Era pembayaran tunai perlahan tersisihkan. Di tengah masyarakat yang kian terbiasa dengan dompet digital, kehadiran uang kertas dan koin di dompet jadi semakin langka. Namun, situasi ini justru menimbulkan tantangan baru di sektor layanan publik, khususnya parkir tepi jalan. Juru parkir kerap kerepotan menyediakan uang kembalian, sementara pengendara bingung ketika hanya membawa uang dalam pecahan besar.
Di sinilah inovasi terbaru dari Netzme hadir. Perusahaan teknologi asal Indonesia ini meluncurkan QRIS Pocket, perangkat ringkas yang dirancang khusus untuk memudahkan transaksi pembayaran parkir berbasis kode QR standar nasional.
Latar Belakang: Parkir dan Tantangan Uang Tunai
Di Indonesia, parkir tepi jalan masih mengandalkan uang tunai sebagai metode pembayaran utama. Setiap hari, jutaan transaksi parkir terjadi di berbagai kota, mulai dari Rp2.000 untuk motor hingga Rp5.000 atau lebih untuk mobil. Namun, tren masyarakat membawa uang tunai semakin menurun seiring popularitas dompet digital seperti GoPay, OVO, Dana, dan LinkAja.
Kondisi ini menciptakan kesenjangan. Di satu sisi, pengendara increasingly tidak membawa uang tunai. Di sisi lain, juru parkir masih harus bergantung pada pembayaran manual. Akibatnya, sering muncul situasi tidak nyaman: pengendara tidak punya uang pas, juru parkir kehabisan kembalian, atau transaksi terpaksa dibatalkan.
Apa Itu QRIS Pocket?
QRIS Pocket adalah perangkat pembayaran digital berukuran kecil yang mudah dibawa ke mana-mana. Bentuknya yang compact menjadikannya sangat praktis untuk juru parkir yang harus berpindah-pindah melayani pengendara di lapangan.
“QRIS Pocket merupakan salah satu inovasi terbaru Netzme yang kami hadirkan untuk mendukung kebutuhan transaksi dengan mobilitas tinggi, seperti layanan parkir,” kata Regional Head of Central Java Hub Solo Netzme, Pribadie Utomo.
Yang menarik, perangkat ini tidak hanya mendukung satu metode pembayaran. QRIS Pocket Netzme dibekali fleksibilitas tiga skema transaksi sekaligus, sehingga pengendara bisa memilih cara bayar yang paling nyaman.
Kolaborasi Empat Pihak
Peluncuran QRIS Pocket di Surakarta bukan sekadar inisiatif satu perusahaan. Ini adalah hasil kolaborasi empat pihak: Netzme, Bank Indonesia Kantor Perwakilan Solo, Pemerintah Kota Surakarta, dan Dinas Perhubungan Kota Surakarta.
Serah terima perangkat secara simbolis dilangsungkan di halaman Kantor Dinas Perhubungan Kota Surakarta bertepatan dengan ajang Dishub Fun Run dalam rangka Hari Perhubungan Nasional. Pada tahap awal, sebanyak 85 unit perangkat QRIS Pocket telah diterjunkan dan mulai digunakan oleh juru parkir di empat kawasan utama Solo, yaitu Jalan Slamet Riyadi, Jalan Gatot Subroto, Jalan Teuku Umar, dan Jalan Dr. Rajiman.
Deputi Bank Indonesia KPw Solo, Pramudya Wicaksana, turut hadir dalam acara tersebut bersama Kepala Bank Jateng Solo, Septo, serta Kepala Dinas Perhubungan Kota Surakarta, Taufiq Muhammad. Kehadiran para pemangku kepentingan ini menegaskan keseriusan semua pihak dalam mendorong digitalisasi layanan parkir.
Manfaat untuk Pengendara dan Juru Parkir
Bagi pengendara, kehadiran QRIS Pocket artinya tidak perlu lagi repot mencari uang tunai atau khawatir tidak punya uang kembalian. Cukup scan kode QR, pembayaran langsung selesai dalam hitungan detik.
Sementara itu, bagi juru parkir, perangkat ini menghilangkan beban harus menyediakan uang kembalian dalam berbagai pecahan. Tidak perlu lagi khawatir kehabisan recehan di tengah hari yang sibuk.
Namun, Pemerintah Kota Surakarta memastikan bahwa pembayaran tunai konvensional tetap disediakan sebagai alternatif bagi warga yang belum terbiasa dengan transaksi digital. Ini penting agar tidak ada yang merasa terpinggirkan oleh gelombang transformasi teknologi.
Transparansi dan Akuntabilitas Parkir
Lebih dari sekadar kemudahan transaksi, penggunaan QRIS Pocket membawa misi besar dalam menciptakan tata kelola perparkiran yang transparan dan akuntabel.
Wali Kota Surakarta, Respati Achmad Ardianto, menilai bahwa pencatatan transaksi secara digital akan sangat membantu memantau realisasi pemasukan daerah serta mempermudah sistem pembagian hasil dengan juru parkir secara akurat.
Selama ini, pendapatan parkir tepi jalan sulit dipantau secara real-time. Dengan pencatatan digital, setiap transaksi terekam otomatis dan bisa dijadikan dasar pengambilan keputusan oleh pemerintah daerah. Potensi kebocoran pendapatan pun bisa diminimalisasi.
QRIS: Standar Nasional yang Semakin Meluas
Perlu diketahui, QRIS (Quick Response Indonesia Standard) adalah standar kode QR untuk pembayaran digital yang ditetapkan Bank Indonesia sejak 2020. Dalam waktu relatif singkat, QRIS telah menjadi metode pembayaran digital paling populer di Indonesia, dengan jumlah transaksi yang terus meningkat tiap tahun.
Keunggulan QRIS terletak pada interoperabilitasnya. Satu kode QR bisa dipindai oleh berbagai dompet digital, dari GoPay hingga Dana, dari OVO hingga ShopeePay. Ini berarti pedagang atau juru parkir tidak perlu menyiapkan beberapa kode QR berbeda untuk melayani pelanggan dengan dompet digital yang berbeda pula.
Hadirnya QRIS Pocket membawa konsep ini lebih jauh, yaitu dari kode QR statis yang ditempel di tembok menjadi perangkat portabel yang bisa dibawa ke mana-mana. Ini adalah lompatan logis mengingat sifat layanan parkir yang menuntut mobilitas tinggi.
Inspirasi untuk Tangerang Raya
Meskipun QRIS Pocket saat ini baru diterapkan di Solo, konsepnya sangat relevan dengan kondisi Tangerang Raya. Kawasan seperti Kota Tangerang, Tangerang Selatan, dan Kabupaten Tangerang memiliki aktivitas parkir tepi jalan yang cukup tinggi di sejumlah ruas jalan utama.
Dengan adopsi serupa, juru parkir di Tangerang Raya bisa mendapatkan kemudahan yang sama. Pengendara pun tidak perlu lagi khawatir soal uang kembalian saat hendak memarkir kendaraan.
Netzme menyatakan komitmennya untuk memperluas ekosistem pembayaran digital berbasis QRIS pada sektor layanan publik harian. Dengan 85 unit yang sudah beroperasi di Solo, bukan tidak mungkin kota-kota lain, termasuk di kawasan Tangerang Raya, akan menjadi target ekspansi berikutnya.
Transformasi digital di sektor parkir baru dimulai. Namun, langkah kecil ini menjadi penanda bahwa pembayaran nontunai bukan lagi tren masa depan, melainkan kebutuhan masa kini yang sudah saatnya diadopsi secara luas.
Sumber: Liputan6.com
