Featured image of post Dikejar Rombongan Bersenjata Tajam, Dua Pelajar Tewas Menabrak Trotoar di Alam Sutera Tangsel

Foto: Kabar6.com

Dikejar Rombongan Bersenjata Tajam, Dua Pelajar Tewas Menabrak Trotoar di Alam Sutera Tangsel

TANGERANG RAYA — Dua pelajar tewas setelah sepeda motor yang mereka tumpangi menabrak pembatas jalan dan membentur tiang listrik di Jalan Sutera Utama, kawasan Alam Sutera, Serpong Utara, Kota Tangerang Selatan. Peristiwa nahas itu terjadi pada Jumat sore, 9 Oktober 2026, sekitar pukul 17.00 WIB, tepat di seberang pintu masuk Sekolah Santa Laurensia.

Kedua korban berinisial A (14) dan W (15), pelajar sebuah SMP negeri di wilayah Pinang, Kota Tangerang. Mereka meninggal dunia di tempat kejadian perkara. Polisi memastikan tidak ada luka bacok maupun luka tusuk pada kedua korban. Berdasarkan pemeriksaan luar dan visum dokter RSUD Kabupaten Tangerang, keduanya tewas murni karena benturan keras.

“Korban mengalami luka memar di wajah, khususnya di dahi pada kedua korban. Diduga akibat benturan ke trotoar,” kata Kapolsek Serpong Kompol Suhardono, seperti dilaporkan Kabar6.

Rekaman kamera pengawas atau CCTV milik pengembang kawasan merekam detik-detik terakhir kedua korban. Cuplikan video itu memperlihatkan sekelompok pelajar melintas di depan SPBU Pertamina Alam Sutera sebelum insiden terjadi.

Kronologi: Pulang Nonton Futsal, Bertemu Rombongan Lain

Kapolres Tangerang Selatan AKBP Boy Jumalolo memaparkan, peristiwa bermula sekitar pukul 17.00 WIB. Saat itu kedua korban bersama rekan-rekannya baru selesai menjadi suporter pertandingan futsal. Rombongan pelajar itu melintas di depan SPBU Pertamina Alam Sutera dengan sepeda motor.

Pada saat bersamaan, kelompok pelajar lain datang dari arah Graha Raya. Kelompok yang disebut berasal dari SMK Yadika 4 Ciledug, Kota Tangerang, itu diduga membawa senjata tajam.

Melihat rombongan bersenjata itu, para pelajar asal Pinang panik dan berusaha menyelamatkan diri. Mereka memacu kendaraan menuju kawasan Sport Center dan Polsubsektor Alam Sutera.

“Anak-anak Pinang ini karena tujuannya mau bermain futsal, mereka lari. Karena takut melihat rombongan yang membawa senjata tajam itu, mereka memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi,” jelas Suhardono.

Dalam kondisi panik, sepeda motor Honda Scoopy merah yang ditumpangi kedua korban hilang kendali. Kendaraan itu menabrak pembatas jalan, lalu membentur tiang listrik di pinggir jalan. Keduanya terjatuh dan meninggal dunia di lokasi.

Seorang pelajar lain yang ikut dalam rombongan berhasil menyelamatkan diri ke pos keamanan kawasan Alam Sutera. Polisi menegaskan tidak terjadi bentrokan fisik antarkedua kelompok di lokasi kejadian.

“Jadi kami tekankan, belum ada yang namanya tawuran,” tegas Suhardono.

Tiga Pelajar Ditangkap, Celurit hingga Golok Disita

Tak butuh waktu lama bagi Unit Reskrim Polsek Serpong untuk bergerak. Setelah memeriksa lokasi dan melakukan serangkaian penyelidikan, polisi menangkap tiga pelajar yang diduga membawa senjata tajam. Ketiganya berstatus anak yang berhadapan dengan hukum (ABH), sehingga identitas mereka tidak dipublikasikan.

“Satu pelajar diamankan di lokasi kejadian, sedangkan dua lainnya diamankan di kediaman masing-masing,” ujar Kapolres Tangsel AKBP Boy Jumalolo.

Dari tangan para terduga pelaku, polisi menyita barang bukti berupa satu bilah celurit besar berwarna merah, satu bilah arit, dan satu bilah golok. Sebuah unit sepeda motor turut diamankan. Dugaan tindak pidana terkait kepemilikan senjata tajam itu kini ditangani Polsek Serpong dengan memperhatikan ketentuan perlindungan identitas anak.

Kabar tentang peristiwa ini lebih dulu viral di media sosial. Video yang memperlihatkan jasad kedua korban tergeletak di trotoar beredar luas dan memicu spekulasi bahwa keduanya menjadi korban sabetan senjata tajam atau aksi tawuran antarpelajar. Polisi pun turun tangan meredam kabar simpang siur tersebut dengan merilis hasil pemeriksaan medis.

Kepada warga, Polres Tangerang Selatan mengimbau siapa pun yang memiliki informasi terkait peristiwa itu agar segera menyampaikannya ke pihak kepolisian atau melalui layanan Kepolisian 110.

Alarm bagi Orang Tua dan Sekolah

Insiden di Alam Sutera menjadi pengingat pahit bahwa persoalan kekerasan antarpelajar belum benar-benar selesai di Tangerang Raya. Aksi saling kejar antarkelompok pelajar dengan senjata tajam masih terjadi, dan kali ini menelan korban jiwa dari pihak yang justru sedang berusaha menghindar.

Polisi mengajak orang tua, pihak sekolah, dan masyarakat meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas anak dan remaja. Komunikasi serta pembinaan di lingkungan keluarga dan sekolah dinilai menjadi kunci mencegah keterlibatan pelajar dalam aksi yang membahayakan keselamatan diri sendiri maupun orang lain.

Kawasan Alam Sutera sendiri dikenal sebagai area permukiman dan pusat niaga yang ramai, terutama pada jam pulang sekolah dan sore hari. Jalan Sutera Utama menjadi salah satu ruas yang cukup padat, sehingga insiden berkecepatan tinggi di ruas tersebut berpotensi merenggut nyawa bukan hanya pelaku, tetapi juga pengendara lain yang kebetulan melintas.

Bagi warga Tangerang Raya, kasus ini menyisakan sejumlah pertanyaan mendasar: seberapa jauh pengawasan sekolah terhadap pergerakan siswanya setelah jam pelajaran, dan bagaimana pola pendampingan orang tua terhadap anak yang masih rentan terpapar provokasi kelompok sebaya. Dua nyawa pelajar yang seharusnya masih panjang harus berakhir di trotoar jalan, hanya karena mereka berlari dari ancaman yang tak seharusnya ada di ruang publik.

Pemerintah daerah, kepolisian, dan sekolah kini dituntut tidak sekadar menindak pelaku, tetapi juga membenahi pencegahan. Patroli rutin di jam rawan, penguatan pembinaan karakter di sekolah, serta ruang kegiatan positif bagi remaja menjadi pekerjaan rumah bersama. Tanpa itu, potensi kejadian serupa bisa kembali terulang di titik lain Tangerang Raya.

Sumber: Kabar6, detikcom, Kompas.com

Portal Berita Cikayasa & Tangerang Raya
Dibangun dengan Hugo
Tema Stack dirancang oleh Jimmy