Video yang menampilkan seekor ikan emas bergerak lincah di dalam air sempat bikin heboh jagat maya minggu ini. Bukan ikan asli, melainkan robot bionik buatan peneliti Cina yang diklaim bisa berenang, menyelam, dan berbelok secara otonom tanpa dikendalikan dari jarak jauh. Teknologi ini menarik perhatian dunia karena dianggap sebagai lompatan besar dalam eksplorasi bawah laut.
Robot ikan tersebut pertama kali diperkenalkan dalam konferensi OCEANS 2026 Sanya International Marine Technology di Sanya, Cina, pada Mei lalu. Namun video yang beredar viral di media sosial pada Agustus 2026 membuat masyarakat luas baru mengetahuinya. Dikutip detikInet dari berbagai sumber internasional, robot ini dikembangkan oleh Shanghai Ocean University dan diberi nama “Golden Scale” karena meniru bentuk ikan arwana emas.
Spesifikasi dan Kemampuan
Dengan panjang 53 sentimeter, robot ikan ini tidak sekadar meniru penampilan ikan arwana emas secara visual. Para insinyur berhasil mereplikasi bentuk sisik, gerakan tubuh, hingga cara berenang yang sangat mirip ikan asli. Perbedaannya terletak pada “otak” robotik yang ditenagai oleh sistem artificial neuron — jaringan saraf buatan yang memungkinkan robot membuat keputusan sendiri saat bergerak di dalam air.
Sistem navigasi otonom ini memungkinkan Golden Scale untuk menyelam, meluncur, dan berbelok tanpa perintah dari operator. Robot ini juga dilengkapi dengan sonar yang dipasang di bagian kepala untuk memantau kondisi bawah laut secara real-time. Selain sonar, terdapat kamera optik, berbagai sensor lingkungan, serta teknologi pemetaan posisi yang memungkinkan robot mengumpulkan data secara mandiri.
Yang membuatnya makin canggih, Golden Scale dirancang bisa berbaur dengan gerombolan ikan asli di laut. Kemampuan ini sangat berharga untuk operasi pengawasan bawah laut secara sembunyi-sembunyi, karena robot tidak akan mudah terdeteksi oleh makhluk laut lainnya maupun oleh pihak yang menjadi target pemantauan.
Versi Lebih Besar: Robot Paus Hiu
Tidak hanya Golden Scale, peneliti Cina juga mengembangkan varian yang lebih besar — robot berbentuk paus hiu (whale shark) yang mampu berenang di lingkungan laut yang lebih kompleks. Robot paus hiu ini dilengkapi sensor, kamera optik, dan sistem navigasi posisi yang memungkinkannya menjelajahi area laut dalam untuk keperluan inspeksi dan pemantauan.
Kedua robot tersebut merupakan bagian dari program riset bawah laut Cina yang semakin agresif dalam beberapa tahun terakhir. Angkatan Laut Cina juga dilaporkan telah mengembangkan versi khusus robot ikan bionik yang dilengkapi sonar untuk keperluan pengawasan militer di laut.
Konteks: Perlombaan Robot Biomimetik Global
Cina bukan satu-satunya negara yang mengembangkan robot berbentuk ikan. Massachusetts Institute of Technology (MIT) telah lebih dulu memperkenalkan SoFi — robot ikan lunak (soft robotic fish) yang diuji coba di laut lepas. SoFi mampu berenang dalam tiga dimensi dan telah digunakan untuk mempelajari perilaku ikan di habitat aslinya tanpa mengganggu ekosistem.
Namun, ada perbedaan signifikan antara SoFi dan Golden Scale. SoFi dirancang untuk penelitian akademik, sementara Golden Scale dibekali kemampuan navigasi otonom berbasis AI yang jauh lebih maju. Sistem artificial neuron yang ditanamkan memungkinkan robot ini belajar dari lingkungan sekitarnya dan menyesuaikan gerakan secara adaptif.
Perkembangan robot biomimetik ini juga didorong oleh kemajuan di bidang soft robotics —Cabang ilmu robotika yang menggunakan material fleksibel menyerupai jaringan hidup. Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Biomimetics pada 2023 menunjukkan bahwa robot ikan lunak terinspirasi dari struktur otot merah dan tendon ikan mampu mencapai kecepatan renang yang signifikan meskipun ukurannya kecil.
Potensi Penerapan di Indonesia
Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia memiliki kepentingan besar dalam teknologi eksplorasi bawah laut. Dari pemantauan terumbu karang di Raja Ampat hingga inspeksi infrastruktur bawah laut di Selat Sunda, robot bionik seperti Golden Scale berpotensi menggantikan metode survei konvensional yang mahal dan berisiko tinggi.
Kementerian Kelautan dan Perikanan RI telah berupaya memperkuat kapasitas pengawasan laut melalui teknologi, termasuk penggunaan drone bawah laut (autonomous underwater vehicle/AUV). Namun, AUV konvensional berbentuk torpedo masih memiliki keterbatasan dalam hal kebisingan dan kemampuan baur dengan lingkungan laut.
Robot ikan bionik menawarkan keunggulan tersendiri: bentuknya yang menyerupai ikan asli membuatnya tidak mengganggu ekosistem laut saat melakukan pemantauan. Untuk wilayah seperti Kepulauan Seribu atau perairan Tangerang yang memiliki ekosistem pesisir penting, teknologi ini bisa menjadi alat monitoring yang ideal.
Selain untuk penelitian lingkungan, potensi penerapan di sektor pertahanan dan keamanan laut juga sangat besar. Indonesia yang menghadapi berbagai tantangan di laut — mulai dari pencurian ikan ilegal hingga pemantauan lalu lintas kapal asing — membutuhkan solusi pemantauan bawah laut yang efisien dan sulit terdeteksi.
Tantangan dan Proyeksi ke Depan
Meskipun terdengar menjanjikan, masih ada tantangan besar yang harus diatasi sebelum robot ikan bionik bisa digunakan secara massal. Daya tahan baterai masih menjadi masalah utama — kebanyakan robot bawah laut hanya mampu beroperasi selama beberapa jam sebelum harus diisi ulang. Selain itu, komunikasi data di bawah air masih jauh lebih lambat dibandingkan di udara, yang membatasi kemampuan robot untuk mengirim data secara real-time ke stasiun pengendali.
Biaya produksi juga menjadi pertimbangan. Setiap unit robot bionik membutuhkan material khusus yang tahan tekanan air laut dan komponen elektronik presisi tinggi. Namun, seiring perkembangan teknologi material dan miniaturisasi elektronik, harga produksi diperkirakan akan turun signifikan dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan.
Tren robotika bawah laut global menunjukkan bahwa investasi di bidang ini akan terus meningkat. Laporan dari berbagai lembaga riset memproyeksikan pasar robot bawah laut global akan mencapai miliaran dolar AS pada akhir dekade ini. Cina, AS, Jepang, dan Korea Selatan sudah berlomba-lomba, dan Indonesia tidak boleh ketinggalan kereta.
Dengan sumber daya laut yang melimpah dan kebutuhan mendesak akan pemantauan ekosistem pesisir, robot ikan bionik bisa menjadi salah satu teknologi yang paling dibutuhkan Indonesia di masa depan. Yang pasti, tontonan ikan emas bergerak sendiri di dalam air bukan lagi sekadar fiksi ilmiah — itu adalah kenyataan yang sudah di depan mata.
Sumber: detikInet
