Pembelajaran jarak jauh (PJJ) bagi siswa TK hingga SMP di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) resmi berakhir hari ini, Rabu 9 September 2026. Keputusan tersebut dikonfirmasi langsung oleh Wali Kota Tangsel, Benyamin Davnie, di gedung DPRD setempat.
“Kelihatannya cukup hari ini,” ujar Benyamin menjawab pertanyaan wartawan terkait potensi perpanjangan masa PJJ akibat dampak abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Kegiatan belajar dari rumah ini sebelumnya diberlakukan karena kualitas udara di Tangsel dan sekitarnya terganggu oleh sebaran abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau. PJJ sudah berlangsung selama beberapa hari terakhir, memaksa ribuan siswa kembali belajar secara daring setelah sebelumnya sudah sempat menjalani pembelajaran tatap muka normal.
Kondisi Udara Membaik, Angka ISPU Aman
Salah satu alasan utama di balik keputusan mengakhiri PJJ adalah kondisi udara yang sudah membaik. Benyamin Davnie menjelaskan bahwa berdasarkan Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU), angka pencemaran di Tangsel saat ini berada di level 65 — termasuk dalam kategori baik.
Selain itu, arah angin dari erupsi Gunung Anak Krakatau saat ini mengarah ke Barat Daya, bukan ke Timur seperti yang dikhawatirkan sebelumnya. Arah angin ini membuat sebaran abu vulkanik lebih banyak tertuju ke wilayah pesisir barat Banten, mengurangi dampak langsung ke kawasan Tangerang Raya yang berada di sisi timur.
“Saya terserah, nanti hari ini akan dilaporkan,” kata Benyamin soal keputusan akhir yang diserahkan kepada Dinas Pendidikan bersama Dewan Pendidikan serta manajemen kepala sekolah swasta di Kota Tangsel.
Surat Imbauan Provinsi Banten Tidak Mengikat
Sebelumnya, Pemerintah Provinsi Banten mengeluarkan surat edaran yang mengimbau agar PJJ diperpanjang hingga Jumat 11 September 2026. Namun, Benyamin menegaskan bahwa surat tersebut bersifat imbauan, bukan perintah, sehingga keputusan akhir tetap berada di tangan pemerintah kota.
“Ada kemungkinan seperti itu,” jawab Benyamin ketika ditanya apakah artinya PJJ tidak akan diperpanjang lebih lanjut.
Meski demikian, Benyamin tetap menekankan sejumlah catatan penting bagi sekolah yang akan kembali melaksanakan pembelajaran tatap muka. Siswa diwajibkan menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, waktu istirahat dikurangi, dan anak-anak diimbau segera pulang setelah jam sekolah usai.
Langkah hati-hati ini diambil menyusul masih adanya potensi erupsi susulan dari Gunung Anak Krakatau yang masih aktif dalam beberapa pekan terakhir.
Tidak Ada Kenaikan Kasus ISPA
Faktor lain yang mendasari keputusan ini adalah data kesehatan yang menunjukkan tidak adanya peningkatan signifikan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di wilayah Tangsel.
“Info terakhir tidak ada kenaikan angka ISPA,” ujar Benyamin.
Pernyataan ini sejalan dengan data yang disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang, dr. Hendra Tarmizi, yang juga menyatakan bahwa pihaknya belum menemukan warga yang mengalami gangguan kesehatan akibat paparan abu vulkanik secara langsung.
Sementara itu, data dari Dinas Kesehatan Kota Tangsel mencatat sebanyak 4.844 orang terdeteksi mengalami gangguan pernapasan. Namun, angka tersebut merupakan akumulasi sejak 1 Januari hingga akhir pekan ke-34, sehingga belum bisa dikonfirmasi apakah ada kenaikan tajam pascaerupsi.
Pembagian Masker Gratis Masih Berlanjut
Sebagai langkah antisipasi, Pemerintah Kota Tangsel bekerja sama dengan Palang Merah Indonesia (PMI) telah membagikan 14.000 masker gratis kepada masyarakat di tujuh kecamatan. Pembagian dilakukan secara serentak pada Selasa (8/9/2026), dengan 4.000 masker pada pagi hari dan 10.000 masker pada sore hari.
Salah satu titik pembagian berada di Alun-Alun Pamulang, yang juga menjadi lokasi kegiatan PMI Peduli. Wakil Ketua PMI Kota Tangsel sekaligus Kepala Dinas Kominfo, Tb. Asep Nurdin, menjelaskan bahwa pembagian masker dilakukan di seluruh wilayah kecamatan, termasuk Perempatan Muncul, Alun-Alun Pondok Aren, Ciputat, dan Ciputat Timur.
“Kita memang memfasilitasi terkait dengan kesehatan, termasuk pembagian masker ini. Kita ingatkan juga bersama untuk jangan panik, tetapi tetap waspada,” kata Asep.
Benyamin menambahkan, jumlah masker yang tersedia masih terbatas sehingga pihaknya akan mengupayakan tambahan pasokan melalui Dinas Kesehatan Provinsi Banten dan Kementerian Kesehatan. Masyarakat diimbau tidak melakukan panic buying masker karena ketersediaan tetap harus terjaga untuk semua warga.
“Kewaspadaan harus ditingkatkan dengan menggunakan masker saat di luar ruangan. Namun, kewaspadaan ini juga jangan menimbulkan panic buying pada pembelian masker,” tegas Kepala Pelaksana BPBD Kota Tangerang, Mahdiar.
Apa yang Terjadi Selanjutnya?
Dengan berakhirnya PJJ, aktivitas belajar mengajar di TK, SD, dan SMP se-Tangsel dijadwalkan kembali normal mulai Kamis 10 September 2026. Namun, protokol kesehatan tetap diberlakukan — masker wajib digunakan di luar ruangan, dan jam istirahat dikurangi untuk meminimalkan paparan terhadap kualitas udara yang mungkin masih berubah.
Pemerintah kota juga terus memantau perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau melalui PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi). Jika terjadi erupsi susulan dengan sebaran abu ke arah timur, kebijakan PJJ bisa saja diaktifkan kembali sesuai kebutuhan.
Kepala Dinas Kesehatan Tangsel, Fitria Oriza, mengatakan bahwa pihaknya akan terus melakukan pemantauan di setiap puskesmas untuk mendeteksi secara dini apakah ada peningkatan kasus gangguan pernapasan pasca-kembali ke sekolah.
Situasi ini menjadi pengingat bahwa meskipun kondisi sudah membaik, kewaspadaan terhadap potensi bencana alam harus tetap dijaga. Warga Tangsel dihimbau untuk tetap menyimpan masker dan mengikuti perkembangan informasi resmi dari pemerintah.
Sumber: Kabar6.com
