SERANG — Laga final sepak bola antarkampung (tarkam) antara kesebelasan Persada dan Bendungan di Lapangan Kampung Cikurai, Desa Rancasanggal, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, berakhir ricuh, Minggu (25/10/2026) sore. Pertandingan baru berjalan sekitar 15 menit ketika benturan antarpemain melebar menjadi adu fisik, lalu berubah jadi bentrokan pemain dan suporter. Polisi bersama perangkat kecamatan dan desa akhirnya menghentikan paksa pertandingan yang ternyata tidak mengantongi izin.
Hasil akhirnya tidak biasa: tidak ada juara pertama dan kedua, tidak ada pemenang. Sebagai jalan tengah, panitia memberikan kompensasi yang sama kepada kedua tim berupa seekor kambing.
Kronologi bermula dari benturan pemain
Kapolsek Cinangka, AKP Romizal, menjelaskan insiden terjadi sekitar pukul 16.00 WIB. Kericuhan bermula ketika seorang pemain Bendungan terjatuh setelah berbenturan dengan pemain Persada. Gesekan itu memanas setelah salah satu pemain menendang lawan, sehingga memicu adu fisik di pinggir lapangan.
“Ketika terjadi adu fisik antarpemain, suporter dari Bendungan masuk lapangan dan ikut menyerang pemain Persada. Karena merasa tidak terima pemain Persada diserang, suporter lainnya ikut masuk ke lapangan sehingga terjadi keributan antarpemain dan suporter,” kata Romizal, Senin (26/10/2026).
Menurutnya, lapangan yang semula dipadati penonton langsung berubah tegang. Aparat kepolisian, pihak kecamatan, dan perangkat desa yang hadir di lokasi bergerak cepat menghentikan pertandingan agar bentrokan tidak meluas ke luar arena.
Pertandingan itu sebenarnya dihadiri sejumlah pejabat setempat, antara lain Kepala Desa Rancasanggal Halimi, Sekretaris Kecamatan (Sekmat) Cinangka Yusron, dan Ketua Panitia Eko Budianto. Mereka bersama Kanit Intel Polsek Cinangka langsung meminta kedua tim menghentikan laga, dan permintaan itu disepakati kedua kubu.
Polisi memastikan tidak ada korban jiwa maupun korban luka berat dalam peristiwa tersebut. Meski begitu, kasus kericuhan masih ditangani Polsek Cinangka bersama Polres Cilegon.
Bukan yang pertama: sudah dua kali dalam sepekan
Yang membuat persoalan ini serius, kericuhan serupa ternyata sudah terjadi dua kali dalam sepekan, yaitu pada Selasa (20/10/2026) dan Minggu (25/10/2026). Setelah insiden pertama, polisi memanggil kepala desa dan panitia pelaksana untuk meminta klarifikasi soal perizinan.
Saat itu, menurut Romizal, kades dan panitia meminta agar turnamen tetap dilanjutkan karena kompetisi telah memasuki babak semifinal. Polisi memberi kelonggaran dengan catatan kepala desa dan panitia menjamin keributan tidak terulang. Jaminan itu dituangkan dalam surat yang ditandatangani ketua panitia, ofisial, dan sekretaris, serta diketahui kepala desa. Panitia bahkan menyatakan bersedia bertanggung jawab secara hukum bila terjadi insiden yang menimbulkan kerugian materi maupun korban jiwa.
Namun empat hari kemudian, jaminan tersebut tidak mampu mencegah kericuhan di partai puncak. Polisi pun menegaskan bahwa penyelenggaraan pertandingan tidak pernah mendapat izin, baik tertulis maupun lisan. Polres Cilegon juga dinyatakan tidak menerbitkan izin kegiatan itu.
“Kami dari Polsek Cinangka tidak membatasi atau melarang kegiatan positif yang dilaksanakan di wilayah Cinangka. Akan tetapi, prosedur harus tetap ditempuh, terlebih kegiatan ini dianggap rawan dari segi pemain dan penonton atau suporter,” ujar Romizal.
Dari sisi penyelenggara, Kepala Desa Rancasanggal menyatakan kepada polisi bahwa pertandingan tersebut merupakan agenda tahunan yang selama ini berlangsung tanpa keributan. Pemerintah desa meminta kepolisian ikut mengawal pertandingan agar warga yang kampungnya lolos ke semifinal tidak kecewa.
Sementara panitia mengakui penyelenggaraan pertandingan hanya berlandas izin lisan dari kepala desa. Mereka mengira persetujuan itu cukup, seperti yang dilakukan pada tahun-tahun sebelumnya, tanpa mengurus perizinan ke kepolisian.
“Permohonan maaf dari ketua panitia dan seluruh tim official karena ketidaktahuan kami, sehingga izin tersebut, sebagaimana yang sudah-sudah, cukup dari kepala desa dan itu pun lisan, bukan tertulis,” demikian pernyataan ketua panitia yang disampaikan kepolisian.
Islah enam poin, kedua tim sepakat tanpa juara
Setelah kericuhan, kepala desa dan Ketua Panitia Eko Budianto memimpin musyawarah dan islah antarperwakilan kedua tim. Hasilnya dituangkan dalam enam poin kesepakatan.
Pertama, semua pihak sepakat berislah untuk menjaga silaturahmi. Kedua, pertandingan tidak dilanjutkan karena dinilai lebih besar mudaratnya dibanding manfaatnya. Ketiga, perwakilan masing-masing tim siap bertanggung jawab dan saling meredakan ketegangan.
Keempat, disepakati tidak ada juara 1 dan juara 2, serta tidak ada pemenang dalam turnamen tersebut. Kelima, sebagai bentuk pendinginan, panitia memberikan perlakuan yang sama kepada kedua tim, yaitu kompensasi berupa seekor kambing untuk masing-masing kesebelasan. Keenam, akan diagendakan pertemuan formal di tingkat desa dengan mengundang pihak keamanan, sekaligus penyerahan kambing kepada kedua tim sebagai bentuk komitmen atas keputusan panitia.
Kultur tarkam yang hidup, tapi kerap abai prosedur
Peristiwa di Cinangka bukan kasus yang berdiri sendiri. Sepak bola antarkampung adalah denyut olahraga paling dekat dengan warga di Banten, termasuk di Tangerang Raya. Turnamen-turnamen kecil digelar bergiliran dari satu desa ke desa lain, dari lapangan tanah sampai lapangan beton di tepi jalan, dengan penonton yang datang beramai-ramai membawa anak dan tetangga.
Tarkam juga bukan sekadar tanding. Di banyak kampung, turnamen menjadi ajang silaturahmi antarkampung, panggung bagi pemain muda yang bermimpi masuk klub profesional, sekaligus penggerak ekonomi kecil-kecilan: warung tenda, pedagang es, parkir, sampai jasa penyewaan tenda dan sound system. Turnamen berskala lebih besar pun rutin dihelat di Tangerang Raya, dari kompetisi antarkampung bertajuk Piala Wali Kota Tangerang yang mempertemukan puluhan tim, sampai turnamen futsal putri pelajar dan kejuaraan antarkampus.
Masalahnya, semangat warga sering tidak dibarengi tata kelola. Panitia biasanya dibentuk mendadak, dana dikumpulkan dari urunan dan sponsor kecil, sedangkan pembahasan soal izin keramaian, pengamanan, dan pemisahan penonton dari area permainan jarang masuk agenda. Pola inilah yang berulang di Cinangka: panitia berpegang pada izin lisan, penonton berdiri tepat di sisi lapangan, dan ketika ada benturan keras, tidak ada jarak yang cukup untuk mencegah suporter ikut masuk arena.
Kericuhan di level elite juga menunjukkan bahwa persoalan suporter bukan perkara kelas turnamen. Pada pertengahan Oktober 2026, laga Persita Tangerang melawan Persija Jakarta di Banten International Stadium berujung ricuh antarsuporter, lengkap dengan kerusakan fasilitas dan sanksi denda yang menembus ratusan juta rupiah. Ketika klub sekelas Liga pun masih kesulitan mengendalikan emosi pendukung, turnamen kampung yang digelar tanpa pengamanan resmi jauh lebih rentan.
Yang seharusnya disiapkan penyelenggara
Dari kasus ini setidaknya ada empat hal yang bisa dipelajari panitia turnamen kampung di mana pun, termasuk di Cikasungka, Adiyasa, dan desa-desa lain di Kabupaten Tangerang.
Pertama, izin dan pemberitahuan kepada kepolisian serta pemerintah kecamatan sebaiknya diurus sejak jauh hari, bukan lisan beberapa hari sebelum final. Kedua, panitia perlu menyiapkan pengamanan internal dan meminta pengawalan aparat untuk laga-laga berisiko tinggi, terutama partai semifinal dan final yang menontonnya paling ramai.
Ketiga, jarak aman antara penonton dan lapangan harus dibuat fisik, misalnya pagar pembatas atau barisan steward, bukan sekadar imbauan pengeras suara. Keempat, panitia mesti berani menegakkan sanksi sejak gejala awal: menghentikan pertandingan saat keributan pertama terjadi, bukan memberi kelonggaran dengan jaminan lisan yang sulit dipertanggungjawabkan.
Polisi menegaskan pihaknya tidak anti terhadap kegiatan olahraga rakyat. Yang dituntut hanya prosedur, terutama karena pertandingan sepak bola kampung menyedot penonton dalam jumlah besar dan kerap melibatkan rivalitas antardesa yang sudah berumur.
Bagi warga Rancasanggal dan Cinangka, keputusan islah dengan kompensasi kambing untuk kedua tim mungkin terasa sebagai jalan damai yang paling masuk akal. Namun di balik itu, ada pekerjaan rumah yang lebih besar: memastikan turnamen tahun depan tidak lagi berakhir dengan lemparan batu dan adu fisik, melainkan dengan trofi yang diangkat tanpa rasa takut.
Sumber: BantenNews.co.id
