<?xml version="1.0" encoding="utf-8" standalone="yes"?><rss version="2.0" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"><channel><title>Wilayah 3T on Portal Cikayasa</title><link>https://cikayasa.com/tags/wilayah-3t/</link><description>Recent content in Wilayah 3T on Portal Cikayasa</description><generator>Hugo -- gohugo.io</generator><language>id-id</language><lastBuildDate>Fri, 09 Oct 2026 20:00:00 +0700</lastBuildDate><atom:link href="https://cikayasa.com/tags/wilayah-3t/index.xml" rel="self" type="application/rss+xml"/><item><title>Protelindo Gandeng World Mobile Hadirkan Sinyal 4G/5G dari Stratosfer, Incar Wilayah 3T Indonesia</title><link>https://cikayasa.com/p/protelindo-world-mobile-sinyal-4g-5g-stratosfer-indonesia/</link><pubDate>Fri, 09 Oct 2026 20:00:00 +0700</pubDate><guid>https://cikayasa.com/p/protelindo-world-mobile-sinyal-4g-5g-stratosfer-indonesia/</guid><description>&lt;img src="https://cikayasa.com/p/protelindo-world-mobile-sinyal-4g-5g-stratosfer-indonesia/cover.jpg" alt="Featured image of post Protelindo Gandeng World Mobile Hadirkan Sinyal 4G/5G dari Stratosfer, Incar Wilayah 3T Indonesia" /&gt;&lt;p&gt;Indonesia punya lebih dari 17 ribu pulau, dan tidak semuanya bisa dijangkau menara telekomunikasi atau kabel serat optik. Lewat perjanjian eksklusif yang diteken PT Profesional Telekomunikasi Indonesia (Protelindo) bersama Combined Space Technology Limited (CST) alias World Mobile Stratospheric, sinyal 4G dan 5G kini dirancang dipancarkan bukan dari menara di daratan, melainkan dari pesawat yang terbang di lapisan stratosfer.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Perjanjian itu membuat Protelindo menjadi mitra operasional tunggal di Indonesia dengan hak komersial eksklusif untuk menggunakan, mengoperasikan, sekaligus menjual layanan teknologi pesawat &lt;em&gt;high-altitude platform&lt;/em&gt; (HAP) milik World Mobile. Sasaran utamanya adalah pulau-pulau terpencil serta wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) yang selama ini jadi titik buta jaringan.&lt;/p&gt;
&lt;h2 id="apa-itu-konektivitas-dari-stratosfer"&gt;Apa Itu Konektivitas dari Stratosfer?
&lt;/h2&gt;&lt;p&gt;Istilah &lt;em&gt;high-altitude platform station&lt;/em&gt; (HAPS) merujuk pada wahana yang beroperasi di lapisan stratosfer — jauh lebih tinggi dari pesawat komersial, tapi jauh lebih rendah dari satelit. Dari ketinggian itu, wahana bertindak seperti menara BTS raksasa yang melayang di udara.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Pendekatan ini bukan barang baru di peta teknologi global. Sejumlah negara sudah mengujinya untuk menutup celah konektivitas di daerah yang secara ekonomi tidak masuk akal dibangun menara. Persoalannya klasik: membangun BTS di pulau berpenduduk sedikit atau di lembah terisolasi butuh biaya besar, sementara jumlah pelanggan yang bisa dilayani kecil. Investasi tidak kembali dalam waktu wajar.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;HAPS menawarkan jalan tengah. Alih-alih membangun menara permanen di lokasi yang tidak ekonomis, operator bisa mengirim wahana udara yang memancarkan sinyal ke area luas, lalu memindahkannya ketika kebutuhan berubah.&lt;/p&gt;
&lt;h2 id="stratomast-pesawat-hidrogen-di-60-ribu-kaki"&gt;Stratomast: Pesawat Hidrogen di 60 Ribu Kaki
&lt;/h2&gt;&lt;p&gt;Teknologi inti yang akan menggerakkan proyek ini bernama Stratomast. Ini pesawat stratosfer otonom bertenaga hidrogen yang dirancang terbang di ketinggian 60 ribu kaki atau sekitar 20 ribu meter.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Spesifikasinya terbilang ambisius. Bentang sayapnya sekitar 56 meter — setara dengan sayap pesawat kelas Boeing 787 — dan mampu membawa muatan hingga sekitar 500 kilogram. Dayanya berasal dari hidrogen cair yang disimpan pada suhu minus 235 derajat Celsius, menghasilkan pembangkit listrik hingga 100 kilowatt. Karena bahan bakarnya hidrogen, emisi yang keluar hanya berupa air.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Dari sisi performa, World Mobile menargetkan kecepatan unduh hingga 200 Mbps dan unggah 100 Mbps. Sebelumnya, teknologi ini diklaim sudah mendemonstrasikan kecepatan 90 Mbps dalam uji coba nyata bersama BT dan MOD di Inggris.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Satu hal yang membedakannya dari satelit: Stratomast memancarkan sinyal 4G dan 5G langsung ke ponsel standar. Artinya, warga tidak perlu membeli perangkat khusus, parabola, atau kartu SIM baru. Sinyal itu hanya menempuh jarak sekitar 20 kilometer menuju daratan, jauh lebih dekat dibanding rata-rata 550 kilometer yang harus dilalui sinyal dari konstelasi satelit orbit rendah (LEO).&lt;/p&gt;
&lt;h2 id="beda-dengan-satelit-dan-menara-bts"&gt;Beda dengan Satelit dan Menara BTS
&lt;/h2&gt;&lt;p&gt;Selama ini ada dua cara utama menghadirkan internet ke daerah terpencil: menara darat dan satelit. Menara darat murah dioperasikan tapi mahal dibangun di lokasi sulit. Satelit LEO seperti Starlink menjangkau hampir semua tempat, tetapi butuh terminal khusus yang harganya tidak kecil bagi rumah tangga biasa.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;World Mobile memposisikan HAPS sebagai ekstensi jaringan, bukan pengganti. Model operasinya dirancang berjalan berdampingan dengan operator seluler yang sudah ada di Indonesia. Dengan begitu, operator bisa memperluas cakupan ke area &lt;em&gt;blank spot&lt;/em&gt; tanpa harus menanggung belanja modal pembangunan infrastruktur darat yang tidak rasional.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&amp;ldquo;Sebagai perusahaan yang membangun infrastruktur menara di Indonesia, kami tahu persis di mana menara darat bisa dibangun dan di mana batas ekonomisnya,&amp;rdquo; ujar perwakilan Protelindo. &amp;ldquo;Kemitraan eksklusif atas teknologi stratosfer ini memungkinkan kami melayani setiap pulau terpencil dan wilayah 3T yang tidak pernah bisa dijangkau infrastruktur darat biasa.&amp;rdquo;&lt;/p&gt;
&lt;h2 id="rekam-jejak-world-mobile"&gt;Rekam Jejak World Mobile
&lt;/h2&gt;&lt;p&gt;World Mobile bukan pemain baru di bidang konektivitas udara. Pada 2023, perusahaan ini meluncurkan aerostat telekomunikasi komersial pertama di Afrika, di Mozambik. Alat itu berupa balon yang ditambatkan 300 meter di atas Sungai Limpopo dan memancarkan sinyal seluler ke radius sekitar 130 kilometer.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Dari pengalaman itu, World Mobile Stratospheric dikembangkan sebagai langkah lanjutan. Perusahaan ini juga sudah bergabung dengan HAPS Alliance, koalisi internasional yang menyusun standar, kebijakan spektrum, dan kerangka regulasi bagi pemanfaatan stratosfer sebagai lapisan konektivitas.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Untuk menguji antena &lt;em&gt;phased-array&lt;/em&gt; miliknya di kondisi udara nyata, World Mobile Stratospheric membeli pesawat Britten-Norman Islander. Uji terbang dijadwalkan berjalan sebelum operasi stratosfer skala penuh dimulai.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&amp;ldquo;Indonesia memiliki 17 ribu pulau, dan semuanya tidak dapat dijangkau dengan menara telekomunikasi atau serat optik,&amp;rdquo; kata CEO World Mobile Group, Micky Watkins. &amp;ldquo;Bagi masyarakat di wilayah terpencil, konektivitas membuka akses terhadap pendidikan, layanan kesehatan, dan peluang ekonomi.&amp;rdquo;&lt;/p&gt;
&lt;h2 id="relevansi-untuk-tangerang-raya-dan-banten"&gt;Relevansi untuk Tangerang Raya dan Banten
&lt;/h2&gt;&lt;p&gt;Di Tangerang Raya, sebagian besar warga memang sudah menikmati sinyal 4G dan 5G yang memadai. Tapi jangan lupa, Kabupaten Tangerang punya wilayah yang masih bergantung pada menara darat — dari desa-desa di Kecamatan Solear dan Cisauk seperti Cikasungka dan Adiyasa, hingga kawasan pesisir utara di Teluknaga, Pakuhaji, dan Kronjo.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Persoalan di wilayah seperti itu bukan selalu soal ada atau tidak ada sinyal, melainkan kualitas jaringan yang naik-turun, terutama saat jam sibuk atau cuaca buruk. Skema HAPS bisa jadi lapisan cadangan ketika jaringan darat kewalahan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Yang tak kalah penting, teknologi ini menyentuh langsung agenda digitalisasi UMKM. Selama ini pelaku usaha kecil di daerah pinggiran kerap tertinggal karena koneksi tidak stabil saat harus bertransaksi lewat QRIS, memasarkan produk di media sosial, atau mengurus perizinan daring. Jika konektivitas membaik, hambatan itu ikut menyusut.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Bagi Banten secara keseluruhan, kehadiran skema ini juga relevan untuk kawasan 3T di selatan provinsi, termasuk kantong-kantong permukiman terpencil yang selama ini sulit dijangkau infrastruktur darat.&lt;/p&gt;
&lt;h2 id="tantangan-yang-masih-menanti"&gt;Tantangan yang Masih Menanti
&lt;/h2&gt;&lt;p&gt;Meski terdengar menjanjikan, jalan menuju komersialisasi belum mulus. Ada beberapa pekerjaan rumah yang harus dibereskan lebih dulu.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Pertama, soal spektrum. Pemanfaatan stratosfer untuk layanan seluler komersial bergantung pada kerangka regulasi dan alokasi frekuensi yang belum sepenuhnya rampung, baik di tingkat global maupun nasional. Inilah salah satu alasan World Mobile bergabung dengan HAPS Alliance.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Kedua, soal biaya. Belum ada angka resmi berapa tarif layanan ini nanti. Protelindo menyebut model bisnisnya dirancang agar operator bisa melayani area &lt;em&gt;blank spot&lt;/em&gt; secara menguntungkan, tetapi ujian sebenarnya ada di lapangan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Ketiga, soal waktu. Uji terbang pesawat masih berjalan, dan operasi stratosfer skala penuh baru akan menyusul. Artinya, warga di wilayah 3T masih harus bersabar sebelum benar-benar merasakan sinyal dari langit.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Yang jelas, arahnya sudah terlihat. Ketika menara darat dan satelit punya batas masing-masing, stratosfer masuk sebagai lapisan ketiga dalam peta konektivitas Indonesia. Kalau berhasil, dampaknya bukan cuma soal kecepatan internet, tapi soal siapa saja yang akhirnya ikut terhubung.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Sumber: &lt;a class="link" href="https://www.tempo.co/sains/protelindo-dan-world-mobile-akan-hadirkan-solusi-konektivitas-stratosfer-untuk-indonesia-2287532" target="_blank" rel="noopener"
 &gt;Tempo&lt;/a&gt; dan &lt;a class="link" href="https://worldmobile.io/blog/post/another-leap-skyward-world-mobile-stratospheric-joins-the-haps-alliance" target="_blank" rel="noopener"
 &gt;World Mobile&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</description></item></channel></rss>