Featured image of post Tuan Rumah Banten Runner-up Kejurnas Catur ke-51, Modal Berharga Menuju Porprov VII

Foto: ANTARA/HO-Dokumentasi Pribadi

Tuan Rumah Banten Runner-up Kejurnas Catur ke-51, Modal Berharga Menuju Porprov VII

Panggung catur nasional kembali bergulir di Banten. Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Catur ke-51 Tahun 2026 yang digelar di Serang pada 23-28 Oktober resmi ditutup dengan Kontingen DKI Jakarta keluar sebagai juara umum, sementara tuan rumah Banten harus puas menempati peringkat kedua. Bagi Banten, hasil ini bukan sekadar catatan klasemen, melainkan tolok ukur nyata sebelum provinsi ini menggelar pesta olahraga sendiri: Porprov VII Banten 2026 di Tangerang Selatan, 15-23 November mendatang.

Jakarta mengumpulkan 17 medali dari 47 atlet yang dikirim, terdiri atas enam emas, empat perak, dan tujuh perunggu. Banten sebagai tuan rumah menempati posisi kedua dengan tiga emas, satu perak, dan satu perunggu. Daerah Istimewa Yogyakarta melengkapi tiga besar dengan tiga emas dan satu perunggu. Kejurnas kali ini mempertemukan hampir 1.000 pecatur dari berbagai daerah, dengan kategori yang membentang lebar: dari kelompok usia U-7 sampai veteran.

Jakarta Terlalu Kuat, Gelar Juara Umum Bertahan

Bagi Jakarta, kemenangan ini adalah pengulangan. Gelar juara umum yang sama sudah mereka bawa pulang dari Kejurnas Catur 2025 di Mamuju, Sulawesi Barat. Artinya, dominasi Percasi DKI Jakarta bukan hasil satu musim keberuntungan, melainkan buah pembinaan yang berjalan berlapis di semua kelompok usia.

Enam emas Jakarta datang dari nomor yang tersebar: IM Satria Duta Cahaya di kategori Open, FM Syarif Mahmud di kategori Veteran, NM Claudio Lasama di U-19 putra, Steven Tan di U-17 putra, WCM Hillary Rooca Theng di U-11 putri, dan Evelyn Tria Lienora di U-9 putri. Empat perak disumbangkan GM Novendra Priasmoro (Open), WCM Theodora Paulina Walukow (Senior Putri), Dominicus Winston Lin (U-15 putra), dan Haidar Manaf Abrisam (U-7 putra). Adapun tujuh perunggu diraih IM Gilbert Elroy Tarigan, WGM Laysa Latifah, Clementia Adeline, PM Uriel Noah Oloan Sidabutar, Safin Aldebaran Amir, Kyle Darrel Gunawan, serta Kaiden Kamsari.

Yang menarik, sebagian besar medali Jakarta justru lahir dari kategori usia muda. Dari enam emas, tiga di antaranya berasal dari kelompok U-11 dan U-9 putri. Pola ini menunjukkan bahwa kekuatan catur Jakarta saat ini tidak dibangun dari segelintir nama senior, tetapi dari regenerasi yang berjalan cukup rapi.

Ketua Percasi DKI Jakarta, Hardiyanto Kenneth, menyebut capaian itu sesuai target yang dipasang sebelum kontingen berangkat ke Serang. Menurutnya, raihan 17 medali adalah hasil persiapan matang, kedisiplinan, kerja sama tim, dan semangat juang atlet. Pria yang akrab disapa Bang Kent itu juga menegaskan bahwa keberhasilan mempertahankan gelar bukan semata soal jumlah medali, melainkan bukti pembinaan atlet yang berkelanjutan.

Banten Finis Kedua di Kandang Sendiri

Di sisi lain, Banten menyelesaikan kejuaraan sebagai runner-up. Tiga emas, satu perak, dan satu perunggu memang masih berjarak tiga emas dari Jakarta, tetapi posisi kedua di antara hampir seribu pecatur dari seluruh Indonesia bukan pencapaian yang bisa dipandang sebelah mata. Terlebih, kejuaraan tahun ini digelar di Pulau Jawa yang secara historis mengirim peserta paling banyak.

Penilaian itu disampaikan Ketua Kontingen Percasi DKI Jakarta, Upi Darmayana Tamin. Menurut dia, persaingan Kejurnas 2026 berlangsung jauh lebih sengit justru karena lokasinya berada di Jawa, sehingga jumlah peserta membludak dan kualitas lawan merata di setiap nomor. Pernyataan tersebut secara tidak langsung memberi konteks pada hasil Banten: finis kedua di kandang sendiri, saat level persaingan sedang di titik tertinggi, adalah modal yang layak diperhitungkan.

Bagi warga Tangerang Raya, posisi Banten ini relevan langsung. Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang, dan Tangerang Selatan adalah bagian dari Provinsi Banten, dan catur menjadi salah satu cabang yang dipertandingkan di Porprov VII yang digelar di wilayah ini. Hanya saja, rincian peraih medali dari masing-masing kabupaten dan kota belum dirilis secara terbuka oleh pengurus provinsi, sehingga kontribusi spesifik tiap daerah belum bisa dipetakan.

Kategori Usia Jadi Medan Pertempuran Sebenarnya

Salah satu pelajaran paling terasa dari Kejurnas tahun ini adalah bergesernya pusat gravitasi persaingan ke kelompok usia dini. Nomor U-7, U-9, U-11, U-13, U-15, U-17, dan U-19 menyumbang porsi medali yang besar, dan di situlah masa depan catur nasional ditentukan.

Peraih emas U-11 putri, WCM Hillary Rooca Theng, mengaku persaingan di nomornya tidak ringan. Ia menyebut lawan terberat datang dari Jawa Timur dan menilai persiapan bersama pelatih Kristianus Liem sebagai kunci hasilnya. Pengakuan itu memberi gambaran bahwa peta kekuatan catur Indonesia kini tidak lagi hanya soal Jakarta, tetapi juga provinsi-provinsi dengan tradisi pembinaan usia muda yang kuat.

Konsekuensinya jelas: daerah yang ingin berprestasi di level nasional harus punya kompetisi rutin untuk anak-anak. Tanpa panggung bertanding yang sering, bakat muda akan sulit naik kelas, sebagaimana terlihat dari atlet-atlet yang tampil di Serang.

Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) VII Banten 2026 dijadwalkan berlangsung di Kota Tangerang Selatan pada 15-23 November 2026. Catur termasuk salah satu cabang yang dipertandingkan, bersama puluhan cabang lain dalam gelaran multi-event provinsi tersebut.

Jarak antara penutupan Kejurnas di Serang dan pembukaan Porprov di Tangerang Selatan hanya sekitar dua setengah minggu. Karena itu, hasil di Serang sebaiknya dibaca sebagai bahan evaluasi cepat, bukan sebagai titik akhir. Pengurus cabang di tingkat kabupaten dan kota punya pekerjaan rumah mendesak: memastikan atlet yang baru bertanding di level nasional tetap dalam kondisi terbaik, sekaligus menutup celah teknis yang terlihat selama kejuaraan.

Di Kabupaten Tangerang, jalur pembinaan sebenarnya sudah berjalan. Percasi setempat menggelar Liga Catur secara berjenjang, dengan putaran keempat digelar di Kantor Kecamatan Cisauk pada 20 September 2026 dan diikuti 102 peserta dari berbagai kecamatan. Format open non-master sengaja dipilih agar pecatur dari semua level mendapat jam bertanding, sekaligus menjadi alat seleksi menuju Porprov.

Wakil Gubernur Banten Achmad Dimyati Natakusumah, saat membuka gelaran tersebut, menempatkan catur sebagai alternatif sehat di tengah tingginya ketergantungan anak pada gawai. Menurut dia, catur melatih anak berpikir jauh ke depan, menghitung konsekuensi langkah, dan menjaga konsentrasi dalam waktu panjang, tanpa membutuhkan fasilitas rumit.

Jakarta 2027 dan Peta Jalan Berikutnya

Kejurnas Catur 2027 direncanakan berlangsung di Jakarta, bertepatan dengan peringatan lima abad atau 500 tahun Kota Jakarta. Tuan rumah menyebut momentum itu sebagai tantangan sekaligus kesempatan untuk membuktikan bahwa mereka tidak hanya mampu menyelenggarakan kejuaraan dengan baik, tetapi juga terus melahirkan atlet berprestasi.

Bagi provinsi lain, termasuk Banten, perpindahan tuan rumah berarti satu hal praktis: berkurangnya keuntungan bermain di kandang. Dua setengah pekan lagi Banten justru akan menjadi tuan rumah Porprov, dan di ajang itulah publik Tangerang Raya bisa melihat langsung apakah pengalaman bertanding di Kejurnas benar-benar berbuah.

Trofi juara umum Jakarta sendiri didedikasikan kepada Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung dan masyarakat ibu kota. Momentumnya juga bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober, dan Kenneth secara khusus mempersembahkan capaian itu kepada generasi muda Indonesia.

Bagi pecatur muda di Cikasungka, Adiyasa, Solear, Cisauk, dan wilayah lain di Tangerang Raya, rangkaian peristiwa Oktober ini menyimpan pesan sederhana: jalur dari turnamen kampung ke panggung nasional memang panjang, tetapi tidak tertutup. Yang dibutuhkan adalah kompetisi yang rutin, pelatih yang konsisten, dan kesempatan bertanding yang tidak berhenti di satu ajang.

Sumber: Kompas.com

Portal Berita Cikayasa & Tangerang Raya
Dibangun dengan Hugo
Tema Stack dirancang oleh Jimmy