<?xml version="1.0" encoding="utf-8" standalone="yes"?><rss version="2.0" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"><channel><title>SDM Digital on Portal Cikayasa</title><link>https://cikayasa.com/tags/sdm-digital/</link><description>Recent content in SDM Digital on Portal Cikayasa</description><generator>Hugo -- gohugo.io</generator><language>id-id</language><lastBuildDate>Wed, 21 Oct 2026 20:00:00 +0700</lastBuildDate><atom:link href="https://cikayasa.com/tags/sdm-digital/index.xml" rel="self" type="application/rss+xml"/><item><title>Bos LG CNS Sebut Tiga PR Besar AI Indonesia: GPU, Data Center, dan Tenaga Ahli</title><link>https://cikayasa.com/p/lg-cns-tantangan-ai-indonesia-gpu-data-center-sdm/</link><pubDate>Wed, 21 Oct 2026 20:00:00 +0700</pubDate><guid>https://cikayasa.com/p/lg-cns-tantangan-ai-indonesia-gpu-data-center-sdm/</guid><description>&lt;img src="https://cikayasa.com/p/lg-cns-tantangan-ai-indonesia-gpu-data-center-sdm/cover.jpg" alt="Featured image of post Bos LG CNS Sebut Tiga PR Besar AI Indonesia: GPU, Data Center, dan Tenaga Ahli" /&gt;&lt;p&gt;Indonesia punya ambisi besar menjadi pemain kecerdasan buatan di Asia Tenggara. Namun di balik ambisi itu, ada tiga persoalan mendasar yang belum selesai: ketersediaan GPU, kesiapan pusat data, dan jumlah tenaga ahli yang benar-benar menguasai pengembangan AI. Penilaian itu disampaikan President Director PT LG CNS Indonesia, Mark Mansik Won, saat berbincang dengan detikINET di Jakarta, Rabu (21/10/2026).&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Menurut Mark, Indonesia tidak kekurangan potensi. Yang masih menjadi pekerjaan rumah adalah kesiapan infrastruktur dan sumber daya manusia. Tanpa keduanya, adopsi AI berisiko berhenti di tahap percobaan, tidak naik ke tahap produksi yang benar-benar mengubah cara kerja instansi maupun perusahaan.&lt;/p&gt;
&lt;h2 id="gpu-komponen-yang-paling-mahal-dan-paling-dicari"&gt;GPU, komponen yang paling mahal dan paling dicari
&lt;/h2&gt;&lt;p&gt;Graphics Processing Unit atau GPU adalah perangkat komputasi yang dipakai untuk melatih dan menjalankan model AI. Biaya pengadaannya mahal, konsumsi listriknya besar, dan antrean pengirimannya di pasar global kerap panjang. Mark menyoroti ketersediaan GPU sebagai kendala pertama yang harus dijawab Indonesia.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Persoalannya bukan sekadar membeli perangkat. GPU harus ditempatkan di pusat data yang punya pasokan listrik stabil, pendinginan memadai, dan koneksi jaringan berkapasitas tinggi. Artinya, investasi GPU selalu menyeret investasi infrastruktur lain di belakangnya.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Di sisi lain, kebutuhan komputasi untuk AI tumbuh jauh lebih cepat daripada kemampuan penambahan kapasitas. Inilah yang membuat banyak negara, termasuk Indonesia, berlomba menarik investasi pusat data sekaligus membangun kemandirian komputasi.&lt;/p&gt;
&lt;h2 id="penerapan-di-pemerintahan-belum-merata"&gt;Penerapan di pemerintahan belum merata
&lt;/h2&gt;&lt;p&gt;Mark juga menyoroti kondisi di lingkungan pemerintahan. Menurutnya, kesiapan infrastruktur dan kemampuan teknologi di sejumlah kementerian dan lembaga belum merata. Kondisi ini membuat penerapan AI di layanan publik membutuhkan persiapan tambahan, bukan sekadar pengadaan aplikasi.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Ketimpangan kesiapan itu punya dampak nyata. Layanan yang sudah digital dan terintegrasi bisa cepat menyerap AI, sementara unit yang datanya masih tersebar di berbagai berkas akan tertinggal jauh. Padahal, AI hanya sebaik data yang menjadi bahan latihannya.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Bagi warga, perbedaan ini terasa di lama waktu layanan, jumlah dokumen yang harus dibawa berulang, dan konsistensi informasi antarloket. Karena itu, pembenahan tata kelola data sering kali lebih menentukan daripada pemilihan model AI-nya sendiri.&lt;/p&gt;
&lt;h2 id="coretax-disebut-bisa-jadi-fondasi-ai-perpajakan"&gt;Coretax disebut bisa jadi fondasi AI perpajakan
&lt;/h2&gt;&lt;p&gt;Salah satu peluang yang disoroti Mark adalah Core Tax Administration System (Coretax), sistem administrasi perpajakan milik Direktorat Jenderal Pajak, Kementerian Keuangan. LG CNS merupakan integrator sistem utama dalam konsorsium pengembang Coretax bersama Qualysoft.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Menurut Mark, data yang sudah terintegrasi dalam sistem tersebut dapat menjadi fondasi untuk mengembangkan layanan perpajakan berbasis AI. Teknologi yang berpotensi dipakai adalah agentic AI, yaitu kecerdasan buatan yang mampu menjalankan rangkaian tugas berdasarkan tujuan dan kewenangan yang diberikan, bukan sekadar menjawab pertanyaan pengguna.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Dalam layanan perpajakan, pendekatan itu berpotensi mengotomatisasi proses administrasi dan menaikkan efisiensi kerja. Namun Mark menegaskan satu hal penting: ia tidak menyatakan bahwa kemampuan agentic AI tersebut sudah diterapkan di Coretax saat ini.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Mark mengungkapkan bahwa DJP tengah menyiapkan rencana pengembangan AI. LG CNS menyatakan siap membantu jika dibutuhkan, tetapi keputusan soal teknologi dan waktu penerapannya tetap berada di tangan otoritas perpajakan Indonesia. Pernyataan itu menempatkan wacana ini sebagai rencana, bukan layanan yang sudah berjalan.&lt;/p&gt;
&lt;h2 id="belajar-dari-sovereign-ai-korea-selatan"&gt;Belajar dari sovereign AI Korea Selatan
&lt;/h2&gt;&lt;p&gt;Selain infrastruktur, Mark menyoroti pentingnya pengembangan sovereign AI atau AI berdaulat. Konsep ini menekankan kemampuan suatu negara mengendalikan data, model, dan infrastruktur AI yang dipakai, terutama untuk kebutuhan strategis pemerintah.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Korea Selatan telah menjalankan pendekatan tersebut melalui program nasional K-AI yang mendorong pengembangan model AI domestik. Salah satu hasilnya adalah K-EXAONE, model AI yang dikembangkan konsorsium LG AI Research dengan LG CNS sebagai salah satu anggotanya.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Lewat pendekatan sovereign AI, data sensitif pemerintah dapat dikelola memakai infrastruktur yang berada di bawah kendali nasional. Model AI juga bisa disesuaikan dengan bahasa, regulasi, dan kebutuhan layanan publik masing-masing negara.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Bagi Indonesia, pendekatan ini berpotensi mendukung pengembangan AI yang memahami bahasa Indonesia dan konteks administrasi pemerintahan. Tetapi penerapannya menuntut investasi komputasi, tata kelola data, dan tenaga ahli yang memadai. Tanpa tiga hal itu, wacana AI berdaulat mudah berhenti sebagai slogan.&lt;/p&gt;
&lt;h2 id="jaringan-kemitraan-global-di-belakangnya"&gt;Jaringan kemitraan global di belakangnya
&lt;/h2&gt;&lt;p&gt;LG CNS sendiri memiliki sejumlah kemitraan teknologi global, termasuk dengan NVIDIA di bidang AI data center dan robotika, Anthropic untuk pemanfaatan Claude, serta Microsoft dalam pengembangan AI dan cloud. Perusahaan juga menjalin kerja sama dengan Palantir dan memiliki kemitraan dengan Google Cloud.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Pengalaman itu menjadi bagian dari upaya LG CNS mengembangkan layanan transformasi digital menuju transformasi berbasis AI. Bagi Indonesia, keberadaan mitra semacam ini bisa mempercepat transfer pengetahuan, asalkan kerja sama disertai kesepakatan yang jelas soal pengelolaan data dan lokasi pemrosesan.&lt;/p&gt;
&lt;h2 id="dua-dekade-di-indonesia-dan-optimisme-yang-hati-hati"&gt;Dua dekade di Indonesia, dan optimisme yang hati-hati
&lt;/h2&gt;&lt;p&gt;LG CNS mulai beroperasi di Indonesia pada 2006. Menurut Mark, kemampuan tenaga profesional dan perusahaan teknologi lokal saat ini sudah jauh berkembang dibandingkan saat perusahaan pertama kali hadir di Tanah Air.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Pengalaman itu membuatnya optimistis Indonesia mampu meningkatkan kapasitas pengembangan AI, asalkan investasi infrastruktur berjalan seiring dengan peningkatan kemampuan SDM. Ia menilai kerja sama teknologi dan transfer pengetahuan dapat mempercepat proses tersebut, sehingga Indonesia tidak hanya menjadi pengguna AI, tetapi juga mampu mengembangkan dan mengelola teknologi sesuai kebutuhan sendiri.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&amp;ldquo;Saya melihat kemampuan teknologi informasi Indonesia meningkat sangat signifikan dan dramatis selama 20 tahun terakhir. Saya percaya Indonesia tidak hanya mampu berkembang di bidang IT, tetapi juga AI, bahkan robotika di masa depan,&amp;rdquo; ujar Mark.&lt;/p&gt;
&lt;h2 id="apa-artinya-bagi-tangerang-raya"&gt;Apa artinya bagi Tangerang Raya?
&lt;/h2&gt;&lt;p&gt;Tangerang Raya berada di provinsi yang sejak lama disebut sebagai salah satu koridor pusat data di Indonesia. Sebelumnya diberitakan, Gubernur Banten Andra Soni menyatakan kesiapan daerahnya menyambut investasi pusat data dan AI karena dinilai didukung infrastruktur yang memadai. Organisasi Penyedia Pusat Data Indonesia (IDPRO) juga memproyeksikan kapasitas pusat data nasional menembus 1,7 gigawatt pada akhir 2026, naik dari sekitar 650 megawatt terpasang.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Jika proyeksi itu terwujud, dampaknya tidak berhenti di bangunan besar berisi server. Ada kebutuhan teknisi jaringan, spesialis pendinginan, analis keamanan siber, hingga pengelola data. Jenis pekerjaan inilah yang bisa diserap warga sekitar kawasan industri, termasuk di Cikasungka, Adiyasa, dan wilayah lain di Kabupaten Tangerang, asalkan ada pelatihan yang tersambung dengan kebutuhan industri.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Bagi pelaku UMKM, gelombang AI lebih terasa lewat hal sederhana: otomatisasi pencatatan, pembuatan konten promosi, dan layanan pelanggan berbasis chat. Namun tanpa literasi digital yang cukup, kemudahan itu bisa berubah menjadi risiko, misalnya saat data pelanggan diunggah ke layanan yang tidak jelas pengelolaannya.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Karena itu, tiga PR yang disebut bos LG CNS bukan hanya urusan pemerintah pusat dan perusahaan besar. Ketersediaan GPU dan pusat data menentukan harga layanan digital yang dibayar warga. Kesiapan SDM menentukan apakah lapangan kerja baru jatuh ke tangan pekerja lokal. Dan tata kelola data menentukan seberapa aman informasi pribadi masyarakat disimpan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Indonesia masih punya waktu untuk mengejar. Namun sebagaimana disampaikan Mark, kemajuan itu tidak datang otomatis dari besarnya pasar, melainkan dari investasi infrastruktur yang konsisten dan tenaga ahli yang benar-benar disiapkan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Sumber: &lt;a class="link" href="https://inet.detik.com/business/d-8717408/bos-lg-cns-ungkap-tantangan-ai-indonesia-gpu-hingga-sdm" target="_blank" rel="noopener"
 &gt;detikINET - Bos LG CNS Ungkap Tantangan AI Indonesia, GPU hingga SDM&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</description></item></channel></rss>