<?xml version="1.0" encoding="utf-8" standalone="yes"?><rss version="2.0" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"><channel><title>Ransomware on Portal Cikayasa</title><link>https://cikayasa.com/tags/ransomware/</link><description>Recent content in Ransomware on Portal Cikayasa</description><generator>Hugo -- gohugo.io</generator><language>id-id</language><lastBuildDate>Fri, 18 Sep 2026 20:00:00 +0700</lastBuildDate><atom:link href="https://cikayasa.com/tags/ransomware/index.xml" rel="self" type="application/rss+xml"/><item><title>Awas! Malware Mantax Otax Bisa Curi PIN hingga Intip Chat WhatsApp, Pengguna Indonesia Jadi Target Utama</title><link>https://cikayasa.com/p/awas-malware-mantax-otax-bisa-curi-pin-hingga-intip-chat-whatsapp-pengguna-indonesia-jadi-target-utama/</link><pubDate>Fri, 18 Sep 2026 20:00:00 +0700</pubDate><guid>https://cikayasa.com/p/awas-malware-mantax-otax-bisa-curi-pin-hingga-intip-chat-whatsapp-pengguna-indonesia-jadi-target-utama/</guid><description>&lt;img src="https://cikayasa.com/p/awas-malware-mantax-otax-bisa-curi-pin-hingga-intip-chat-whatsapp-pengguna-indonesia-jadi-target-utama/cover.jpg" alt="Featured image of post Awas! Malware Mantax Otax Bisa Curi PIN hingga Intip Chat WhatsApp, Pengguna Indonesia Jadi Target Utama" /&gt;&lt;p&gt;Tim riset keamanan siber zLabs dari Zimperium mengungkap temuan malware Android baru yang mengkhawatirkan. Malware ini menyasar khusus pengguna di Indonesia dan memiliki kemampuan canggih yang menggabungkan dua ancaman sekaligus: pencurian data dan penyanderaan file.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Malware yang diberi nama Mantax Otax ini tergolong sangat berbahaya karena menggabungkan fungsi spyware (mata-mata digital) dan ransomware (penyandera data) dalam satu aplikasi tunggal. Kombinasi semacam ini jarang ditemukan pada malware mobile pada umumnya. Biasanya sebuah malware hanya fokus mencuri data atau hanya mengenkripsi file untuk meminta tebusan, bukan keduanya sekaligus.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Laporan Zimperium yang dirilis pada 9 September 2026 menjelaskan bahwa Mantax Otax tidak menyebar lewat Google Play Store. Sebagai gantinya, malware ini didistribusikan dalam bentuk file APK yang diunggah ke layanan berbagi file pihak ketiga. Korban biasanya dibujuk untuk mengunduh dan memasang aplikasi tersebut secara manual melalui tautan yang dibagikan di aplikasi pesan, media sosial, atau pesan phishing.&lt;/p&gt;
&lt;h2 id="modus-penyebaran-yang-licik"&gt;Modus Penyebaran yang Licik
&lt;/h2&gt;&lt;p&gt;Cara kerja Mantax Otax dimulai dari tahap persuasi. Pelaku mengirimkan tautan undangan yang terlihat meyakinkan kepada calon korban. Tautan ini bisa berupa undangan acara, link dokumen penting, atau bahkan ajangan dari kontak yang sudah lebih dulu terinfeksi. Begitu korban mengunduh dan memasang file APK tersebut, aplikasi langsung meminta akses sebagai administrator perangkat.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Tahap berikutnya adalah permintaan izin yang sangat luas. Aplikasi meminta akses ke SMS, kontak, mikrofon, dan galeri foto. Namun tahap terakhir dan paling berbahaya adalah permintaan izin aksesibilitas (accessibility). Jika pengguna menyetujui izin ini, praktis seluruh kontrol perangkat berpindah ke tangan penyerang.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Izin aksesibilitas sebenarnya dirancang untuk membantu pengguna dengan kebutuhan khusus, seperti membaca layar atau menggerakkan tombol secara otomatis. Namun di tangan malware, fitur ini menjadi senjata maut yang memungkinkan aplikasi berbahaya mengontrol hampir semua aspek ponsel korban.&lt;/p&gt;
&lt;h2 id="kemampuan-yang-mengerikan"&gt;Kemampuan yang Mengerikan
&lt;/h2&gt;&lt;p&gt;Setelah berhasil menginfeksi perangkat dan mendapatkan semua izin yang diperlukan, Mantax Otax memiliki kemampuan yang sangat luas. Berikut beberapa di antaranya:&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Merekam layar secara real-time&lt;/strong&gt; dan menyiarkannya langsung ke server penyerang. Artinya, setiap aktivitas korban di ponsel bisa dipantau secara langsung tanpa sepengetahuannya.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Mencuri PIN kunci layar&lt;/strong&gt; dengan menyamar sebagai proses penguncian sistem. Ini berarti PIN yang selama ini dianggap aman bisa diketahui oleh penyerang.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Mengambil riwayat browser, kontak, log panggilan, dan SMS&lt;/strong&gt; — termasuk kode OTP (kode verifikasi dua langkah) yang dikirim melalui SMS. Dengan kode OTP, penyerang bisa membobok akun-akun penting korban.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Memotret diam-diam&lt;/strong&gt; menggunakan kamera depan maupun belakang tanpa sepengetahuan korban. Foto-foto ini kemudian dikirim ke server penyerang.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Menyadap WhatsApp dan Telegram&lt;/strong&gt;: Mengambil profil akun, membaca isi chat, dan mengumpulkan nama kontak lewat layanan aksesibilitas. Percakapan pribadi korban menjadi terbuka bagi penyerang.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Melacak lokasi, riwayat aplikasi yang terpasang&lt;/strong&gt;, hingga akun Google yang terhubung di perangkat.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Semua hasil curian ini, termasuk rekaman layar dan foto diam-diam, dikirim ke server penyerang melalui layanan hosting file pihak ketiga bernama Catbox.&lt;/p&gt;
&lt;h2 id="serangan-ransomware-mengunci-file-korban"&gt;Serangan Ransomware: Mengunci File Korban
&lt;/h2&gt;&lt;p&gt;Selain mengintai, Mantax Otax juga memiliki kemampuan ransomware. Pada ponsel dengan Android versi lama (Android 9 ke bawah), malware ini bisa menjelajahi penyimpanan eksternal dan mengenkripsi berbagai jenis file — mulai dari foto, video, dokumen, hingga arsip — menggunakan algoritma AES.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;File asli lalu dihapus dari perangkat dan diganti dengan versi terenkripsi yang tidak bisa dibuka. Sebagai &amp;ldquo;gertakan&amp;rdquo; tambahan, malware ini bahkan mengubah foto-foto di galeri korban menjadi gambar bertuliskan pesan tebusan: &amp;ldquo;Your files have been encrypted. Pay to decrypt.&amp;rdquo;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Setelah itu, muncul jendela obrolan interaktif di layar yang digunakan pelaku untuk bernegosiasi tebusan dengan korban. Pesan tebusan ini dibuat dalam bahasa Inggris meskipun targetnya adalah pengguna Indonesia.&lt;/p&gt;
&lt;h2 id="android-10-ke-atas-lebih-aman"&gt;Android 10 ke Atas Lebih Aman
&lt;/h2&gt;&lt;p&gt;Kabar baiknya, pada ponsel dengan Android 10 ke atas, fitur pengamanan bawaan sistem bernama Scoped Storage membuat jangkauan enkripsi malware ini jauh lebih terbatas. Scoped Storage membatasi akses aplikasi terhadap penyimpanan hanya pada folder miliknya sendiri, sehingga Mantax Otax tidak bisa menjelajahi seluruh isi penyimpanan seperti pada Android versi lebih lama.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Meskipun demikian, kemampuan spyware dari malware ini tetap aktif meskipun di Android terbaru. Artinya, meskipun file tidak bisa dienkripsi, data pribadi seperti chat WhatsApp, foto, dan kode OTP tetap bisa dicuri.&lt;/p&gt;
&lt;h2 id="varian-terbaru-dengan-fitur-psikologis"&gt;Varian Terbaru dengan Fitur Psikologis
&lt;/h2&gt;&lt;p&gt;Zimperium juga menemukan ada dua varian malware ini. Versi terbarunya bahkan dilengkapi fitur-fitur untuk meneror korban secara psikologis. Fitur-fitur tersebut termasuk mengunci layar penuh dan memblokir akses ke aplikasi lain, menciptakan situasi panik pada korban.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Zimperium menyebut indikasi bahasa dan berkas yang ditemukan menunjukkan pelaku memang menyasar korban di Indonesia secara spesifik. Temuan ini semakin mengkhawatirkan mengingat tingkat penetrasi smartphone Android yang sangat tinggi di Indonesia.&lt;/p&gt;
&lt;h2 id="cara-melindungi-diri-dari-mantax-otax"&gt;Cara Melindungi Diri dari Mantax Otax
&lt;/h2&gt;&lt;p&gt;Pengguna Android di Indonesia disarankan untuk mengambil langkah-langkah berikut guna melindungi diri dari serangan malware ini:&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Jangan mengunduh aplikasi dari sumber tidak resmi&lt;/strong&gt;. Hindari menginstall file APK dari tautan yang dikirim melalui pesan singkat, WhatsApp, atau media sosial. Selalu gunakan Google Play Store sebagai sumber unduhan aplikasi.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Perhatikan izin yang diminta aplikasi&lt;/strong&gt;. Jika sebuah aplikasi meminta izin aksesibilitas yang tidak wajar, sebaiknya batalkan pemasangan. Izin aksesibilitas seharusnya hanya diperlukan oleh aplikasi yang memang membutuhkannya.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Perbarui sistem operasi Android&lt;/strong&gt; ke versi terbaru. Pastikan perangkat menjalankan Android 10 atau lebih baru agar fitur Scoped Storage aktif dan membatasi akses malware.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Aktifkan Google Play Protect&lt;/strong&gt; dan pastikan selalu memperbarui definisi keamanannya. Fitur ini bisa mendeteksi dan memblokir aplikasi berbahaya.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Gunakan aplikasi keamanan siber&lt;/strong&gt; dari penyedia tepercaya yang bisa memindai perangkat secara berkala.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Jangan sembarangan mengklik tautan&lt;/strong&gt; yang dikirim melalui pesan, meskipun berasal dari kontak yang dikenal. Akun yang sudah terinfeksi bisa digunakan untuk menyebar malware lebih luas.&lt;/p&gt;
&lt;h2 id="peringatan-untuk-pengguna-indonesia"&gt;Peringatan untuk Pengguna Indonesia
&lt;/h2&gt;&lt;p&gt;Temuan Zimperium ini menjadi pengingat penting bahwa ancaman siber terus berkembang dan semakin canggih. Dengan menggabungkan spyware dan ransomware dalam satu aplikasi, pelaku kejahatan siber bisa mendapatkan keuntungan ganda: mencuri data sensitif korban sekaligus meminta tebusan untuk file yang dienkripsi.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Pengguna Indonesia yang merupakan salah satu pasar smartphone Android terbesar di dunia harus semakin waspada. Kewaspadaan terhadap tautan mencurigakan, memperbarui sistem operasi, dan memperhatikan izin aplikasi adalah langkah-langkah sederhana namun efektif untuk mencegah menjadi korban.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Sumber: &lt;a class="link" href="https://kumparan.com/kumparantekno/awas-malware-baru-yang-bisa-curi-pin-sampai-intip-chat-wa-incar-pengguna-ri-28AvUwDKqMb" target="_blank" rel="noopener"
 &gt;Kumparan TEKNO&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</description></item></channel></rss>