Featured image of post Kampung Somang Muncul Lagi dari Dasar Waduk Karian Saat Kemarau Panjang, Masjid Era Kolonial Berdiri Utuh

Foto: ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas

Kampung Somang Muncul Lagi dari Dasar Waduk Karian Saat Kemarau Panjang, Masjid Era Kolonial Berdiri Utuh

Debit air Bendungan Karian menyusut drastis akibat kemarau panjang, membuat sisa-sisa Kampung Somang yang ditenggelamkan pada 2023 kembali muncul ke permukaan, lengkap dengan Masjid Al Mujahidin peninggalan era kolonial.

Fenomena langka terjadi di Kabupaten Lebak, Banten. Kampung Somang di Desa Sukarame, Kecamatan Sajira, yang ditenggelamkan demi pembangunan Bendungan Karian kembali terlihat ke permukaan setelah debit air waduk menyusut drastis akibat kemarau panjang.

Kawasan permukiman yang ditinggalkan warga sejak 2023 itu kembali memperlihatkan sisa-sisa fondasi, reruntuhan dinding rumah tanpa atap, ruas jalan kampung, hingga bekas sawah dan ladang. Menariknya, Masjid Al Mujahidin — tempat ibadah peninggalan era kolonial Belanda — tampak masih berdiri utuh dengan kubah birunya di tengah puing-puing kampung yang lama hilang tertutup air.

Kemunculan kembali kampung tersebut memicu kunjungan warga dari berbagai daerah, bahkan menjadikannya destinasi wisata dadakan selama musim kemarau ini.

Air Waduk Menyusut 4-5 Meter dalam Beberapa Bulan

Kemarau panjang yang melanda Banten sejak beberapa bulan terakhir membuat muka air Bendungan Karian turun signifikan. Menurut pantauan di lapangan, penyusutan air mencapai sekitar 4-5 meter dari posisi normal.

Penurunan tersebut cukup untuk mengeringkan kawasan yang sebelumnya berada di dasar genangan. Ratusan rumah, jalan kampung, lahan pertanian, hingga bangunan masjid yang selama bertahun-tahun terendam kembali menampakkan wujudnya.

Selain Kampung Somang, beberapa kawasan lain di sekitar waduk mengalami hal serupa, antara lain Kampung Karian, Kampung Susukan, dan Kampung Cibolang. Untuk Kampung Karian sendiri, warga sudah mengosongkan kawasan tersebut sejak 2021. Sebelum penenggelaman dilakukan, sebagian material bangunan sempat dibongkar dan dimanfaatkan kembali, mulai dari genteng, kaca, hingga kayu fondasi.

Warga mulai meninggalkan Kampung Somang pada 2023 sebagai bagian dari proses penggenangan waduk. Bangunan di sana tidak dihancurkan secara total, sehingga ketika air menyusut, struktur bangunan lama masih bisa dikenali.

Masjid Al Mujahidin: Ibadah Peninggalan Era Belanda yang Masih Berdiri

Di tengah hamparan dinding rumah tanpa atap, satu bangunan menarik perhatian karena kondisinya yang masih utuh: Masjid Al Mujahidin. Selain kubah berwarna biru, struktur menara masjid juga masih lengkap.

Maman, warga yang dulu tinggal tepat di samping masjid, menyebut tempat ibadah tersebut memiliki nilai sejarah panjang. “Yang mendirikan Abuya, katanya dibangun sejak zaman Belanda. Tapi baru direnovasi sekitar 15 tahun lalu,” ujarnya.

Keberadaan masjid ini menjadi simbol paling kuat dari jejak kampung yang pernah hidup sebelum akhirnya direlokasi. Bagi mantan warga, masjid tersebut adalah penanda paling mudah dikenali ketika mereka kembali mengunjungi bekas kampung halamannya.

Jadi Wisata Dadakan, Dikunjungi Warga Jakarta hingga Bandung

Kemunculan kembali Kampung Somang tidak hanya membangkitkan nostalgia mantan warga, tetapi juga menarik kunjungan wisatawan dari berbagai daerah. Pantauan pada Minggu (2/8), kawasan bendungan dipadati pengunjung sejak pagi hingga sore.

Sebagian besar pengunjung merupakan warga eks Kampung Somang yang ingin mengenang kampung halamannya. Selain itu, datang pula wisatawan dari Jakarta, Bandung, serta sejumlah daerah di Banten dan Jawa Barat yang mengetahui fenomena tersebut dari pemberitaan televisi dan media sosial.

Agan Permana (46), wisatawan asal Jawa Barat, mengaku sengaja datang bersama istrinya setelah melihat tayangan mengenai kampung tersebut. “Informasinya, saya lihat dari berita di televisi dan media sosial. Karena penasaran akhirnya datang langsung untuk melihat kampung yang dulu sudah tenggelam kini muncul lagi,” katanya.

Ia menilai kemunculan bangunan-bangunan lama menghadirkan suasana nostalgia, terutama bagi warga yang pernah tinggal di kawasan tersebut. “Bagus juga pemandangannya. Masyarakat yang dulu tinggal di sini bisa kembali mengenang kampung lamanya. Ini juga bisa menjadi wisata lokal yang menarik dan dimanfaatkan warga sekitar untuk menambah penghasilan,” ujarnya.

Senada, Ilham (34), wisatawan asal Jakarta yang datang bersama istri dan anaknya, menyebut fenomena ini cukup langka. “Kami sengaja datang karena ingin melihat langsung fenomena ini. Menurut saya ini cukup langka, apalagi terjadi saat musim kemarau. Jadi wajar kalau banyak orang penasaran,” katanya.

Kawasan bendungan dinilai berpotensi besar dikembangkan sebagai destinasi wisata musiman apabila dikelola dengan baik. Perahu milik warga, misalnya, bisa dimanfaatkan sebagai sarana wisata sekaligus meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar.

Kemunculan Kampung Somang di media sosial bahkan sempat viral. Postingan Pojokjabarcom di Facebook menggambarkan fenomena tersebut sebagai peristiwa langka yang memunculkan kembali jejak sejarah kehidupan warga setempat.

Sempat Jadi Lokasi Syuting Film Horor

Sebelum air menyusut, kawasan Kampung Somang sempat dijadikan lokasi pengambilan gambar film horor berjudul Jembatan Shiratal Mustaqim pada akhir 2024 hingga awal 2025. Saat proses produksi berlangsung, sebagian rumah warga sebenarnya sudah mulai terendam air bendungan.

“Bendungan juga sempat disurutkan sedikit untuk syuting film,” kata Maman.

Proses produksi film tersebut melibatkan warga sekitar danau di Kecamatan Sajira. Masyarakat setempat diberdayakan untuk mengisi berbagai posisi, mulai dari pemeran figuran hingga tim teknis produksi di lapangan.

Bendungan Karian: Proyek Strategis Nasional Rp2,2 Triliun

Bendungan Karian dibangun sejak akhir 2015 dan diresmikan Presiden ke-7 RI Joko Widodo pada Januari 2024. Masuk dalam jajaran Proyek Strategis Nasional (PSN), pembangunan waduk raksasa ini menelan anggaran mencapai Rp2,2 triliun.

Waduk dengan daya tampung hingga 315 juta meter kubik dan luas genangan 1.773 hektare ini difungsikan untuk menopang kebutuhan air di wilayah Banten, DKI Jakarta, hingga sebagian Jawa Barat.

Manfaatnya terbagi ke beberapa sektor. Untuk irigasi, bendungan ini mengairi lahan seluas sekitar 22.000 hektare. Sementara untuk air baku, kapasitasnya mencapai 10,6 meter kubik per detik yang dialirkan ke Kabupaten Serang, Kota Serang, Kota Cilegon, dan Kabupaten Lebak.

Menurut Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, air dari Bendungan Karian juga disuplai untuk kebutuhan air perkotaan dan industri, termasuk Kota Tangerang, Kota Tangerang Selatan, Kabupaten Tangerang, dan Kabupaten Bogor. Artinya, sebagian air yang mengalir di keran rumah warga Tangerang Raya berasal dari sumber yang sama dengan kampung yang kini kembali muncul itu.

Bendungan ini juga berfungsi sebagai sarana pengendalian banjir di daerah hilir yang menjadi kawasan strategis, termasuk Jalur Tol Jakarta-Merak dan kawasan industri terpadu.

Bekas Relokasi yang Memakan Korban Memori Warga

Pembangunan bendungan ini membutuhkan pembebasan lahan seluas 2.266,44 hektare. Dalam prosesnya, 37 bangunan fasilitas umum dipindahkan, terdiri dari 6 sekolah, 11 masjid, 5 madrasah, 9 majelis, 6 musala, 4 kantor desa, 1 polindes, dan 3 posyandu.

Lebih dari itu, sebanyak 13.017 makam dari 54 titik tempat pemakaman umum dan makam keramat juga ikut direlokasi, bersama 29 tapak menara PLN dan lahan milik pemerintah.

Bagi mantan penduduk Kampung Somang, penenggelaman kampung meninggalkan dampak yang tidak sekadar kehilangan tempat tinggal. Setelah direlokasi, mereka berpencar ke berbagai daerah. Banyak yang kini tinggal di permukiman sekitar waduk, namun menghadapi keterbatasan akses.

Untuk menjangkau komunitas terdekat, sebagian warga harus menyeberangi waduk sebagai jalur tercepat, atau mengambil jalan memutar yang jauh dan kondisinya rusak. Selama kemarau, sebagian warga juga mengeluhkan kesulitan mendapatkan air bersih.

Kemunculan kembali Kampung Somang pun membawa dua makna yang berbeda. Di satu sisi, ia menjadi tempat wisata dadakan sekaligus ruang nostalgia bagi warga yang pernah bermukim di sana. Di sisi lain, penyusutan air waduk menjadi pengingat pentingnya menjaga ketersediaan sumber daya air di musim kemarau.

Bangunan-bangunan yang kembali muncul dari dasar waduk kini menjadi simbol memori kolektif masyarakat, sekaligus pengingat proses relokasi besar yang pernah mengubah wajah kawasan tersebut selamanya.

Sumber: Facebook Pojokjabarcom, CNN Indonesia, BBC News Indonesia, TangselPos, Setkab.go.id

Portal Berita Cikayasa & Tangerang Raya
Dibangun dengan Hugo
Tema Stack dirancang oleh Jimmy