<?xml version="1.0" encoding="utf-8" standalone="yes"?><rss version="2.0" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"><channel><title>KWT on Portal Cikayasa</title><link>https://cikayasa.com/tags/kwt/</link><description>Recent content in KWT on Portal Cikayasa</description><generator>Hugo -- gohugo.io</generator><language>id-id</language><lastBuildDate>Mon, 31 Aug 2026 16:00:00 +0700</lastBuildDate><atom:link href="https://cikayasa.com/tags/kwt/index.xml" rel="self" type="application/rss+xml"/><item><title>Urban Farming di Kota Tangerang: Ketahanan Pangan dari Pekarangan Rumah</title><link>https://cikayasa.com/p/urban-farming-di-kota-tangerang-ketahanan-pangan-dari-pekarangan-rumah/</link><pubDate>Mon, 31 Aug 2026 16:00:00 +0700</pubDate><guid>https://cikayasa.com/p/urban-farming-di-kota-tangerang-ketahanan-pangan-dari-pekarangan-rumah/</guid><description>&lt;img src="https://cikayasa.com/p/urban-farming-di-kota-tangerang-ketahanan-pangan-dari-pekarangan-rumah/cover.jpg" alt="Featured image of post Urban Farming di Kota Tangerang: Ketahanan Pangan dari Pekarangan Rumah" /&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Tangerang&lt;/strong&gt; — Lahan sempit di tengah kota rupanya bukan halangan untuk mewujudkan ketahanan pangan. Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang melalui Dinas Ketahanan Pangan (DKP) terus menggencarkan program pertanian perkotaan atau &lt;em&gt;urban farming&lt;/em&gt; sebagai langkah nyata menghadirkan ketahanan pangan langsung dari rumah sekaligus menjadi sarana pemberdayaan masyarakat.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kota Tangerang, Muhdorun, menegaskan bahwa pertanian di perkotaan adalah pendekatan konkret untuk membangun ketahanan pangan yang dimulai dari lingkungan rumah tangga. Menurutnya, masyarakat bisa memanfaatkan pekarangan depan rumah meski terbatas untuk bercocok tanam, sehingga mampu menghasilkan pangan secara mandiri seperti cabai, bawang, dan komoditas lainnya.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&amp;ldquo;Masyarakat dapat memanfaatkan pekarangan depan rumah meski terbatas untuk melakukan pertanian sehingga bisa menghasilkan pangan secara mandiri, seperti cabai, bawang, dan lainnya,&amp;rdquo; kata Muhdorun di Tangerang, Senin (31/8/2026).&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Tak hanya metode tanam konvensional di tanah, masyarakat Kota Tangerang juga didorong mengembangkan beragam metode pertanian perkotaan yang lebih efisien dan hemat lahan. Sejumlah teknik yang diperkenalkan antara lain hidroponik, aquaponik, vertikultur, hingga &lt;em&gt;wall gardening&lt;/em&gt;. Dengan metode-metode tersebut, warga tetap dapat menghasilkan sayuran dan buah-buahan meski tinggal di kawasan dengan keterbatasan lahan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&amp;ldquo;Dengan menanam sayur mayur dan buah-buahan secara mandiri, masyarakat dapat meningkatkan ketersediaan makanan segar dan turut menjaga keberlanjutan lingkungan serta ketahanan pangan,&amp;rdquo; ujarnya.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Gerakan ini menjadi semakin relevan di tengah kondisi perkotaan yang terus bertumbuh. Kota Tangerang sebagai salah satu kota penyangga Jakarta memiliki tingkat pertumbuhan penduduk dan pembangunan yang tinggi, sehingga lahan hijau produktif semakin menyusut. Dalam situasi seperti ini, urban farming hadir sebagai solusi adaptif: mengubah sisa-sisa ruang — pekarangan, gang, atap rumah, hingga dinding — menjadi sumber pangan keluarga.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Selain memenuhi kebutuhan konsumsi rumah tangga, urban farming juga membawa manfaat ganda berupa edukasi dan pemberdayaan ekonomi. Kelompok Wanita Tani yang tersebar di berbagai kecamatan tidak hanya belajar bercocok tanam, tetapi juga membangun kebersamaan antarwarga. Hasil panen yang melimpah bahkan berpeluang dijual, menambah penghasilan tambahan bagi keluarga sekaligus menumbuhkan ekonomi lokal berbasis komunitas.&lt;/p&gt;
&lt;h2 id="hasil-nyata-di-lapangan"&gt;Hasil Nyata di Lapangan
&lt;/h2&gt;&lt;p&gt;Program urban farming di Kota Tangerang bukan sekadar wacana. Berdasarkan data Pemkot Tangerang, program pertanian perkotaan yang dijalankan oleh 76 Kelompok Wanita Tani (KWT) dan 39 kelompok pemberdayaan ikan telah membuahkan hasil yang cukup menggembirakan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Dari sisi budi daya tanaman, tercatat sebanyak 100.920 polybag tanaman cabai, tomat, dan terong berhasil dikembangkan. Sementara itu, kelompok pemberdayaan ikan mencatatkan produksi 352.717 ekor ikan nila dan lele. Tak ketinggalan, ada pula 11.147 polybag Tanaman Obat Keluarga (Toga) serta 45 ekor ternak kambing dan domba yang dikelola warga.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Salah satu bukti keberhasilan program ini terlihat dari kegiatan panen yang dilakukan Kelompok Wanita Tani (KWT) Kampung Keluarga Berencana (KB) Adem Kreo di Jalan Hos Cokroaminoto Nomor 75, Kecamatan Larangan. Kelompok tersebut baru saja menggelar panen kangkung dan pakcoy hasil budi daya sendiri, menjadi cerminan bahwa lahan perkotaan tetap bisa produktif bila dikelola dengan baik.&lt;/p&gt;
&lt;h2 id="dukungan-sektor-pertanian-konvensional"&gt;Dukungan Sektor Pertanian Konvensional
&lt;/h2&gt;&lt;p&gt;Selain program urban farming berbasis pekarangan, Kota Tangerang juga masih memiliki kelompok tani (poktan) yang mengelola lahan pertanian lebih luas. Saat ini tercatat 11 kelompok tani yang terdiri dari tujuh poktan tanaman pangan dan empat poktan hortikultura.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Tujuh poktan tanaman pangan mengelola sekitar 98 hektare lahan sawah dengan produksi mencapai 846 ton beras sepanjang tahun 2025. Adapun poktan hortikultura berhasil menghasilkan 4,7 ton cabai besar dan 4,9 ton bawang merah dalam periode yang sama.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Capaian ini menunjukkan bahwa Kota Tangerang, meski dikenal sebagai kota jasa dan industri, tetap menjaga denyut sektor pertaniannya. Kolaborasi antara pertanian konvensional dan pertanian perkotaan menjadi strategi Pemkot Tangerang dalam memperkuat ketahanan pangan daerah sekaligus menekan ketergantungan pasokan dari luar kota.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Jika ditelaah lebih jauh, semangat urban farming yang digaungkan Pemkot Tangerang sejalan dengan tren nasional pemanfaatan lahan pekarangan. Kementerian Pertanian dalam beberapa tahun terakhir memang gencar mendorong gerakan pangan lestari berbasis rumah tangga untuk menekan inflasi pangan sekaligus meningkatkan gizi keluarga. Kota Tangerang menjadi salah satu contoh daerah yang berhasil menerjemahkan kebijakan tersebut ke dalam program yang konkret dan terukur di lapangan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Bagi warga Tangerang Raya yang tertarik memulai urban farming di rumah, sejumlah teknik sederhana seperti hidroponik dan vertikultur bisa menjadi pintu masuk yang mudah. Selain menghasilkan pangan segar untuk konsumsi keluarga, kegiatan ini juga berdampak positif terhadap lingkungan sekitar dengan menambah ruang hijau di tengah permukiman padat.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Peran pemerintah daerah pun tidak berhenti pada sosialisasi semata. DKP Kota Tangerang secara rutin memberikan pendampingan dan pelatihan kepada kelompok-kelompok tani, termasuk pelatihan penyiraman tanaman otomatis berbasis internet yang memanfaatkan teknologi untuk memudahkan warga merawat tanamannya. Dukungan semacam ini menjadikan urban farming bukan sekadar hobi, melainkan gaya hidup produktif yang berkelanjutan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Ke depan, semakin banyaknya rumah tangga yang mandiri dalam memenuhi kebutuhan pangannya diharapkan mampu memperkuat ketahanan pangan Kota Tangerang secara menyeluruh. Dengan begitu, ketahanan pangan tidak lagi menjadi tanggung jawab pemerintah semata, melainkan tumbuh menjadi gerakan kolektif seluruh warga kota — dari pekarangan rumah sendiri.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Sumber: &lt;a class="link" href="https://banten.antaranews.com/berita/389561/pemkot-tangerang-sebut-urban-farming-hadirkan-ketahanan-pangan-dari-rumah" target="_blank" rel="noopener"
 &gt;Pemkot Tangerang sebut &amp;ldquo;Urban farming&amp;rdquo; hadirkan ketahanan pangan dari rumah&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</description></item></channel></rss>