Featured image of post Kapasitas Pusat Data Indonesia Diproyeksi Tembus 1,7 GW Akhir 2026

Foto: Katadata.co.id/Equinix

Kapasitas Pusat Data Indonesia Diproyeksi Tembus 1,7 GW Akhir 2026

Industri pusat data Tanah Air melonjak tajam. Organisasi Penyedia Pusat Data Indonesia atau IDPRO memproyeksi kapasitas nasional akan tembus 1,7 gigawatt (GW) pada akhir tahun ini, hampir tiga kali lipat dari angka terpasang saat ini. Pertumbuhan itu menempatkan Indonesia sebagai infrastruktur digital terbesar di Asia Tenggara.

Proyeksi ini disampaikan Hendra dari IDPRO dalam acara peluncuran riset DBS Indonesia bertajuk The Sustainability Shift: Indonesia’s Industrial Landscape in Five Key Sectors, di Jakarta, Kamis (20/8). Saat ini kapasitas terpasang nasional baru sekitar 650 megawatt (MW), dan 600 MW di antaranya sudah berada di jaringan IDPRO. Artinya, lonjakan ke 1,7 GW berarti ekspansi hampir 170% dalam hitungan bulan.

“Permintaan justru jauh lebih besar dibandingkan pembangunannya,” kata Hendra, menegaskan bahwa kendala utama bukan kurangnya pasar, melainkan kelambatan infrastruktur pendukung.

Singapura saat ini punya kapasitas pusat data sekitar 1,4 GW. Dengan angka 1,7 GW, Indonesia menggeser posisi邻国 sebagai negara dengan infrastruktur data center terbesar di kawasan.

Lonjakan itu juga didorong oleh gelombang kecerdasan buatan atau AI. Perusahaan global dan pelaku digital membutuhkan data center berkapasitas besar untuk melatih model, menyimpan data, dan menjalankan layanan cloud. Tanpa tambahan infrastruktur yang memadai, pertumbuhan ekonomi digital bisa terhambat.

Tantangan terbesar bukan pada proyek pembangunan gedung pusat data, melainkan jaringan listrik dan transmisi. PLN punya kelebihan pasokan sekitar 6,8 GW, terutama di Pulau Jawa. Sayangnya, penyalurannya ke lokasi proyek terbatas karena menunggu pembangunan gardu induk baru yang bisa memakan waktu dua sampai tiga tahun. Beberapa operator bahkan harus menunda pembangunan karena belum ada jalur transmisi yang siap.

DBS menekankan perlunya “tulang punggung energi” yang lebih kuat dan beralih ke sumber rendah karbon. Saat ini 85% energi primer Indonesia masih berasal dari bahan fosil: batu bara 40%, gas 16%, dan minyak 29%. Sementara itu, potensi energi terbarukan negeri mencapai 3.687 GW, namun pemanfaatannya masih di bawah 0,5%.

Pengembangan baterai penyimpanan, modernisasi jaringan listrik, serta data center ramah lingkungan dianggap krusial untuk mendukung percepatan AI dan pertumbuhan konten digital lokal. Tanpa langkah itu, ekspansi infrastruktur bisa sejalan dengan peningkatan emisi, bukan terlepas darinya.

Bagi warga Cikasungka dan Cikayasa secara umum, pertumbuhan pusat data ini punya resonansi langsung. Infrastruktur digital yang andal mendukung harga internet yang stabil, layanan cloud UMKM yang lebih cepat, serta akses pendidikan dan kesehatan digital di wilayah Tangerang Raya. Di sisi lain, meningkatnya permintaan listrik untuk operasional pusat data juga perlu diimbangi dengan pengembangan energi terbarukan di daerah, agar pertumbuhan digital tidak mengorbankan ketersediaan listrik untuk rumah tangga dan industri kecil.

Hal ini sejalan dengan perkembangan di Kota Tangerang dan Kabupaten Tangerang, yang mulai menarik proyek-proyek digitalisasi. Pemkot Tangsel misalnya, telah mengembangkan berbagai inovasi berbasis teknologi untuk pelayanan publik. Kabupaten Tangerang juga berupaya meningkatkan konektivitas dan layanan digital untuk warga. Semua itu akan semakin meaningful jika infrastruktur pusat data nasional mampu memenuhi kebutuhan kapasitas di masa depan.

Sementara itu, Provinsi Banten juga mulai menarik perhatian investor data center dan AI. Gubernur Andra Soni menerima kunjungan investor asing yang menilai Banten strategis karena tersedianya listrik dan air. Pemerintah provinsi berharap realisasi investasi 2026 bisa melampaui target tahun sebelumnya, sekaligus mendorong hilirisasi dan penyerapan tenaga kerja lokal. Kedatangan investor ini juga diharapkan membawa transfer pengetahuan teknologi bagi UMKM lokal, mulai dari hosting, e-commerce, hingga sistem manajemen usaha berbasis digital.

Dengan kata lain, Indonesia sedang membangun “tulang punggung” digitalnya. Proyeksi 1,7 GW bukan sekadar angka kapasitas, tapi ukuran kesiapan negeri bersaing di era AI. Apakah pertumbuhan itu bisa diikuti oleh kualitas energi dan konektivitas di seluruh wilayah, termasuk Tangerang Raya, akan menentukan seberapa besar manfaatnya yang benar-benar dirasakan masyarakat.

Pemerintah pusat juga mulai mencontohkan langkah konkret. Kementerian Komunikasi dan Digital mempercepat roadmap jaringan 5G dengan target cakupan nasional pada 2029. Spektrum 700 MHz dan 2,6 GHz sudah dirilis dengan biaya lebih terjangkau untuk operator, dan regulasi terus disempurnakan untuk memberikan kepastian investasi jangka panjang. Langkah-langkah itu tidak hanya untuk kota besar, tetapi juga untuk memastikan daerah seperti Cikayasa tidak tertinggal dalam gelombang transformasi digital.

Bagi warga Cikayasa, pertumbuhan data center dan jaringan 5G juga berpotensi mempengaruhi harga kuota internet, kecepatan layanan digital, dan peluang kerja di bidang teknologi. Semakin banyak pusat data yang beroperasi secara efisien dan ramah lingkungan, semakin stabil pula basis digital yang menopang kegiatan ekonomi kreatif, pendidikan daring, dan layanan kesehatan telemedicine di wilayah Tangerang Raya.

Pentingnya infrastruktur pusat data ini juga menyentuh sektor usaha kecil dan menengah. UMKM di Cikasungka dan sekitarnya mulai beralih ke platform digital untuk promosi dan penjualan. Namun, banyak dari mereka masih bergantung pada layanan hosting dan cloud di luar negeri. Jika pusat data nasional benar-benar berkembang, biaya hosting, layanan cloud, dan bandwidth bisa menjadi lebih terjangkau. Hal ini memberi ruang bagi UMKM lokal untuk mengamankan data pelanggan, mempercepat loading website, dan memperluas jangkauan pasar tanpa biaya tinggi.

Selain itu, pertumbuhan data center juga menciptakan kebutuhan tenaga kerja baru. Mulai dari teknisi jaringan, spesialis keamanan siber, hingga engineer AI dan cloud computing. Pemerintah daerah dan perusahaan pelatihan teknologi di Tangerang Raya mulai membuka program sertifikasi untuk menyiapkan tenaga kerja yang kompeten. Kolaborasi antara pusat data, pemerintah daerah, dan perguruan tinggi vokasi dapat menjadi pintu masuk bagi generasi muda Cikayasa menapaki karir di bidang teknologi tanpa harus pindah ke Jakarta.

Di sisi lingkungan, pengembang pusat data mulai mendapatkan tekanan untuk menggunakan energi terbarukan. Equinix dan Google, misalnya, sudah mengumumkan target net-zero untuk operasional data center mereka. Di Indonesia, proyek-proyek seperti BDx Data Center yang menggunakan energi surya di Jatiluhur menjadi contoh awal. Banten, dengan potensi surya dan anginnya, memiliki keunggulan untuk menjadi lokasi data center hijau di masa depan. Gubernur Andra Soni pun menekankan bahwa investasi data center di Banten harus selaras dengan pengembangan energi ramah lingkungan, bukan hanya bergantung pada Batu Bara.

Secara global, persaingan pusat data juga semakin ketat. Amerika Serikat dan Tiongkok telah menempatkan data center sebagai infrastruktur strategis nasional. Uni Eropa bahkan mulai memberlakukan regulasi ketat tentang efisiensi energi bangunan data center. Indonesia, dengan proyeksi 1,7 GW pada akhir 2026 dan target 3,5 GW pada 2030, harus memastikan regulasi dan energi mendukung tumbuhnya industri ini secara berkelanjutan.

Masyarakat Cikayasa dapat mengamati perkembangan ini dari dua sudut: peluang dan tantangan. Peluangnya terlihat dari penurunan biaya internet, munculnya lapangan kerja teknologi, dan peningkatan kualitas layanan publik digital. Tantangannya terletak pada kebutuhan listrik yang besar, potensi peningkatan polusi jika tidak beralih ke energi hijau, dan kesenjangan keahlian tenaga kerja lokal yang masih perlu ditingkatkan.

Langkah konkret yang bisa dilakukan antara lain: mendorong pelatihan digital untuk UMKM dan generasi muda, memastikan proyek data center baru mematuhi standar efisiensi energi, dan meningkatkan kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, dan industri untuk memetakan kebutuhan infrastruktur Tangerang Raya ke dalam roadmap nasional. Jika kelahiran 1,7 GW pusat data pada akhir 2026 ini bisa diiringi dengan peningkatan kapasitas tenaga kerja dan energi hijau di Banten, dampak positifnya akan terasa tidak hanya di pusat kota, tetapi juga di pelosok wilayah seperti Cikasungka.

Sumber: Katadata.co.id

Portal Berita Cikayasa & Tangerang Raya
Dibangun dengan Hugo
Tema Stack dirancang oleh Jimmy