Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (DBMSDA) Kabupaten Tangerang telah merampungkan pembangunan Polder Cibadak yang berlokasi di Kecamatan Cikupa. Infrastruktur pengendalian banjir ini kini resmi beroperasi dan siap menampung limpasan air dari empat desa yang selama ini kerap terdampak genangan saat musim hujan.
Kepala DBMSDA Kabupaten Tangerang Iwan Firmansah memastikan bahwa polder tersebut sudah selesai dibangun dan berfungsi optimal. Ia menjelaskan bahwa keberadaan polder ini diharapkan mampu mengurangi potensi serta dampak banjir yang selama ini menjadi keluhan warga Cikupa, terutama ketika hujan turun dengan intensitas tinggi dan berlangsung cukup lama.
“Kapasitas tampungan Polder Cibadak itu sebesar 7.762 meter kubik. Alhamdulillah sudah selesai dibangun,” kata Iwan, Selasa (15/9/2026).
Polder Cibadak dibangun di atas lahan milik Pemerintah Kabupaten Tangerang seluas 2.847 meter persegi. Infrastruktur ini dirancang khusus untuk menampung limpasan air dari empat desa, yaitu Desa Telaga, Desa Sukanegara, Desa Cibadak, dan Desa Bojong. Dengan cakupan layanan yang luas, polder ini menjadi bagian penting dalam sistem pengendalian banjir di wilayah Kecamatan Cikupa.
Iwan menambahkan, fungsi utama polder bukan sekadar menampung air, tetapi juga mengendalikan limpasan secara aktif. Hal ini memungkinkan proses surut genangan di wilayah terdampak berlangsung lebih cepat dari sebelumnya. “Sehingga durasi maupun kedalaman genangan di wilayah terdampak dapat ditekan,” ujarnya.
Dua Tahap Pengerjaan dengan Total Anggaran Rp9,5 Miliar
Pembangunan Polder Cibadak dilakukan secara bertahap untuk memastikan kualitas konstruksi dan efektivitas fungsi drainase. Tahap pertama dilaksanakan pada Tahun Anggaran 2025 dengan nilai pekerjaan sebesar Rp6,614 miliar. Tahap kedua menyusul pada Tahun Anggaran 2026 dengan alokasi anggaran Rp2,907 miliar.
Dengan demikian, total anggaran yang dikucurkan untuk proyek ini mencapai sekitar Rp9,5 miliar. Investasi ini mencerminkan keseriusan Pemerintah Kabupaten Tangerang dalam mengatasi permasalahan banjir yang menjadi isu tahunan di beberapa kecamatan, termasuk Cikupa yang merupakan salah satu kawasan dengan aktivitas permukiman dan industri yang cukup padat.
Banjir Cikupa: Problem Tahunan yang Kini Punya Solusi
Selama ini, warga empat desa di Kecamatan Cikupa — Telaga, Sukanegara, Cibadak, dan Bojong — rutin menghadapi genangan air setiap kali curah hujan meningkat. Lokasi geografis yang relatif rendah dan sistem drainase yang belum memadai membuat air limpasan dari beberapa desa saling bertumpuk, memperparah kedalaman dan durasi genangan.
Masalah banjir di Cikupa bukan sekadar soal kenyamanan. Genangan yang berlangsung lama dapat merusak infrastruktur jalan, mengganggu aktivitas warga, hingga berpotensi menimbulkan risiko kesehatan seperti penyakit kulit dan demam berdarah. Untuk itu, kehadiran Polder Cibadak menjadi harapan baru bagi masyarakat setempat.
Dengan kapasitas tampung 7.762 meter kubik, polder ini mampu menampung volume air yang signifikan dari empat desa sekaligus. Air yang terkumpul kemudian dikendalikan proses surutnya secara terukur, sehingga tidak langsung meluap ke pemukiman atau jalan utama.
Peran Polder dalam Sistem Pengendalian Banjir Modern
Secara teknis, polder adalah sistem pengendalian air yang berfungsi menampung dan mengatur aliran air di suatu kawasan. Berbeda dengan saluran drainase konvensional yang hanya mengandalkan gravitasi, polder dilengkapi pompa dan bak penampung yang memungkinkan pengelolaan air secara aktif.
Di wilayah dataran rendah seperti Cikupa, polder menjadi solusi yang lebih efektif dibandingkan sekadar memperlebar saluran air. Dengan adanya bak penampung, air limpasan bisa ditampung sementara dan dibuang secara bertahap melalui pompa, sehingga tidak terjadi penumpukan volume air yang menyebabkan genangan.
Iwan menegaskan bahwa pembangunan polder ini merupakan bagian dari strategi besar Pemkab Tangerang dalam meningkatkan ketahanan air di berbagai kecamatan. “Dengan demikian, proses surut genangan dapat berlangsung lebih cepat dan dampak banjir terhadap masyarakat dapat diminimalkan,” jelasnya.
Dampak untuk Masyarakat Cikupa
Keberadaan Polder Cibadak diproyeksikan memberikan dampak langsung bagi ribuan warga di empat desa penerima manfaat. Selain mengurangi frekuensi dan intensitas banjir, polder ini juga diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat, terutama bagi yang selama ini harus beraktivitas dalam kondisi genangan rutin.
Selain aspek kenyamanan, infrastruktur ini juga berpotensi mendukung aktivitas ekonomi warga. Kawasan Cikupa yang merupakan pintu masuk utama dari arah Jakarta menuju Kabupaten Tangerang memiliki potensi ekonomi yang cukup besar, mulai dari perdagangan hingga industri kecil menengah. Kondisi bebas banjir tentu akan memberikan kepastian bagi pelaku usaha dan masyarakat pengguna jalan.
Pembangunan Polder Cibadak ini juga menjadi bukti bahwa alokasi anggaran infrastruktur drainase di Kabupaten Tangerang terus meningkat dari tahun ke tahun. Kombinasi antara perencanaan bertahap dan alokasi anggaran yang konsisten menjadi kunci keberhasilan proyek semacam ini.
Harapan ke Depan
Meski Polder Cibadak sudah rampung, Iwan mengakui bahwa pengendalian banjir di Kabupaten Tangerang masih membutuhkan penanganan komprehensif. Pihaknya berencana untuk terus memantau kinerja polder selama musim hujan mendatang, sekaligus melakukan evaluasi terhadap sistem drainase pendukung di sekitar kawasan Cikupa.
Warga setempat pun menyambut baik rampungnya polder ini. Selama ini, mereka harus rela rumah dan jalan lingkungan terendam air setiap kali hujan datang dengan curah tinggi. Dengan adanya polder, harapan untuk kehidupan yang lebih nyaman dan bebas genangan kini semakin nyata.
Proyek Polder Cibadak menjadi contoh konkret bagaimana pemerintah daerah merespons keluhan masyarakat dengan solusi infrastruktur yang terencana dan terukur. Semoga keberhasilan ini dapat diikuti oleh pembangunan polder serupa di kecamatan lain yang juga menghadapi permasalahan banjir serupa.
Sumber: Lensametro.com
