Indonesia ternyata punya basis pengguna AI yang cukup kuat di kancah global. Dalam sebuah laporan terbaru yang dirilis oleh Southeast Asia Public Policy Institute (SEAPPI) dengan dukungan OpenAI, negara kita menempati peringkat lima besar dunia dalam penggunaan ChatGPT untuk kebutuhan coding dan analitik data. Fakta ini cukup mengejutkan mengingat Indonesia bukanlah negara yang identik dengan industri teknologi raksasa seperti Amerika Serikat atau China.
Namun di balik pencapaian itu, terungkap sebuah masalah besar: kesenjangan antara pengguna AI tingkat lanjut dan mayoritas pengguna biasa di Indonesia masih sangat lebar. Dengan populasi lebih dari 285 juta jiwa, Indonesia memang menjadi salah satu negara dengan jumlah pengguna teknologi terbesar di dunia. Tapi pertanyaannya, sudahkah pemanfaatannya optimal?
Laporan “Closing Indonesia’s AI Capability Gap”
Laporan berjudul “Closing the AI Capability Gap in Indonesia” ini diluncurkan pada 3 September 2026 di Hotel Morrissey, Jakarta Pusat. Hadir dalam peluncuran tersebut Sandy Kunvatanagarn, Head of Policy OpenAI untuk kawasan Asia Tenggara, bersama Ed Ratcliffe, Executive Director SEAPPI yang juga menjadi penulis utama whitepaper tersebut.
Menurut data yang dipaparkan dalam laporan ini, Indonesia menempati urutan kelima secara global dalam penggunaan ChatGPT untuk fitur Codex dan analitik data. Ini menunjukkan bahwa sebagian pengguna Indonesia sudah memanfaatkan AI untuk pekerjaan yang lebih kompleks, seperti pemrograman dan analisis data.
“Tantangan sesungguhnya yaitu bagaimana kita memperluas jangkauan dari kelompok frontier ini ke seluruh lapisan masyarakat dan dunia bisnis lainnya, sehingga kita dapat membantu pertumbuhan ekonomi,” ungkap Sandy Kunvatanagarn saat peluncuran laporan tersebut.
Indonesia sebelumnya juga pernah menempati posisi ketiga besar dunia dalam total kunjungan ke berbagai aplikasi AI, berdasarkan laporan WriterBuddy. Selama periode September 2022 hingga Agustus 2023, pengguna internet Indonesia menghasilkan 1,4 miliar kunjungan ke aplikasi AI, atau menyumbang 5,60% dari total traffic global. Angka ini hanya kalah dari Amerika Serikat (5,5 miliar) dan India (2,1 miliar).
Kesenjangan yang Menganga
Meskipun angkanya terlihat menggembirakan, laporan SEAPPI mengungkap bahwa mayoritas pengguna AI di Indonesia masih terjebak pada pemanfaatan fitur dasar. Dari total pengguna, hanya sekitar 11% yang menggunakan AI pada tingkat menengah, dan hanya 10% yang memanfaatkan AI secara transformatif atau untuk pekerjaan bernilai tinggi.
Artinya, lebih dari 78% pengguna AI di Indonesia masih menggunakannya untuk tugas-tugas sederhana, seperti membuat dokumen, menulis email, atau sekadar bertanya informasi umum. Padahal, kemampuan AI modern sudah jauh lebih canggih — dari membuat program komputer, menganalisis data kompleks, merencanakan strategi bisnis, hingga menyusun kontrak kerja.
Bahkan, 5% pengguna tingkat lanjut di Indonesia menggunakan token penalaran 11 kali lebih banyak dibanding rata-rata pengguna. Gap ini menunjukkan bahwa potensi AI belum tersalurkan secara merata, dan masih banyak pekerja serta organisasi yang belum mengetahui cara memanfaatkan AI untuk pekerjaan yang benar-benar bernilai.
Empat Kendala Utama
Laporan SEAPPI mengidentifikasi setidaknya empat kendala utama yang menghambat pemanfaatan AI tingkat lanjut di Indonesia:
Pertama, fondasi digital yang belum memadai. Banyak perusahaan di Indonesia belum memiliki infrastruktur cloud, sistem digital, dan pengelolaan data yang memadai untuk memaksimalkan manfaat AI. Tanpa fondasi ini, AI hanya bisa dimanfaatkan di permukaan saja.
Kedua, keterampilan dan talenta. Perusahaan membutuhkan lebih banyak pekerja yang mampu menggunakan AI secara efektif, serta spesialis yang bisa mengembangkan dan menerapkan teknologi AI tingkat lanjut. Saat ini, keahlian tersebut masih terbatas di kalangan tertentu saja.
Ketiga, kapasitas inovasi. Sejumlah proyek AI yang berpotensi besar di Indonesia masih kesulitan untuk berkembang dari tahap uji coba (pilot) ke implementasi berskala besar. Gap antara konsep dan eksekusi nyata masih menjadi hambatan serius.
Keempat, ketidakpastian regulasi. Beberapa perusahaan masih ragu untuk menerapkan model bisnis berbasis AI karena belum adanya kejelasan aturan. Ketidakpastian ini membuat organisasi cenderung berhati-hati dan menunda adopsi yang lebih agresif.
AI Berbeda dari Teknologi Sebelumnya
Salah satu poin menarik dalam laporan ini adalah bagaimana AI memiliki karakteristik yang berbeda dari teknologi serbaguna sebelumnya. Sandy Kunvatanagarn menekankan bahwa AI hadir dengan antarmuka berbasis bahasa alami yang bisa diakses secara gratis atau dengan biaya relatif rendah.
“Jika teknologi terdahulu membutuhukan investasi awal yang besar serta pelatihan formal, teknologi AI hadir dengan akses yang jauh lebih mudah,” jelas Sandy.
Artinya, manfaat produktivitas dari AI tingkat frontier berpotensi dijangkau oleh hampir setiap pekerja yang memiliki smartphone. Hal ini jelas membuka peluang besar bagi masyarakat di berbagai daerah, termasuk di Tangerang Raya, untuk ikut menikmati manfaat kemajuan teknologi ini.
Rekomendasi untuk Menutup Kesenjangan
Untuk mendorong pemanfaatan AI lebih luas, laporan ini merekomendasikan beberapa langkah strategis. Pertama, memperluas akses institusi dan perusahaan terhadap perangkat AI. Kedua, meningkatkan keterampilan workforce melalui pelatihan praktis. Ketiga, mendukung transformasi digital UMKM agar tidak tertinggal.
Sandy juga menyerukan agar pemimpin bisnis berperan aktif dengan memberikan akses perangkat AI resmi kepada tim mereka, berinvestasi dalam keterampilan praktis, dan menciptakan lingkungan kerja yang memungkinkan AI diterapkan dalam berbagai proses kerja harian.
“Business leaders bisa berperan dengan memberikan akses perangkat AI resmi, berinvestasi dalam keterampilan praktis, dan menciptakan lingkungan kerja yang memungkinkan AI diterapkan dalam berbagai proses kerja sehari-hari,” katanya.
Peluang bagi Tangerang Raya
Dengan hadirnya tren ini, pelaku UMKM dan pekerja di Tangerang Raya sebenarnya punya peluang besar untuk memanfaatkan AI dalam operasional bisnis mereka. Dari sekadar membuat konten pemasaran, menganalisis data penjualan, hingga mengotomatiskan layanan pelanggan — semua bisa dilakukan dengan bantuan AI yang sudah tersedia luas dan terjangkau.
Yang terpenting adalah bagaimana masyarakat dan pelaku usaha mau belajar dan bereksperimen dengan teknologi ini. Kesenjangan kapabilitas AI bukanlah masalah teknis semata, melainkan juga soal kemauan dan kesadaran untuk terus mengembangkan diri di era digital.
Sumber: Kompas.com dan VOI.id
