Bayangkan seorang bidan di puskesmas pelosok harus mencatat hasil penimbangan balita di buku, lalu membawa buku itu puluhan kilometer ke puskesmas induk hanya agar datanya bisa masuk ke sistem. Itu bukan cerita lama. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, sekitar 745 dari 10 ribu puskesmas di Indonesia masih belum punya koneksi internet pada 2024, sementara 1.475 puskesmas lain hanya memiliki akses yang terbatas.
Angka itu yang membuat SpaceX menilai kombinasi internet satelit Starlink dan kecerdasan artifisial atau AI bisa memperbaiki layanan kesehatan di wilayah terpencil. Bukan karena teknologinya sedang tren, tetapi karena masalah dasarnya memang sederhana dan menyakitkan: data pasien tidak bisa berpindah tempat secepat pasiennya.
“Untuk banyak orang di daerah terpencil, konektivitas sangat penting agar mereka dapat terlibat dan terhubung dengan ekonomi modern,” kata Regional Vice President Solutions Architecture Asia-Pacific & Japan SpaceX AI, Chris Walker, seperti dikutip Katadata.co.id, Selasa (27/10).
Kenapa Satelit, Bukan Kabel
Indonesia memiliki lebih dari 17 ribu pulau. Membangun jaringan serat optik ke setiap pulau kecil dan lembah terpencil bukan hanya mahal, tetapi sering kali tidak masuk hitungan bisnis bagi operator. Di sinilah satelit orbit rendah Bumi menjadi jalan pintas yang masuk akal.
Walker memaparkan bahwa satelit Starlink beroperasi sekitar 600 kilometer di atas permukaan Bumi. Jarak yang relatif dekat itu memungkinkan koneksi cukup stabil untuk panggilan video, bukan sekadar kirim pesan teks.
Yang membuat konstelasi satelit seperti ini mungkin secara ekonomi adalah turunnya biaya peluncuran. Mengutip makalah NASA pada 2018, Walker menyebut biaya meluncurkan muatan dengan pesawat ulang-alik atau space shuttle mencapai sekitar 54.500 dolar Amerika per kilogram. Dengan roket Falcon 9 yang bisa dipakai ulang, angkanya turun menjadi sekitar 2.700 dolar Amerika per kilogram — sekitar seperdua puluhnya.
Biaya yang lebih murah berarti lebih banyak satelit bisa diluncurkan, dan cakupan internet bisa diperluas ke daerah yang selama ini paling akhir mendapat giliran pembangunan jaringan.
Yang Berubah di Puskesmas
Kementerian Kesehatan mulai menguji coba layanan Starlink di puskesmas yang sebelumnya tidak punya akses internet pada Mei 2024. Menurut Walker, perubahan paling terasa bukan pada perangkat, melainkan pada kecepatan alur kerja.
Dengan koneksi yang tersedia, tenaga kesehatan bisa langsung mengirim laporan, catatan imunisasi, hasil skrining kesehatan, dan data pemeriksaan pertumbuhan anak ke sistem pusat secara real time. Sebelumnya, informasi itu harus dikumpulkan lebih dulu, lalu dibawa ke lokasi yang punya internet agar bisa dimasukkan ke sistem.
Bagi warga, perbedaan ini terasa pada hal-hal yang tampak kecil: riwayat imunisasi anak tidak lagi hilang karena buku catatan rusak atau berpindah tangan, dan rujukan ke rumah sakit bisa dibuat tanpa menunggu data menyusul berhari-hari kemudian.
AI sebagai Asisten, Bukan Pengganti Dokter
Setelah koneksi tersedia, pintu berikutnya terbuka: model AI canggih atau frontier AI models bisa diakses dari mana saja selama ada internet. Artinya, kemampuan yang biasanya dinikmati tenaga medis di kota besar bisa juga dipakai di puskesmas terpencil.
Catatan pasien dapat disimpan terpusat dan dianalisis AI untuk memberi informasi tambahan kepada dokter dan perawat. Namun Walker menegaskan batasnya dengan jelas. “AI tidak akan mengambil alih pengambilan keputusan dokter atau perawat. Teknologi ini hanya memberikan informasi tambahan mengenai pasien,” ujarnya.
Penegasan itu penting. Dalam layanan kesehatan, kesalahan kecil akibat menelan mentah-mentah saran mesin bisa berakibat serius. Karena itu, konektivitas dan AI menurut SpaceX harus dilihat sebagai satu paket investasi, bukan dua proyek terpisah yang bisa jalan sendiri-sendiri.
Lima Syarat yang Sering Terlupakan
Walker menyebut setidaknya lima prasyarat agar penerapan AI di daerah terpencil tidak berhenti jadi proyek percontohan yang mangkrak.
Pertama, batas otonomi AI harus jelas: manusia tetap menetapkan aturan, menyetujui tindakan penting, dan bisa menghentikan sistem kapan saja. Kedua, sistem harus tetap tangguh saat koneksi putus, dengan pekerjaan yang belum selesai masuk antrean untuk dilanjutkan ketika jaringan kembali. Ketiga, keamanan dan kepercayaan harus dijaga lewat pengaturan izin akses, enkripsi, serta transparansi tindakan agen AI.
Keempat, AI harus dirancang dengan memperhatikan konteks lokal — budaya, bahasa, hukum, dan cara kerja masyarakat Indonesia. Kelima, masyarakat dan tenaga kesehatan perlu mendapat pendidikan serta pelatihan yang memadai, karena teknologi tanpa kemampuan memakainya hanya menambah beban administrasi baru.
Apa Artinya untuk Tangerang Raya
Tangerang Raya bukan wilayah kepulauan, tetapi bukan berarti bebas soal sinyal. Puskesmas di desa-desa seperti Cikasungka dan Adiyasa, juga di kecamatan lain dengan medan berbukit atau pelosok perkampungan, tetap menghadapi persoalan klasik: koneksi lambat saat jam sibuk, perangkat tua, dan tenaga IT yang terbatas.
Karena itu, pelajaran dari uji coba di daerah terpencil sebenarnya bisa dipinjam tanpa harus menunggu antena satelit. Yang paling murah dan paling cepat dilakukan adalah merapikan alur data: memastikan pencatatan imunisasi dan skrining masuk sistem sejak di meja layanan, bukan ditumpuk untuk dimasukkan belakangan. Setelah itu baru bicara perangkat dan jaringan.
Catatan Kritis yang Jangan Dilewatkan
Ada beberapa hal yang perlu dicatat agar tidak jadi euforia berlebihan. Data Databoks mencatat kecepatan internet Starlink di Indonesia menurun setelah setahun beroperasi, hal yang wajar ketika jumlah pengguna bertambah dan kapasitas jaringan dibagi. Artinya, koneksi satelit juga butuh perawatan dan penambahan kapasitas, bukan pasang lalu selesai.
Soal biaya, perangkat dan langganan bulanan tetap menjadi beban yang harus dihitung, terutama jika dipasang di ribuan titik. Belum lagi persoalan keamanan data pasien yang diatur undang-undang perlindungan data pribadi. Data rekam medis yang tersambung ke internet harus dijaga jauh lebih ketat daripada data biasa, karena kebocoran di sektor kesehatan menyangkut hal paling pribadi dari warga.
Kemudian ada persoalan sumber daya manusia. Teknologi AI hanya berguna jika ada tenaga kesehatan yang tahu kapan harus memercayainya dan kapan harus mengabaikannya. Pelatihan bukan pelengkap, tetapi bagian dari infrastruktur itu sendiri.
Dampak bagi Warga
Bagi warga Tangerang Raya, arah perubahan ini sebenarnya sudah terlihat di layanan sehari-hari: pendaftaran online, antrean digital, hingga pengiriman hasil laboratorium lewat pesan. Semua itu bertumpu pada satu hal yang sering dianggap remeh, yaitu internet yang cukup cepat dan stabil di titik layanan.
Jika koneksi satelit dan AI benar-benar masuk ke puskesmas, manfaat paling nyata bukan pada teknologi yang dipakai, melainkan pada waktu. Waktu tunggu hasil, waktu tempuh membawa data, dan waktu yang selama ini hilang karena berkas berpindah tangan manual. Di layanan kesehatan, waktu yang lebih singkat sering kali berarti selisih antara penanganan cepat dan penyesalan.
Yang perlu diingat, teknologi ini hanya alat. Kualitas layanan tetap ditentukan oleh tenaga kesehatan yang bertemu pasien, dan oleh keputusan pemerintah daerah dalam merawat sistem yang sudah dibangun.
Sumber: Katadata.co.id
