<?xml version="1.0" encoding="utf-8" standalone="yes"?><rss version="2.0" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"><channel><title>Tangerang Setu on Portal Cikayasa</title><link>https://cikayasa.com/tags/tangerang-setu/</link><description>Recent content in Tangerang Setu on Portal Cikayasa</description><generator>Hugo -- gohugo.io</generator><language>id-id</language><lastBuildDate>Fri, 16 Oct 2026 16:00:00 +0700</lastBuildDate><atom:link href="https://cikayasa.com/tags/tangerang-setu/index.xml" rel="self" type="application/rss+xml"/><item><title>Wabah Muntaber Massal Serang 145 Warga Serpong Lagoon, Air Komplek Positif Bakteri E. coli</title><link>https://cikayasa.com/p/wabah-muntaber-massal-serpong-lagoon-145-warga-positif-ecoli/</link><pubDate>Fri, 16 Oct 2026 16:00:00 +0700</pubDate><guid>https://cikayasa.com/p/wabah-muntaber-massal-serpong-lagoon-145-warga-positif-ecoli/</guid><description>&lt;img src="https://cikayasa.com/p/wabah-muntaber-massal-serpong-lagoon-145-warga-positif-ecoli/cover.jpg" alt="Featured image of post Wabah Muntaber Massal Serang 145 Warga Serpong Lagoon, Air Komplek Positif Bakteri E. coli" /&gt;&lt;p&gt;Sedikitnya 145 warga Perumahan Serpong Lagoon, Kelurahan Keranggan, Kecamatan Setu, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Banten, dilaporkan mengalami muntah dan diare (muntaber) sejak pertengahan September 2026. Dinas Kesehatan Kota Tangsel memastikan air yang mengalir ke rumah-rumah warga positif terkontaminasi bakteri E. coli, dan mayoritas korban adalah anak-anak.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Peristiwa ini bermula dari aduan warga ke kader Puskesmas Keranggan pada 16 September 2026 bahwa air yang masuk ke rumah mereka berwarna keruh. Petugas kemudian mengambil tiga sampel air, dua dari rumah warga di Blok A dan Blok B1, serta satu dari toren Instalasi Pengolahan Air (IPA) yang kini dikelola PT Arfa Putra Soegama sebagai penjual air. Keluhan serupa kembali mencuat pada Rabu, 7 Oktober 2026 sekitar pukul 20.00 WIB, ketika sejumlah warga melaporkan demam, diare, mual, dan muntah hampir bersamaan di beberapa RT.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Lonjakan Kasus dalam Hitungan Hari&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Keesokan harinya, jumlah warga yang mengeluhkan gangguan pencernaan melonjak menjadi 27 orang. Dinas Kesehatan Kota Tangsel bersama Puskesmas Keranggan lalu melakukan penyelidikan epidemiologi pada 9 Oktober 2026, dengan mengunjungi rumah warga terdampak, mewawancarai responden, sekaligus mengedarkan kuesioner digital dan memberikan pengobatan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Sehari kemudian, angkanya melompat drastis menjadi 137 orang, dan terus bertambah hingga menyentuh 145 warga. Sebanyak 58 orang tercatat sebagai pasien rujukan Puskesmas Keranggan. Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kota Tangsel, Fitria Oriza, menyebut sebagian besar korban adalah anak-anak. Rinciannya, 35 pasien berusia kurang dari 5 tahun, 20 orang berusia 5-17 tahun, dan 13 orang dewasa. Dari sisi jenis kelamin, 64,7 persen perempuan dan 35,3 persen laki-laki. &amp;ldquo;Hingga saat ini infonya masih ada anak-anak yang menjalani rawat inap di Eka Hospital,&amp;rdquo; ujar Fitria.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Bayar Rp900 Ribu per Bulan, Air Keruh dan Anak diopname&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Bagi warga seperti Fai Faza, penghuni Cluster Flamengo Blok F, keluhan ini terasa sangat berat karena tagihan air yang harus mereka bayar tidak murah. Rumah seluas 105 meter persegi yang ia tempati selama 11 tahun itu membayar iuran pengelolaan lingkungan (IPL) dan pasokan air dalam satu paket. &amp;ldquo;Contoh saya di bulan ini bayar Rp1,2 juta dengan detailnya air sekitar 900 ribuan, 300 IPL-nya,&amp;rdquo; ujarnya.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Uang sebesar itu, kata Faza, tidak sebanding dengan kualitas air yang diterima. Kompleks yang dibangun developer PT Cahaya Subur Lestari dan BSA Land ini menerapkan sistem paket, sehingga iuran pengelolaan lingkungan dan biaya air digabung dalam satu tagihan yang terus naik tiap tahun. Anaknya sempat terserang muntaber dan harus diopname empat hari tiga malam di rumah sakit. &amp;ldquo;Terutama kita yang sudah keluar biaya sendiri untuk berobat anak-anak. Penyakit muntaber waktu penyelesaiannya tidak singkat, tapi akan kontrol-kontrol khusus lagi untuk pencernaan anak,&amp;rdquo; kata Faza sambil menahan emosi.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Yang lebih menyakitkan bagi warga adalah sikap pengelola. Menurut Faza, perusahaan yang mengelola jaringan air berbayar di kawasan itu hanya diam ketika pelanggannya jatuh sakit. &amp;ldquo;Enggak ada kata maaf dari mereka,&amp;rdquo; ujarnya.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Desakan Wakil Wali Kota Tangsel&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Kasus ini memantik emosi Wakil Wali Kota Tangerang Selatan, Pilar Saga Ichsan, saat menemui warga dan pengelola di lokasi pada Kamis, 15 Oktober 2026. Politikus Partai Golkar itu menegaskan pengelola wajib memperbaiki jaringan pipa ke rumah warga serta membersihkan instalasi pengolahan air. Selama perbaikan berjalan, pengelola juga diminta menyiapkan pasokan air bersih alternatif untuk kebutuhan sehari-hari warga.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&amp;ldquo;Kalo anak saya yang kena muntaber, saya pasti bakal tuntut,&amp;rdquo; kata Pilar bernada tinggi. Ia bahkan menyebut siap menggelontorkan dana besar hanya untuk memenjarakan pihak yang bertanggung jawab andai kasus ini menimpa keluarganya sendiri. Pilar juga menyinggung soal baku mutu air bersih yang menetapkan ambang batas bakteri E. coli pada angka nol, dan meminta pengelola mempertimbangkan perpindahan sumber air dari lokasi yang selama ini dipakai.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Di hadapan warga yang menuntut keadilan, perwakilan pengelola air berdiam diri. Seorang perempuan selaku bos PT Arfa Putra Soegama akhirnya menyampaikan permohonan maaf kepada warga pelanggan dan jajaran Wakil Wali Kota Tangsel, sekaligus berjanji melakukan perbaikan teknis. Di lapangan, warga menunjukkan air baru mereka yang masih berwarna keruh, sementara lokasi kubangan bekas galian pasir diduga menjadi sumber distribusi air untuk kompleks tersebut.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Apa yang Perlu Dilakukan Warga&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Wabah ini mengingatkan pentingnya pengawasan kualitas air bersih di perumahan, terutama yang dikelola pihak swasta. Di Tangerang Raya sendiri, kasus serupa pernah muncul saat musim kemarau ketika sejumlah perumahan beralih ke sumber air alternatif. Perbedaannya, kali ini warga sudah membayar mahal dan tetap menerima air yang justru membahayakan keluarga mereka.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Warga diimbau memasak air sebelum dikonsumsi, mencuci tangan dengan sabun, dan segera memeriksakan diri ke puskesmas terdekat bila mengalami diare lebih dari dua hari, terutama pada balita dan lansia. Sementara bagi pengelola, transparansi hasil uji laboratorium menjadi langkah awal memulihkan kepercayaan warga. Pemerintah Kota Tangsel juga perlu memastikan hasil uji sampel air secara berkala dipublikasikan, bukan hanya ditangani setelah ada warga yang jatuh sakit secara massal.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Sumber: &lt;a class="link" href="https://kabar6.com/kronologis-wabah-muntaber-serang-warga-serpong-lagoon-tangsel/" target="_blank" rel="noopener"
 &gt;Kabar6&lt;/a&gt; | &lt;a class="link" href="https://kabar6.com/beli-air-rp900-ribu-sebulan-warga-serpong-lagoon-tangsel-kena-muntaber/" target="_blank" rel="noopener"
 &gt;Kabar6&lt;/a&gt; | &lt;a class="link" href="https://kabar6.com/muntaber-massal-pilar-saga-sebut-penjarakan-penjual-air-di-serpong-lagoon/" target="_blank" rel="noopener"
 &gt;Kabar6&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</description></item></channel></rss>