) Darwin. VAAC merupakan pusat peringatan abu vulkanik yang dikelola Bureau of Meteorology Australia. Informasinya digunakan dalam pemantauan keselamatan penerbangan, khususnya untuk memperkirakan arah dan ketinggian sebaran abu yang dapat mengganggu jalur pesawat.
Saat diakses pada Selasa, 8 September 2026, halaman situs menampilkan panel pemantauan Gunung Krakatau dan peta sebaran abu. Di dalam panel tersebut terdapat informasi mengenai arah pergerakan abu, jarak sebaran ke kota tertentu, garis waktu perkiraan pergerakan hingga 18 jam, serta kondisi angin di sekitar sumber erupsi.
Situs itu juga membedakan informasi abu vulkanik dari status aktivitas gunung berdasarkan sumber lain. Keterangan mengenai status resmi gunung api merujuk pada informasi PVMBG atau Badan Geologi, sementara peringatan sebaran abu menggunakan data VAAC Darwin. Perbedaan ini penting dipahami karena status aktivitas gunung dan sebaran abu di udara merupakan dua hal yang berkaitan, tetapi tidak selalu identik.
Status gunung ditentukan berdasarkan sejumlah parameter, seperti aktivitas kegempaan, perubahan bentuk tubuh gunung, pengamatan visual, dan kondisi kawah. Sementara itu, VAAC berfokus pada abu yang terdeteksi dan pergerakannya di atmosfer. Karena itu, peta sebaran abu sebaiknya dipakai sebagai informasi pemantauan, bukan sebagai pengganti arahan resmi dari PVMBG, BPBD, BMKG, atau pemerintah daerah.
Bisa dipantau melalui ponsel
Keunggulan layanan yang dibuat Tri adalah kemudahan akses. Warga tidak harus memasang aplikasi tambahan, melakukan registrasi, atau memahami peta vulkanologi yang rumit. Setelah situs dibuka, pengguna bisa memilih kota dan melihat apakah wilayah tersebut berada di jalur perkiraan sebaran abu.
Tampilan peta juga membantu pengguna memahami informasi secara visual. Area yang masuk dalam jalur sebaran ditandai di atas peta, sementara nama sejumlah kota ditampilkan untuk memudahkan pembacaan. Tersedia pula pembaruan waktu sehingga pengguna dapat mengetahui kapan data terakhir diperbarui.
Dalam tangkapan layar yang dibagikan Kabar Tangerang, situs tersebut tercatat telah dikunjungi ratusan ribu kali. Angka itu menunjukkan tingginya kebutuhan masyarakat terhadap informasi yang ringkas dan mudah dipahami ketika terjadi erupsi atau potensi sebaran abu. Namun, jumlah kunjungan bukan berarti seluruh informasi di dalam situs menggambarkan kondisi di permukaan secara langsung. Data atmosfer dapat berubah mengikuti arah angin, aktivitas erupsi, dan pembaruan dari lembaga pemantau.
Tri juga mencantumkan akun Instagram @triprnmaji sebagai identitas pembuat layanan. Kehadiran developer lokal yang membuat alat pemantauan terbuka seperti ini memperlihatkan bahwa teknologi sederhana dapat digunakan untuk menjawab kebutuhan informasi masyarakat. Situs tersebut tidak menggantikan sistem peringatan resmi, tetapi dapat menjadi lapisan informasi tambahan yang membantu warga memahami situasi.
Warga tetap perlu mengikuti informasi resmi
Masyarakat yang membuka situs abu.cikoytew.my.id tetap perlu membandingkan informasinya dengan pengumuman resmi. Untuk status gunung api dan radius kawasan rawan bencana, warga sebaiknya mengikuti PVMBG atau MAGMA Indonesia. Untuk cuaca dan perubahan kondisi atmosfer, informasi BMKG perlu menjadi rujukan. Sementara itu, instruksi mengenai evakuasi, pembatasan kegiatan, dan layanan darurat harus mengikuti arahan BPBD serta pemerintah daerah.
Jika abu mulai terlihat atau udara terasa berdebu, warga dapat menggunakan masker, mengurangi aktivitas di luar ruangan, dan menutup pintu serta jendela. Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta orang dengan asma atau gangguan pernapasan perlu mendapat perhatian lebih. Mata yang terasa perih, batuk, sesak napas, atau iritasi setelah terpapar debu sebaiknya tidak diabaikan dan perlu dikonsultasikan kepada tenaga kesehatan.
Kehadiran situs buatan Tri Purnomo Aji menjadi contoh pemanfaatan teknologi lokal untuk membantu masyarakat menghadapi situasi kebencanaan. Dengan akses gratis, tanpa instalasi aplikasi, dan dukungan data sebaran abu dari VAAC Darwin, warga Tangerang Selatan kini memiliki cara tambahan untuk memantau kemungkinan pergerakan abu dari ponsel. Meski demikian, penggunaan situs harus tetap disertai sikap kritis, pengecekan waktu pembaruan, serta kepatuhan terhadap informasi dan instruksi lembaga resmi.
Sumber: Kabar Tangerang di Facebook, abu.cikoytew.my.id, detikInet
