Featured image of post EduTalks 2026 di Tangerang Bahas Transformasi Digital dan AI untuk Masa Depan Pendidikan

EduTalks 2026 di Tangerang Bahas Transformasi Digital dan AI untuk Masa Depan Pendidikan

Transformasi digital tidak lagi sekadar kata-kata di balik slogan perusahaan. Di Kabupaten Tangerang, konsep itu mulai diwujudkan lewat pertemuan nyata yang menyatukan dunia pendidikan, industri teknologi, dan pemerintah daerah. EduTalks 2026, yang digelar di Le Semar Hotel Karawaci pada 12 Agustus 2026, menjadi salah satu bukti bahwa komunitas pendidikan Tangerang serius mengejar percepatan digital di tengah kelas dan ruang lab sekolah.

Forum tahunan ini mengusung tema utama artificial intelligence, digitalisasi sekolah, infrastruktur teknologi, keamanan siber, dan kompetensi talenta masa depan. Lebih dari sekadar panggung pembicaraan, acara ini dirancang menjadi ruang kolaborasi di mana pelaku industri bisa langsung berdiskusi dengan kepala sekolah, guru, dan praktisi pendidikan. Pendekatan inilah yang membuat EduTalks 2026 berbeda dari banyak acara teknologi sejenis yang sering kali lebih condong ke pembicara daripada ke peserta.

Keterlibatan sektor swasta jadi nilai tambah

Pembukaan acara ditandai dengan sambutan dari H. Hendri Kusuma Wahyudi, Ketua Badan Musyawarah Perguruan Swasta (BMPS) Kabupaten Tangerang. Dalam pidatonya, dia menekankan bahwa transformasi digital bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan strategis bagi dunia pendidikan di Tangerang. Menurutnya, kolaborasi antara sekolah, perguruan tinggi, dan perusahaan teknologi merupakan kunci untuk mengejar ketertinggalan yang selama ini masih terasa di beberapa daerah.

Momentum ini juga hadir di saat tepat: Pemerintah Kabupaten Tangerang tengah memperkuat layanan digital melalui berbagai program, termasuk aplikasi “Tangerang Ayo” yang mendapatkan apresiasi dari Kementerian PANRB. Di tingkat Kota Tangerang dan Kota Tangerang Selatan, Diskominfo masing-masing wilayah juga aktif dalam forum-forum nasional seperti APEKSI 2026 untuk membawa praktik terbaik tata kelola digital pemerintahan daerah. EduTalks 2026 menjadi bagian dari gelombang yang sama —只不过 kini difokuskan ke ranah pendidikan.

Intel Indonesia bawa perspektif talenta digital masa depan

Sesi materi utama menjadi salah satu highlight acara. Tommy Ferdianto, Director of Educational Innovation & Partnership Intel Indonesia, memaparkan topik “AI & The Future of Talent: Navigating the Future, Bridging Talent Competencies with AI & Emerging Skills”. Dalam presentasinya, dia menguraikan bagaimana AI, automation, dan intelligent systems sudah mengubah cara organisasi bekerja, mengambil keputusan, dan melayani masyarakat.

Pelajaran utama dari sesi ini adalah bahwa AI tidak lagi sekadar tren teknologi musiman. Di tingkat global maupun Indonesia, perusahaan-perusahaan mulai menuntut karyawan yang tidak hanya tahu tools, tapi juga mampu berpilih strategis dalam menggunakan teknologi. “Emerging skills” — seperti literasi data, pemikiran kritis berbasis data, dan kemampuan berkolaborasi dengan sistem cerdas — menjadi komoditas baru di pasar kerja.

Bagi peserta dari dunia pendidikan, pesan ini menjadi panggilan untuk mengevaluasi kurikulum. Jika sekolah dan perguruan tinggi masih mengajarkan hanya teori-teori dasar tanpa menghubungkannya dengan aplikasi nyata, lulusan akan terus tertinggal. Di Kabupaten Tangerang yang rumah bagi ratusan ribu penduduk usia produktif, tantangan ini menjadi semakin krusial.

Pelajaran dari program pelatihan AI yang sudah berjalan

Tantangan kurikulum tidak hanya disinggung di EduTalks — ia juga mulai diuji langsung di program pelatihan pemerintah. Balai Latihan Kerja (BLK) Kota Tangerang, misalnya, sudah membuka Pelatihan Artificial Intelligence Angkatan 3 pada tahun 2026. Program ini dirancang untuk memberikan pemahaman konsep dasar kecerdasan buatan, pemanfaatan berbagai platform AI, dan penerapannya untuk produktivitas kerja serta pengembangan usaha.

Kepala UPT BLK Kota Tangerang, M. Yasin Surya, menyatakan bahwa pelatihan ini adalah program strategis untuk membekali masyarakat dengan keterampilan yang relevan. Peserta tidak hanya mendapatkan teori, tetapi juga praktik langsung dengan instruktur kompeten. Di lokasi yang sama — Kota Tangerang — Dinas Pendidikan juga telah menggelar pelatihan koding dan AI untuk tenaga kependidikan sejak April 2026.

Pelajaran dari program-program ini jelas: pelatihan digital bukan sekadar kursus singkat, tapi perlu menjadi ekosistem berkelanjutan. Dari EduTalks 2026 hingga program BLK, garis besar yang muncul adalah pemerintah dan industri harus berjalan beriringan agar investasi pelatihan benar-benar berdampak.

Infrastruktur dan keamanan siber: dua sisi mata uang yang sering terabaikan

Selama acara, peserta juga menekankan pentingnya infrastruktur teknologi yang memadai. Di area perkotaan seperti Karawaci, BSD, dan Cikupa, akses internet sudah cukup memadai. Namun, tantangan muncul saat masuk ke institusi pendidikan yang lebih tua atau terletak di pinggiran. Digitalisasi sekolah tidak bisa hanya berandai-andai tanpa dukungan jaringan, perangkat, dan sistem operasional yang stabil.

Tidak kalah pentingnya adalah isu keamanan siber. Setiap kali lembaga pendidikan membuka sistem digital baru — mulai dari aplikasi absensi, platform pembelajaran, hingga sistem nilai online — potensi risiko serangan siber juga ikut tumbuh. EduTalks 2026 menempatkan cybersecurity sebagai salah satu pilar utama, mengingat bahwa siswa dan guru adalah kelompok yang rentan terhadap phising, malware, dan pencurian data pribadi.

Kontribusi dari peserta juga menghadirkan perspektif unik. Beberapa narasumber dan peserta mengingatkan agar transformasi digital tidak hanya berfokus pada alat, tetapi juga pada perubahan budaya sekolah. Guru perlu diberikan ruang dan waktu untuk beradaptasi, dan sekolah perlu punya mekanisme dukungan yang jelas. Tanpa itu, sekalipun komputer dan internet sudah tersedia, potensi pemanfaatan maksimal tidak akan pernah terwujud.

Mengapa Tangerang bisa menjadi model digitalisasi pendidikan?

Tangerang memiliki keunggulan komparatif yang tidak dimiliki banyak daerah lain. Sebagai kawasan dengan pertumbuhan penduduk cepat dan padat, permintaan akan layanan pendidikan yang adaptif terus meningkat. Sektor swasta pun telah menempatkan Tangerang sebagai lokasi pengembangan solusi teknologi pendidikan. Kehadiran Intel, berbagai startup lokal, dan lembaga kursus menciptakan ekosistem di mana pengetahuan bisa mengalir cepat.

Namun, potensi itu juga membawa risiko: jika digitalisasi hanya berfokus pada kota-kota besar seperti Tangerang Kota atau Tangerang Selatan, kabupaten seperti Tangerang dan Solear bisa tertinggal. EduTalks 2026 sendiri digelar di Karawaci — pusat kabupaten — sebagai upaya menyebarkan momentum ke area yang lebih luas. Dengan demikian, inklusivitas menjadi indikator keberhasilan transformasi digital pendidikan di seluruh Tangerang Raya.

Tantangan besar: membentuk talenta yang relevan dengan dunia kerja AI

Tahun 2026 bisa jadi titik balik bagi pendidikan Tangerang, atau sekadar tahun yang diingat sebagai masa pembicaraan tanpa aksi nyata. Yang membuatnya kritis adalah kesadaran bersama yang mulai terbangun. Dari pembicara Intel, Kepala BLK, hingga ketua musyawarah perguruan swasta, semua menyentuh tema yang sama: pendidikan harus bergerak lebih cepat dari perubahan teknologi.

Bagi warga Tangerang secara khusus, pergeseran ini memiliki arti praktis. Di masa depan, pekerjaan yang membutuhkan AI literacy, analisis data, dan kemampuan berkolaborasi dengan sistem cerdas akan menjadi standar. Pelatihan seperti yang ditawarkan BLK Kota Tangerang dan acara seperti EduTalks 2026 merupakan pintu masuk bagi siapa saja yang ingin upgrade skill sebelum ketertinggalan.

Pemerintah daerah, melalui Dinas Pendidikan dan Diskominfo, memiliki peran strategis untuk memastikan program-program ini tidak hanya tersebar di media sosial, tetapi benar-benar menjangkau sekolah-sekolah di seluruh kecamatan. Dari Solear, Cikupa, Kronjo, hingga Kawasan Industri di Pasarkemis — semua wilayah butuh akses yang setara terhadap peluang belajar teknologi.

Penutup

EduTalks 2026 menandai langkah nyata Tangerang menuju pendidikan yang lebih tangkas di era digital. Dengan dukungan industri, keseriusan pemerintah daerah, dan partisipasi aktif sekolah-sekolah, kabupaten ini punya fondasi untuk menjadi contoh digitalisasi pendidikan di Banten. Tantangan selanjutnya bukan lagi apakah harus berubah, melainkan seberapa cepat seluruh institusi pendidikan di Tangerang bisa mengejar ketertinggalan agar generasi muda Cikasungka dan Cikayasa mampu bersaing di era AI.

Sumber: GEAR Computer

Portal Berita Cikayasa & Tangerang Raya
Dibangun dengan Hugo
Tema Stack dirancang oleh Jimmy