Wali Kota Tangerang H. Sachrudin meminta Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Tangerang tidak berhenti pada urusan dakwah semata. Menurutnya, organisasi keagamaan sebesar NU punya modal sosial yang cukup besar untuk ikut mengurai persoalan warga, mulai dari pengangguran hingga lemahnya daya beli masyarakat kecil.
Ajakan itu disampaikan Sachrudin saat membuka Musyawarah Kerja Cabang (Muskercab) I PCNU Kota Tangerang di Pusdiklat Kementerian Agama, Ciputat, Tangerang Selatan, Sabtu (24/10/2026). Forum tersebut berlangsung dua hari, 24-25 Oktober 2026, dengan tema mendorong transformasi inisiatif, mengintegrasikan basis digital, dan memandirikan ekonomi umat secara holistik dan berkelanjutan.
Pembangunan Fisik Harus Sejalan dengan Karakter Warga
Di hadapan peserta musyawarah, Sachrudin menegaskan bahwa kemajuan sebuah kota tidak bisa diukur hanya dari panjang jalan yang diperbaiki atau jumlah gedung yang berdiri. Ada ukuran lain yang menurutnya sama penting, yaitu kualitas manusia yang tinggal di dalamnya.
“Pembangunan kota tidak cukup hanya diwujudkan melalui infrastruktur yang memadai, ekonomi yang berkembang, maupun pelayanan publik yang berkualitas. Semua itu harus berjalan beriringan dengan penguatan karakter, kualitas sumber daya manusia, serta kehidupan masyarakat yang aman, damai, dan harmonis,” kata Sachrudin.
Pernyataan itu bukan tanpa alasan. Kota Tangerang selama beberapa tahun terakhir gencar mengejar pembangunan fisik, termasuk penataan kawasan dan perbaikan ruang publik. Namun persoalan sosial seperti kenakalan remaja, sampah rumah tangga, hingga ketimpangan antarwilayah tetap muncul di tingkat kelurahan. Di titik inilah Sachrudin melihat peran ulama dan organisasi keagamaan menjadi relevan.
Menurut dia, NU punya kedekatan yang tidak dimiliki institusi mana pun dengan warga di tingkat bawah. Kyai dan pengurus ranting NU biasanya lebih dulu tahu ketika sebuah keluarga kesulitan ekonomi atau ketika remaja di kampung mulai kehilangan arah.
“Peran NU sangat strategis dalam menjaga nilai-nilai Islam yang moderat, merawat persatuan, serta memperkuat akhlak masyarakat,” ujarnya.
Tiga Bidang yang Ditawarkan untuk Kolaborasi
Dalam sambutannya, Sachrudin menyebut sejumlah ruang kolaborasi konkret yang bisa segera dijajaki PCNU bersama Pemerintah Kota Tangerang. Pertama, pengembangan kewirausahaan dan pendampingan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Menurutnya, banyak warga sekitar masjid dan musala yang punya usaha kecil tetapi kesulitan mengakses pelatihan, permodalan, maupun pasar.
Kedua, penguatan lembaga pendidikan Islam. Kota Tangerang memiliki banyak madrasah diniyah dan pondok pesantren kecil yang beroperasi dengan sumber daya terbatas. Sachrudin berharap PCNU bisa membantu peningkatan kapasitas guru dan tata kelola lembaga-lembaga tersebut agar mutunya sejajar dengan sekolah formal.
Ketiga, aksi kepedulian sosial. Program seperti santunan anak yatim, bantuan bagi lansia sebatang kara, dan gerakan warga peduli lingkungan disebutnya akan jauh lebih efektif jika dijalankan bersama jaringan NU yang sudah punya struktur sampai tingkat ranting.
“Muskercab ini harus menjadi momentum strategis untuk merumuskan program kerja yang tidak hanya memperkuat organisasi, tetapi juga selaras dengan kebutuhan masyarakat dan arah pembangunan Kota Tangerang,” tambah Sachrudin.
Ia menilai sinergi yang kuat antara ulama dan pemerintah akan menjadi modal penting untuk membangun lingkungan sosial yang harmonis. Kolaborasi itu juga dibutuhkan agar kesempatan masyarakat untuk berkembang semakin terbuka, bukan hanya bagi warga yang tinggal di pusat kota.
Pemerintah Tidak Bisa Bekerja Sendirian
Sachrudin juga menyampaikan bahwa pemerintah kota memiliki keterbatasan anggaran dan jangkauan. Dengan jumlah penduduk yang terus bertambah, tidak semua persoalan bisa diselesaikan lewat program dinas. Karena itu, keterlibatan seluruh elemen masyarakat, termasuk PCNU, dinilai menjadi kunci agar berbagai program pembangunan bisa menjangkau lebih banyak warga.
“Pembangunan yang membawa kemaslahatan tidak dapat dikerjakan pemerintah sendiri,” tegasnya.
Ia pun menutup sambutan dengan harapan agar PCNU tetap menjadi mitra strategis Pemkot Tangerang. “Mari kita satukan langkah dan potensi untuk memperkuat kehidupan keagamaan, memberdayakan masyarakat, serta memastikan pembangunan benar-benar membawa kemaslahatan bagi umat,” pungkas Sachrudin.
Muskercab Pertama, Momentum Menata Organisasi
Muskercab I ini tercatat sebagai forum kerja pertama PCNU Kota Tangerang pada periode kepengurusan saat ini. Selain membahas program kerja, forum tersebut juga menjadi ajang konsolidasi pengurus cabang dengan pengurus majelis dan lembaga di bawahnya.
Pilihan tema soal transformasi inisiatif dan kemandirian ekonomi umat menunjukkan bahwa PCNU Kota Tangerang ingin keluar dari pola kerja organisasi yang terlalu bergantung pada sumbangan anggota. Basis digital disebut menjadi salah satu prioritas, sejalan dengan makin banyaknya warga NU yang mengakses informasi lewat media sosial dan ponsel.
Bagi warga Kota Tangerang, hasil Muskercab ini akan terasa jika program yang dirumuskan benar-benar turun ke tingkat kelurahan. Pendampingan UMKM, misalnya, hanya bermakna jika pedagang kecil di pasar tradisional dan gang pemukiman ikut terbantu, bukan sekadar berhenti dalam dokumen program kerja.
Pemkot sendiri tampaknya membuka pintu cukup lebar. Beberapa program yang sudah berjalan, seperti pelatihan kerja dan bantuan sosial berbasis wilayah, membutuhkan mitra di tingkat komunitas agar distribusinya tepat sasaran. Organisasi keagamaan dengan jaringan luas seperti NU bisa mengisi celah itu, asalkan ada mekanisme pelaporan yang transparan dan mudah diaudit warga.
Dengan Muskercab yang baru dimulai, publik Kota Tangerang tinggal menunggu apakah ajakan wali kota itu berbuah program nyata atau berhenti sebagai seremonial semata. Yang jelas, pemerintah kota kini punya satu harapan baru: menjadikan masjid dan musala bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga pusat pemberdayaan warga di tingkat paling bawah.
Sumber: Tangerang Kota - Tak Hanya Dakwah, Sachrudin Ajak PCNU Perluas Peran
