<?xml version="1.0" encoding="utf-8" standalone="yes"?><rss version="2.0" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"><channel><title>Air on Portal Cikayasa</title><link>https://cikayasa.com/tags/air/</link><description>Recent content in Air on Portal Cikayasa</description><generator>Hugo -- gohugo.io</generator><language>id-id</language><lastBuildDate>Wed, 30 Sep 2026 20:00:00 +0700</lastBuildDate><atom:link href="https://cikayasa.com/tags/air/index.xml" rel="self" type="application/rss+xml"/><item><title>BRIN Kaji Kebutuhan Air Pusat Data AI Jatiluhur, Banten Juga Perlu Waspada</title><link>https://cikayasa.com/p/brin-kaji-kebutuhan-air-pusat-data-ai-jatiluhur-banten-juga-perlu-waspada/</link><pubDate>Wed, 30 Sep 2026 20:00:00 +0700</pubDate><guid>https://cikayasa.com/p/brin-kaji-kebutuhan-air-pusat-data-ai-jatiluhur-banten-juga-perlu-waspada/</guid><description>&lt;img src="https://cikayasa.com/p/brin-kaji-kebutuhan-air-pusat-data-ai-jatiluhur-banten-juga-perlu-waspada/cover.jpg" alt="Featured image of post BRIN Kaji Kebutuhan Air Pusat Data AI Jatiluhur, Banten Juga Perlu Waspada" /&gt;&lt;p&gt;Pembangunan pusat data berbasis kecerdasan buatan (AI) di Indonesia terus digencarkan, tapi kini muncul pertanyaan yang tidak bisa dianggap remeh: dari mana pasokan airnya? Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) buka suara soal rencana pembangunan pusat data AI di kawasan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, dan menegaskan bahwa kebutuhan air proyek tersebut harus dikaji secara serius sebelum dijalankan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Pernyataan ini disampaikan Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN kepada detikINET pada Rabu (30/9/2026). Menurut mereka, dari perspektif sumber daya air, penggunaan air Waduk Jatiluhur untuk mendukung operasional pusat data harus dilihat secara komprehensif — bukan sekadar menghitung berapa besar volume air yang tersedia di waduk.&lt;/p&gt;
&lt;h2 id="kenapa-data-center-butuh-banyak-air"&gt;Kenapa Data Center Butuh Banyak Air?
&lt;/h2&gt;&lt;p&gt;Pertanyaan ini penting karena banyak warga mungkin belum tahu bahwa pusat data bukan sekadar gedung berisi komputer. Di dalamnya ada ribuan server yang bekerja 24 jam tanpa henti, menghasilkan panas dalam jumlah besar. Untuk menjaga suhu server tetap stabil, sistem pendinginan yang memakai air menjadi salah satu solusi utama.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;BRIN menjelaskan bahwa dalam kondisi tertentu, sistem pendinginan data center dapat menggunakan air dalam jumlah cukup besar. Namun, air yang diambil tidak seluruhnya berubah menjadi air limbah. Sebagian air hilang melalui penguapan atau evaporasi akibat panas yang dihasilkan peralatan komputasi, server, hingga unit pemroses grafis (GPU). Sebagian lainnya menjadi blowdown dan perlu dikelola dengan baik.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Blowdown sendiri adalah air yang sengaja dikeluarkan dari sistem cooling tower untuk mengendalikan konsentrasi mineral di dalamnya. Tanpa pengeluaran air ini, mineral akan menumpuk dan merusak sistem pendinginan. Artinya, ada dua alur air yang harus dihitung: yang menguap dan yang menjadi limbah berupa blowdown.&lt;/p&gt;
&lt;h2 id="kajian-neraca-air-jadi-kunci"&gt;Kajian Neraca Air Jadi Kunci
&lt;/h2&gt;&lt;p&gt;Karena itu, BRIN menekankan perlunya pengkajian dan analisis terkait neraca air serta simulasi operasi pada waduk, dengan memasukkan kebutuhan data center sebagai pengguna baru dari kebutuhan air di Waduk Jatiluhur.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&amp;ldquo;Selain jumlah air yang diambil, juga perlu dihitung dan dikaji terkait berapa besar air yang benar-benar dikonsumsi dari operasi data center, melalui besar evaporasi yang dapat terjadi, serta berapa yang menjadi blowdown dari operasional pendinginan data center, dan seberapa besar air dapat digunakan kembali dari operasional data center,&amp;rdquo; ujar Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Satu pertanyaan kunci yang diajukan BRIN: apakah tambahan kebutuhan air tersebut dapat dipenuhi secara andal tanpa mengganggu kebutuhan yang sudah ada, seperti irigasi, air baku, dan kebutuhan lainnya — terutama pada musim kemarau?&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Pertanyaan ini bukan tanpa dasar. Waduk Jatiluhur adalah salah satu sumber air terbesar di Jawa Barat yang mengairi ribuan hektare sawah, memasok air baku untuk kawasan Jabodetabek, hingga menghasilkan listrik. Jika air untuk data center diambil berlebihan, dampaknya bisa langsung dirasakan petani dan rumah tangga di sekitar waduk.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Sebelum memberikan kesimpulan apakah air Waduk Jatiluhur dapat digunakan atau tidak untuk operasional data center, BRIN menegaskan perlu kajian lebih dahulu mengenai besaran kebutuhan air untuk operasional dan sistem pendinginan pusat data. Kajian juga harus mencakup sumber air yang akan digunakan, pola pengambilan air, pola operasi waduk, neraca air waduk, serta ketersediaan dan keandalan pemenuhan kebutuhan air pada berbagai kondisi hidrologi — terutama pada musim kemarau atau kondisi tahun kering.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Hasil kajian tersebut kemudian dapat menjadi dasar untuk menentukan besaran alokasi air yang dapat diberikan, persyaratan efisiensi penggunaan air, serta skenario operasi yang diperlukan agar pemanfaatan air untuk data center tidak mengurangi keandalan pemenuhan kebutuhan air yang telah ada sebelumnya.&lt;/p&gt;
&lt;h2 id="aspek-kualitas-air-juga-diperhitungkan"&gt;Aspek Kualitas Air Juga Diperhitungkan
&lt;/h2&gt;&lt;p&gt;Tidak hanya soal kuantitas, BRIN juga menilai perlu kajian tambahan dari aspek kualitas air. Baik kualitas air yang dibutuhkan untuk sistem pendinginan data center maupun kualitas air blowdown yang dihasilkan dari proses pendinginan harus diperhatikan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Hal ini penting untuk memastikan bahwa air yang digunakan memenuhi persyaratan kualitas yang diperlukan sistem pendinginan, serta bahwa air buangan yang dihasilkan dapat dikelola sesuai ketentuan yang berlaku dan tidak menimbulkan dampak terhadap lingkungan perairan.&lt;/p&gt;
&lt;h2 id="pernyataan-gubernur-jawa-barat-sebelumnya"&gt;Pernyataan Gubernur Jawa Barat Sebelumnya
&lt;/h2&gt;&lt;p&gt;Sebelumnya, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi atau KDM juga buka suara soal kekhawatiran kebutuhan air untuk pusat data AI di kawasan Jatiluhur. Ia menegaskan bahwa kebutuhan air proyek tersebut harus dihitung sejak awal agar tidak mengganggu alokasi air untuk sektor pertanian.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Pernyataan ini muncul di tengah sorotan publik terhadap proyek pusat data AI di Jatiluhur. Berdasarkan informasi yang beredar, proyek tersebut memiliki nilai investasi sebesar Rp 3,5 triliun yang dibangun di atas lahan seluas 8.000 meter persegi dengan kawasan pengembangan mencapai 11 hektare. Pusat data ini akan memiliki kapasitas daya listrik hingga 120 megawatt (MW), dengan kapasitas pengembangan mencapai 640 MW.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Angka kapasitas tersebut menunjukkan betapa besarnya operasional yang akan berjalan — dan semakin besar kapasitasnya, semakin besar pula potensi kebutuhan air pendinginannya.&lt;/p&gt;
&lt;h2 id="banten-juga-perlu-ambil-pelajaran"&gt;Banten Juga Perlu Ambil Pelajaran
&lt;/h2&gt;&lt;p&gt;Sorotan terhadap proyek di Jatiluhur ini punya relevansi langsung bagi Banten, termasuk Tangerang Raya. Provinsi Banten memang tengah diposisikan sebagai salah satu destinasi investasi pusat data di Indonesia. Keunggulan pasokan energi listrik yang surplus menjadi daya tarik utama bagi investor data center.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Namun, pelajaran dari Jatiluhur menunjukkan bahwa energi listrik bukan satu-satunya variabel yang harus disiapkan. Ketersediaan air untuk operasional jangka panjang sama pentingnya. Sebagai wilayah dengan aktivitas industri padat dan populasi besar, Tangerang Raya sudah menghadapi tekanan terhadap pasokan air bersih. Jika rencana pusat data masuk ke kawasan ini, pemangku kepentingan perlu memastikan bahwa kebutuhan airnya telah dihitung sejak awal, bukan belakangan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;BRIN sendiri menegaskan bahwa hasil kajian neraca air menjadi dasar penting untuk menentukan alokasi air yang adil. Prinsip yang sama berlaku di mana pun proyek data center akan dibangun: kebutuhan air harus dilihat dari sudut pandang menyeluruh, mempertimbangkan semua pengguna yang sudah ada, dan tidak mengorbankan kebutuhan dasar masyarakat demi proyek teknologi.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Langkah BRIN ini bisa dilihat sebagai bentuk kewaspadaan ilmiah. Sebelum negara melaju terlalu cepat dalam membangun infrastruktur AI, ketersediaan sumber daya alam seperti air perlu dipastikan terlebih dahulu. Bagi warga Tangerang Raya, isu ini bukan sekadar berita teknologi dari daerah lain — melainkan pengingat bahwa pembangunan pusat data di Banten ke depan juga harus memperhitungkan air sejak hari pertama.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Sumber: &lt;a class="link" href="https://inet.detik.com/science/d-8686076/brin-bicara-soal-data-center-di-jatiluhur-dan-potensi-kekeringan" target="_blank" rel="noopener"
 &gt;detikInet&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</description></item></channel></rss>