Pemerintah Kabupaten Tangerang menetapkan 12 kelompok pemuda sebagai penerima hibah Microgrant Youth Climate Action Fund (YCAF) 2026. Piagam penghargaan diserahkan pada Selasa, 27 Oktober 2026, menandai berakhirnya tahap seleksi yang menyeleksi 40 proposal gagasan lingkungan dari berbagai komunitas muda di daerah itu.
Angka 12 dari 40 itu bukan hasil sekali saring. Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Tangerang, Erwin Mawandy, menjelaskan bahwa Dewan Juri lebih dulu memangkas daftar menjadi 18 proposal sebelum akhirnya memutuskan dua belas pemenang. “Kedua belas pemenang hasil seleksi pada saat proposal awal kan masih 40, terus kemudian oleh Dewan Juri dikurangi sampai 18, terus kemudian dari 18 muncul dua belas pemenang,” kata Erwin.
Program ini menempatkan anak muda bukan sebagai peserta kampanye lingkungan, melainkan sebagai pelaksana program yang mendapat dukungan pendanaan. Gagasan yang lolos dinilai dari kemampuannya menjawab persoalan konkret: sampah, pencemaran air, menyusutnya ruang terbuka hijau, sampai risiko bencana yang mengikuti perubahan iklim.
Sampah sampai krisis air jadi fokus
Bupati Tangerang Moch. Maesyal Rasyid menyebut persoalan lingkungan di wilayahnya tidak bisa lagi ditangani hanya oleh satu instansi. Ia mendorong generasi muda masuk langsung ke persoalan yang paling dekat dengan warga.
“Persoalan sampah, pencemaran air, berkurangnya ruang terbuka hijau, hingga risiko bencana akibat perubahan iklim membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk generasi muda,” ujar Maesyal dalam sambutannya.
Menurut dia, nilai program tidak berhenti pada uang hibah. Microgrant dibuka sebagai ruang belajar mengelola program, memimpin kelompok, dan menguji inovasi di lapangan. “Program ini bukan sekadar memberikan dukungan pendanaan melalui hibah microgrant, melainkan juga membuka ruang bagi generasi muda untuk mengembangkan kreativitas, inovasi, kepemimpinan, dan kepedulian terhadap lingkungan,” katanya.
Maesyal meminta para penerima tidak berhenti di tahap proposal. Ia menekankan dua hal yang akan menjadi ujian pertama para pemenang: pelaksanaan program dan pengelolaan dana yang transparan. “Jadikan kesempatan ini sebagai amanah dan motivasi untuk mewujudkan gagasan menjadi aksi nyata. Laksanakan program dengan penuh tanggung jawab, kelola dukungan yang diberikan secara transparan dan tepat sasaran,” tegasnya.
Ia juga berharap inisiatif yang lahir dari hibah ini tetap hidup setelah pendanaan berakhir, dengan melibatkan warga di sekitar dan berpeluang direplikasi ke wilayah lain di Kabupaten Tangerang.
Dana belum cair, ini tahap berikutnya
Piagam sudah di tangan, tetapi dana hibah belum bisa langsung dibelanjakan. Bappeda masih harus melaporkan hasil seleksi kepada Bloomberg Philanthropies sekaligus mengunjungi seluruh kelompok terpilih. Kunjungan itu dipakai untuk merampungkan kelengkapan persyaratan administratif dan teknis sebelum pencairan.
Erwin memperkirakan prosesnya tidak panjang. “Mudah-mudahan di pertengahan November, dana itu sudah cair kepada masing-masing pemenang, sehingga mereka sudah langsung bisa mengimplementasikan gagasan,” ungkapnya.
Bagi kelompok yang lolos, jeda ini menjadi masa persiapan. Rencana kerja, pembagian peran, hingga kebutuhan alat mesti disiapkan agar program bisa berjalan begitu dana masuk. Kelompok yang gagal di tahap ini berisiko kehilangan momentum, terutama bila gagasan mereka bergantung pada musim, misalnya penanaman atau pengelolaan sampah organik.
Bambu dan eco enzyme sebagai penanda
Selain penyerahan piagam, acara diisi aksi simbolik di kawasan Pusat Pemerintahan Kabupaten Tangerang: penyiraman eco enzyme ke danau dan penanaman bambu. Dua pilihan itu bukan tanpa alasan. Eco enzyme lazim dipakai untuk memperbaiki kualitas air, sedangkan bambu dikenal cepat tumbuh dan efektif menahan erosi di tepi badan air.
Aksi tersebut memberi gambaran jenis program yang diharapkan lahir dari hibah ini: sederhana, berbasis bahan lokal, dan bisa dikerjakan bersama warga. Pendekatan seperti itu biasanya lebih bertahan dibanding program yang bergantung pada peralatan mahal dan pengelolaan terpusat.
Bagi warga di sekitar Pusat Pemerintahan Kabupaten Tangerang, dampak program seperti ini paling mudah diukur dari hal kecil: apakah saluran air di kampung mereka kembali bersih, apakah tumpukan sampah rumah tangga berkurang, atau apakah ada ruang hijau baru yang bisa dipakai anak-anak bermain. Indikator semacam itu jarang masuk laporan resmi, tetapi justru paling terasa di tingkat RT dan desa.
Ujian sesungguhnya setelah dana cair
Kabupaten Tangerang bukan wilayah tanpa persoalan lingkungan. Kawasan industri yang tumbuh cepat, permukiman padat, dan tekanan terhadap sumber air membuat isu ekologi sering berbenturan dengan kebutuhan ekonomi warga. Di titik itulah program berbasis komunitas diuji: apakah mampu menawarkan solusi yang tidak mematikan mata pencarian, sekaligus cukup kuat menarik partisipasi orang banyak.
Yang patut dicermati dari skema hibah microgrant adalah risikonya. Nilai dana yang relatif kecil membuat program berhenti saat pendanaan habis jika kelompok tidak menyiapkan sumber daya lanjutan, misalnya dukungan desa, sponsor usaha lokal, atau skema pengelolaan sampah yang punya nilai ekonomi.
Karena itu, pernyataan Bupati soal keberlanjutan sebaiknya dibaca sebagai target, bukan jaminan. Keberhasilan 12 kelompok ini akan terlihat beberapa bulan setelah pencairan: apakah programnya berjalan rutin, apakah warga sekitar ikut terlibat, dan apakah ada kelompok lain yang meniru modelnya.
Hingga pertengahan November, publik Kabupaten Tangerang punya alasan mengikuti perkembangan para penerima hibah. Sebab dari dua belas kelompok inilah akan terlihat apakah ruang partisipasi anak muda dalam kebijakan lingkungan benar-benar berujung pada perubahan di lapangan, atau hanya berhenti sebagai piagam dan foto bersama.
Sumber: Kabar6 - 40 Proposal Disaring Jadi 12, Pemkab Tangerang Siapkan Hibah Aksi Iklim Anak Muda
