Ledakan kecerdasan buatan (AI) yang terjadi dalam dua tahun terakhir ternyata bukan hanya mengubah cara kerja dan produktivitas. Dampaknya kini mulai terasa langsung di kantong konsumen, terutama bagi mereka yang berencana membeli smartphone baru. Harga jual ponsel pintar diprediksi terus merangkak naik, sementara spesifikasi yang ditawarkan justru berpotensi turun.
Kondisi ini dipicu oleh krisis pasokan chip memori yang semakin parah. Permintaan besar-besaran dari industri pusat data AI membuat pasokan RAM dan penyimpanan menjadi langka, dan konsumen biasa yang tidak terkait langsung dengan AI harus menanggung akibatnya.
Harga Smartphone Global Melonjak Hampir 30 Persen
International Data Corporation (IDC) memperkirakan harga jual rata-rata smartphone secara global akan mencapai 581 dolar AS atau sekitar Rp 9,6 juta pada 2026. Angka ini melonjak 27,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan tersebut bukan tanpa alasan — biaya komponen DRAM dan NAND yang merupakan jantung dari setiap smartphone sudah melonjak lebih dari 300 persen secara tahunan.
Permintaan infrastruktur AI yang masif menjadi biang kerok utama. Perusahaan-perusahaan teknologi raksasa seperti Google, Microsoft, dan Meta tengah berlomba-lomba membangun pusat data AI yang membutuhkan kapasitas memori dalam jumlah sangat besar. Kapasitas produksi chip memori yang terbatas kini harus dibagi antara kebutuhan pusat data AI dan perangkat elektronik konsumen seperti smartphone, laptop, dan tablet.
The Guardian melaporkan dampak kenaikan harga ini sudah mulai terlihat di sejumlah pasar. Di Inggris, harga beberapa model iPhone naik hingga 100 poundsterling. Google Pixel 11 Pro XL juga dibanderol 80 poundsterling lebih mahal dibandingkan pendahulunya, meskipun dengan konfigurasi memori yang justru lebih rendah. Pola serupa diprediksi akan terjadi di pasar Indonesia dalam beberapa bulan ke depan.
Produsen Smartphone Murah Paling Terpukul
Kondisi paling berat dirasakan oleh produsen smartphone kelas menengah ke bawah. IDC mengungkapkan biaya memori kini dapat menyumbang lebih dari 65 persen biaya komponen pada perangkat kelas bawah. Artinya, kenaikan harga chip memori berdampak langsung pada harga jual HP murah yang selama ini menjadi andalan mayoritas masyarakat Indonesia.
Pengiriman smartphone global diperkirakan anjlok 16,7 persen menjadi sedikit di atas satu miliar unit pada 2026. Penurunan ini merupakan yang terdalam yang pernah dicatat oleh IDC. Segmen HP di bawah 100 dolar AS menjadi salah satu yang paling terpukul, dengan pengiriman anjlok hampir 60 persen secara tahunan pada kuartal kedua 2026.
Produsen Android pun mulai mengurangi model murah dan menggeser portofolio produknya ke kelas harga lebih tinggi. Bagi konsumen, efeknya bukan hanya kemungkinan harga HP naik. Produsen juga dapat mengurangi kapasitas RAM dan penyimpanan untuk menahan harga jual tetap terjangkau. IDC sebelumnya memperingatkan HP yang tahun lalu menawarkan RAM 12 GB dan penyimpanan 256 GB bisa saja digantikan model dengan RAM 8 GB dan penyimpanan 128 GB pada tingkat harga yang sama.
Dampak untuk Warga Tangerang dan Sekitarnya
Bagi warga Tangerang Raya yang mayoritas mengandalkan smartphone untuk kegiatan sehari-hari — mulai dari berjualan online, bekerja dari rumah, hingga kebutuhan sekolah anak — kenaikan harga dan penurunan spesifikasi ini bisa menjadi masalah nyata. Banyak pelaku UMKM di wilayah Tangerang, Cikupa, Bitung, hingga Cisadane yang menggantungkan penjualan pada marketplace dan media sosial. Smartphone yang memadai untuk menjalankan aplikasi bisnis dengan lancar menjadi kebutuhan pokok, bukan lagi kemewahan.
Jika tren ini berlanjut, masyarakat mungkin harus merelakan spesifikasi yang lebih rendah untuk harga yang sama, atau mengalokasikan budget lebih besar untuk mendapatkan perangkat dengan kemampuan yang setara dengan tahun lalu. Untuk pelaku UMKM yang bergantung pada performa smartphone untuk menjalankan beberapa aplikasi sekaligus — mulai dari WhatsApp Business, Shopee Seller, hingga editing foto produk — pengurangan RAM bisa berdampak langsung pada kelancaran operasional harian.
Produksi Memori Belum Akan Pulih dalam Waktu Dekat
Sayangnya, tekanan pada pasokan memori diperkirakan belum akan cepat berakhir. Reuters melaporkan produsen smartphone dan laptop yang lebih kecil bahkan mulai mendesain ulang produk mereka karena kesulitan mendapatkan pasokan memori yang memadai. Beberapa perusahaan harus memesan komponen jauh sebelumnya tanpa mengetahui harga dan jumlah akhir yang akan mereka peroleh.
Jolla, misalnya, harus membuat dua desain motherboard agar dapat menggunakan konfigurasi chip berbeda tergantung ketersediaan pasokan. Framework mengandalkan desain RAM modular sebagai solusi fleksibel. Sementara itu, CEO SK Hynix — salah satu produsen chip memori terbesar di dunia — sebelumnya memperingatkan 2027 berpotensi menjadi tahun terburuk dari sisi kapasitas pasokan.
Sejumlah pelaku industri bahkan belum memperkirakan kondisi akan kembali normal sebelum 2028. Artinya, konsumen harus bersiap menghadapi situasi harga smartphone yang lebih mahal dan spesifikasi yang lebih rendah untuk setidaknya dua tahun ke depan.
Tips Bertahan di Tengah Krisis RAM
Bagi yang sedang berencana membeli smartphone baru, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk tetap mendapatkan nilai terbaik. Pertama, pertimbangkan untuk membeli perangkat di luar siklus peluncuran utama, ketika harga model lama biasanya sudah turun. Kedua, perhatikan spesifikasi memori secara seksama — jangan terkecoh dengan RAM yang besar jika penyimpanan internalnya minim, atau sebaliknya.
Ketiga, manfaatkan promo dan cicilan 0 persen yang sering ditawarkan oleh marketplace besar seperti Shopee, Tokopedia, dan Lazada. Beberapa toko elektronik di daerah Tangerang juga kerap mengadakan festival belanja dengan diskon menarik. Keempat, pertimbangkan untuk membeli perangkat refurbished atau bekas berkondisi prima yang masih ditawarkan dengan garansi resmi dari produsen.
Situasi krisis RAM ini menjadi pengingat bahwa perkembangan teknologi seperti AI tidak selalu membawa dampak positif bagi semua pihak. Di balik kemajuan besar yang ditawarkan oleh kecerdasan buatan, konsumen biasa harus membayar harga yang lebih tinggi untuk perangkat yang sebelumnya bisa didapatkan dengan budget jauh lebih ringan.
Sumber: detikInet
